Selasa, 06 Oktober 2020

WAKTU IBARAT PEDANG




 “Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan Jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan” (Imam Syafi’i)

Kalimat diatas memberikan peringatan tegas tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Waktu yang Allah karuniakan hari ini tidak akan terulang. Waktu akan terus berjalan sesuai dengan sunatullah.

Ada sebuah pepatah yang menyatakan “times is money”. Ini mengindikasikan betapa berharganya waktu.

Pemanfaatan waktu dengan tepat akan memberikan kontribusi dalam setiap perjalanan hidup. Sebaliknya, waktu akan menjadi mesih pembunuh yang ampuh bila kita lengah.

Hasan Basri juga menyatakan

“ Wahai manusia, sesuangguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.

Kesempatan tidak akan datang dua kali. Sudah menjadi sebuah keharusan setiap yang ada didepan mata harus dimanfaatkan. Setiap detik dari waktu kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Beruntung memang bagi orang-orang yang tidak terlena dengan nikmat waktu luang. Rasulullah bersabda :

Dua nikmat yang banyak manusia tertipu didalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah.)

Abdul Fattah bin Muhammad dalam Qimatuz Zama ‘Indal ‘Ulama menjelaskan, kata tertipu’ dalam hadits diatas memiliki makna merugi. Banyak manusia berada dalam kerugian nikmat waktu yang diberikan telah disiakan-siakan. Nikmat waktu yang begitu banyak dikaruniakan dibiarkan berlalu begitu saja.

Setiap manusia mendapatkan jatah waktu dalam sehari dalam jurmlah yang sama yakni 24 jam. Pertanyaan yang kemudian muncul, mengapa capaiannya begitu beragam? Jawabannya terletak pada pemanfaatan waktu yang berbeda.

Orang yang ketat sekali dalam mengatur waktunya ia akan mencapai keberhasilan sebagai manusia hakiki. Banyaknya hal yang harus diselesaikan setiap harinya justru semakin konsisten dalam hal mengatur waktu. Semua pekerjaan selesai dalam waktu yang tepat. Tepat sekali dengan adanya ungkapan “berikanlah pekerjaan kepada orang yang sibuk”.

Lain hal dengan orang yang memiliki sedikit beban pekerjaan. Orang seperti ini cenderung menunda pekerjaan. Ia berfikir masih ada hari lain. Nanti sajalah. Ujuang-ujungnya sudah mendekati deadline. Pekerjaan yang sudah dikejar deadline biasanya dikerjakan asal-asalan. Yang penting jadi. Mengapa hal ini terjadi? sebab, tidak cukup waktu untuk mencari bahan dan menelaah kembali. Apalagi membuat rencana. Tentu tidak mungkin. Bisa selesai saja sudah untung.  

 

 

2 komentar:

  1. Imam Ghzali membagi waktu menjadi 3 bagian.. 8 jam untuk ibadah. 8 jam untuk bekerja. 8 jam untuk istirahat..
    Tulisan yang menarik dan bagus

    BalasHapus