“Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan Jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan” (Imam Syafi’i)
Kalimat diatas memberikan peringatan
tegas tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Waktu yang Allah karuniakan hari
ini tidak akan terulang. Waktu akan terus berjalan sesuai dengan sunatullah.
Ada sebuah pepatah yang menyatakan “times
is money”. Ini mengindikasikan betapa berharganya waktu.
Pemanfaatan waktu dengan tepat akan
memberikan kontribusi dalam setiap perjalanan hidup. Sebaliknya, waktu akan
menjadi mesih pembunuh yang ampuh bila kita lengah.
Hasan Basri juga menyatakan
“ Wahai manusia, sesuangguhnya
kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari hilang, maka akan hilang
pula sebagian dirimu.
Kesempatan tidak
akan datang dua kali. Sudah menjadi sebuah keharusan setiap yang ada didepan
mata harus dimanfaatkan. Setiap detik dari waktu kita kelak akan dimintai
pertanggungjawaban. Beruntung memang bagi orang-orang yang tidak terlena dengan
nikmat waktu luang. Rasulullah bersabda :
“Dua nikmat yang banyak manusia
tertipu didalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari,
Tirmidzi, dan Ibnu Majah.)
Abdul Fattah bin Muhammad dalam
Qimatuz Zama ‘Indal ‘Ulama menjelaskan, kata tertipu’ dalam hadits
diatas memiliki makna merugi. Banyak manusia berada dalam kerugian nikmat waktu
yang diberikan telah disiakan-siakan. Nikmat waktu yang begitu banyak dikaruniakan
dibiarkan berlalu begitu saja.
Setiap manusia mendapatkan jatah
waktu dalam sehari dalam jurmlah yang sama yakni 24 jam. Pertanyaan yang
kemudian muncul, mengapa capaiannya begitu beragam? Jawabannya terletak pada
pemanfaatan waktu yang berbeda.
Orang yang ketat sekali dalam
mengatur waktunya ia akan mencapai keberhasilan sebagai manusia hakiki. Banyaknya
hal yang harus diselesaikan setiap harinya justru semakin konsisten dalam hal
mengatur waktu. Semua pekerjaan selesai dalam waktu yang tepat. Tepat sekali dengan
adanya ungkapan “berikanlah pekerjaan kepada orang yang sibuk”.
Lain hal dengan orang yang memiliki
sedikit beban pekerjaan. Orang seperti ini cenderung menunda pekerjaan. Ia berfikir
masih ada hari lain. Nanti sajalah. Ujuang-ujungnya sudah mendekati deadline.
Pekerjaan yang sudah dikejar deadline biasanya dikerjakan asal-asalan.
Yang penting jadi. Mengapa hal ini terjadi? sebab, tidak cukup waktu untuk mencari
bahan dan menelaah kembali. Apalagi membuat rencana. Tentu tidak mungkin. Bisa selesai
saja sudah untung.

Imam Ghzali membagi waktu menjadi 3 bagian.. 8 jam untuk ibadah. 8 jam untuk bekerja. 8 jam untuk istirahat..
BalasHapusTulisan yang menarik dan bagus
Mantab tulisannya sarat ilmu
BalasHapus