Selasa, 27 Oktober 2020

KESAKTIAN KALIMAT



Kalimat merupakan aktualisasi dari ilmu yang dimiliki oleh seseorang. Substansi kalimat dapat dibagi menjadi 2 yakni kebenaran dan kebathilan. Kalimat kebenaran keluar dari mulut seseorang jelas sanad keilmuannya dan mendapatkan nur dari Allah. Sebaliknya kalimat yang bathil lazimnya keluar dari seseorang yang di penuhi dengan hawa nafsu keduniaan. Apa yang disampaikan disandarkan atas dirinya sendiri bukan lagi kepada Tuhan-Nya.

Kalimat yang telah diperdengarkan kepada orang lain memiliki pengaruh besar bagi semua aspek kehidupannya. Maka menjadi penting membawa diri ini berada pada lingkungan yang kondusif. Bahkan intensitasnya harus terus ditingkatkan seirama dengan semakin kompleksnya problematika kehidupan. Lingkungan yang kondusif akan mentransformasi ilmu-ilmu yang haq kepada siapapun yang berada disekitarnya, demikian sebaliknya.

Ter-instal-nya kalimat-kalimat yang mengandung kebenaran tidak hanya mempengaruh pola pikir namun juga cara berperilaku. Sebab apa yang disampaikan biasanya itu yang diyakini dan apa yang diyakini itu yang dilakukan.

Kemampuan dalam mentransformasi kalimat yang haq tidak hanya berpengaruh besar bagi dirinya sendiri tetapi juga orang sekitarnya. Kemungkinan itu selalu ada, sebab orang memiliki kecenderungan untuk membuat lawan bicara terpengaruh. Sebagaimana penjelasan Gus Baha dalam ngajinya saat nabi Musa a.s berdialog dengan fir'aun tentang tauhid. Meskipun saat itu Fir'aun tetap bersikukuh bahwa dia tetap tuhan dibumi, namun disisi lain banyak orang yang timbul keyakinan dalam hatinya. Walaupun tidak berani mengungkapkan secara langsung.  

Berangkat dari titik ini jelas kiranya, bila kalimat baik yang terucap hal itu menjadi investasi kebaikan bagi kehidupannya. Namun, bila sebaliknya maka sungguh dalam kerugian.  

Tulungagung, 28 Oktober 2020.

Selasa, 06 Oktober 2020

WAKTU IBARAT PEDANG




 “Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan Jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan” (Imam Syafi’i)

Kalimat diatas memberikan peringatan tegas tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Waktu yang Allah karuniakan hari ini tidak akan terulang. Waktu akan terus berjalan sesuai dengan sunatullah.

Ada sebuah pepatah yang menyatakan “times is money”. Ini mengindikasikan betapa berharganya waktu.

Pemanfaatan waktu dengan tepat akan memberikan kontribusi dalam setiap perjalanan hidup. Sebaliknya, waktu akan menjadi mesih pembunuh yang ampuh bila kita lengah.

Hasan Basri juga menyatakan

“ Wahai manusia, sesuangguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.

Kesempatan tidak akan datang dua kali. Sudah menjadi sebuah keharusan setiap yang ada didepan mata harus dimanfaatkan. Setiap detik dari waktu kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Beruntung memang bagi orang-orang yang tidak terlena dengan nikmat waktu luang. Rasulullah bersabda :

Dua nikmat yang banyak manusia tertipu didalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah.)

Abdul Fattah bin Muhammad dalam Qimatuz Zama ‘Indal ‘Ulama menjelaskan, kata tertipu’ dalam hadits diatas memiliki makna merugi. Banyak manusia berada dalam kerugian nikmat waktu yang diberikan telah disiakan-siakan. Nikmat waktu yang begitu banyak dikaruniakan dibiarkan berlalu begitu saja.

Setiap manusia mendapatkan jatah waktu dalam sehari dalam jurmlah yang sama yakni 24 jam. Pertanyaan yang kemudian muncul, mengapa capaiannya begitu beragam? Jawabannya terletak pada pemanfaatan waktu yang berbeda.

Orang yang ketat sekali dalam mengatur waktunya ia akan mencapai keberhasilan sebagai manusia hakiki. Banyaknya hal yang harus diselesaikan setiap harinya justru semakin konsisten dalam hal mengatur waktu. Semua pekerjaan selesai dalam waktu yang tepat. Tepat sekali dengan adanya ungkapan “berikanlah pekerjaan kepada orang yang sibuk”.

Lain hal dengan orang yang memiliki sedikit beban pekerjaan. Orang seperti ini cenderung menunda pekerjaan. Ia berfikir masih ada hari lain. Nanti sajalah. Ujuang-ujungnya sudah mendekati deadline. Pekerjaan yang sudah dikejar deadline biasanya dikerjakan asal-asalan. Yang penting jadi. Mengapa hal ini terjadi? sebab, tidak cukup waktu untuk mencari bahan dan menelaah kembali. Apalagi membuat rencana. Tentu tidak mungkin. Bisa selesai saja sudah untung.  

 

 

Minggu, 04 Oktober 2020

Antara Kebutuhan dan Gaya Hidup

 

Sering kali kita kabur dalam memaknai antara kebutuhan hidup dan gaya hidup. Akibatnya merasa berat dalam menjalaninya.

Benarkah hidup mahal?

Jawabannya bisa iya namun bisa juga tidak. 

Semua tergantung perspektif yang dibangun. Kembali kepada ilmu hakekat menjadi salah satu kuncinya.

Kebutuhan hidup pada awalnya hanya sandang, pangan dan papan. Seiring dengan perubahan zaman terjadi penambahan berupa transportasi,  komunikasi dan rekreasi. Kebutuhan hidup tersebut sebetulnya dapat dipenuhi dengan biaya yang murah.

Sandang, kembalikan kepada tujuan utama yakni menutup aurat. Pakaian yang menutup aurat bisa didapatkan dengan harga yang murah. Lain hal bila yang dikejar trend. Pakai yang sedang ngetrend tentu dibanderol harga yang lebih mahal. Bisa saja berdalih pakaian mahal lebih nyaman dipakai. Saya kira hal itu hanya soal kebiasaan saja.

Papan, hakekat tempat tinggal adalah berlindung dari terik matahari dan hujan. Rumah merupakan tempat istirahat setelah bekerja. Rumah hanyalah tempat berteduh.

Rumah bisa saja dibangun dengan prinsip-prinsip kesederhanaan. Maknanya, untuk membuat rumahku adalah surgaku tidak harus terlihat mewah. Namun, lebih kepada terwujudnya keluarga yang sakinah, mawadah dan warrohmah. Seluruh anggota keluarga saling menyayangi satu sama lain. Anak taat dan patuh pada orang tua. Orang tua menyayangi anak-anaknya.  Istri melayani suaminya. Suami yang selalu mengayomi istrinya. Lantunan kalimah thoyibah sering diperdengarkan.

Rumah mewah bukan jaminan seorang suami ingin cepet-cepet pulang setelah bekerja. Anak-anak betah dirumah dan lain sebagainya.

Pangan, bicara soal makanan dan minuman yang perlu menjadi titik fokus bukan lagi pada soal rasa ataupun gaya. Makanan dan minunam sehat tidak harus mahal. Banyak yang bagus bagi tubuh dapat diperoleh dengan harga murah. Jangan sampai enak yang dikonsumsi berakibat buruk bagi kesehatan.

Selain itu, perlu diperhatikan juga kadar ke halalannya. Halal dikonsumsi harus tetap menjadi titik perhatian. Sebab dalam Islam tidak semua makanan dan minuman halal untuk dikonsumsi.

Saat ini Transportasi, komunikasi dan rekreasi memang menjadi kebutuhan dasar hidup manusia. Tanpa kehadiran ketiganya hidup terasa ada yang kurang. Namun bukan berarti dalam pemenuhan ketiga membutuhkan biaya yang besar.

Transportasi, alat transportasi saat ini sudah begitu banyak jenisnya. Alat transportasi tidak harus dimiliki namun bisa saja hanya menyewa atau yang lain. Saat ini banyak sekali alat transportasi publik dengan harga terjangkau. Orang cukup menggunakan jasa transportasi baik offline atau online.

Komunikasi, perkembangan teknologi informasi yang luar biasa membuat semua orang membutuhkannya. Alat komunikasi banyak dimanfaatkan baik dalam pendidikan, pekerjaan, jalinan sosial dan lain sebagainya.

Begitu banyak alat komunikasi dengan harga yang murah, namun dilengkapi dengan fasilitas lengkap. Dalam pembelian alat komunikasi memang harus kembali kepada kebutuhan bukan pada trend. Jika trend yang dikejar tentu butuh merogoh kocek banyak untuk membelinya.

Rekreasi, media rekreasi sudah begitu variatif. Begitu banyak ditawarkan kemudahan dan kemurahan. Orang tidak perlu lagi datang ke lokasi misalkan ingin menikmati wahana wisata tertentu. Semuanya bisa dinikmati dari tempat yang jauh serta dalam dimensi waktu yang berbeda.

Upaya kembali kepada paradigma lama menjadi hal yang tak bisa tawar lagi.  Paradigma lama sudah mapan dengan prinsip-prinsip positif yang dibawanya. 

Kalau bisa murah, mengapa harus mahal?