Kamis, 18 Maret 2021

Meretas Toleransi Otentik

 


Indonesia merupakan zamrud keberagaman (Henry Thomas Simamarta, 2017). Keragaman bangsa ini dapat dilihat dari berbagai sisi baik agama, ras, suku, dan bahasa. Realitas ini jelas tidak dimiliki oleh bangsa diluar sana. Luasnya wilayah, panjangnya bentangan, dan banyaknya pulau di Indonesia menjadi daya dukung tersendiri.

Keberagaman merupakan ketentuan dari Tuhan (Zuhairi Misrawi, 2015). Realitas ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang dan diikuti dengan perspektif yang melekat padanya. Setidaknya keberagaman ini dapat dilihat dari sudut pandang agama, sosial, politik, ekonomi. Masing kacamata sudut pandang berdiri teguh dengan kecenderungannya masing-masing dan kepentingan dari aktor.

Kembali kepada sunatullah bahwa dalam dunia ini ada dua sisi yang tidak dapat dipisahkan yakni positif dan negatif. Demikian juga berlaku realitas dalam mensikapi kebegaraman. Bila berangkat dari pemikiran yang sehat dan jernih serta komperehensif krealitas ini memiliki banyak sekali manfaat. Lain hal bila dilihat dari cara berfikir yang parsial maka yang muncul adalah dampak negatif. Pandangan negatif seperti ini, tidak akan berpengaruh besar bila tidak ada daya dukung dari luar yang memberikan wadah beraktualisasi. Sangat mungkin hanya berhenti pada pikiran-pikiran nakal. Namun, bila ada pihak luar yang melakukan framing kontranarasi dengan realitas. Ini yang akan memiliki dampak yang luas yakni rusaknya tatanan sosial keagamaan bahkan pada wilayah sosial politik keagamaan.

Berdasarkan uraian diatas, maka diperlukan sebuah toleransi otentik. Toleransi otentik terwujud dengan diawali kesadaran paling dalam bahwa keberagaman adalah cara Tuhan menunjukkan keagungan-Nya. Toleransi yang dimaksud adalah tidak bernuansa formal-transaksional dan Instrumental (Abdul Mu’ti, 2019).  Orientasi dari toleransi otentik bukan kepada sebuah pencitraan untuk meraih tujuan terselubung atau tidak seperti pepatah  “ada udang dibalik batu”. Toleransi seperti itu dapat disebut toleransi instrumental. Seseorang mewujudkan toleransi dalam komunitasnya bukan lagi karena koeksistensi sosiologis yang lebih banyak karena kepentingan praktis seperti sosial, ekonomi ataupun politik dan bukan pula bersifat ceremonial, superfisial ataupun periferal yang hanya mengucapkan selamat hari raya kepada pemeluk agama lain yang didasari rawa ewuh pakewuh bukan karena keimanan.

Demi mewujudkan toleransi otentik dalam kehidupan dibutuhkan lima sikap (Abdul Mu’ti, 2019). Pertama, tumbuh kesadaran adanya realitas perbedaan dalam agama dan keyakinan.  Kedua, memiliki keberanian mempelajari ilmu agama lain. Belajar disini bukan unutk menjadi agamawan, namun sebagai bentuk memahami perbedaan. Ketiga, menerima pemeluk agama lain. Wujudnya dapat berupa mengormati, dan pemeluk agama lain dengan tetap menghindari sinkretisme. Keempat, memberikan kesempatan dan memfasilitasi pemeluk agama lain dalam menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Bentuk yang lain berupa memberikan kesempatan pemeluk agama lain unutk mendirikan tempat ibadah mereka. Kelima, berkerjasama dalam sebuah titik temu ajaran dan nilai-nilai agama untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Wujud dari Kerjasama ini dapat berupa pencegahan korupsi, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, pengrusakan alam dan ekstremisme kekerasan.

                                                                                                                        Tulungagung, 19 Maret 2021

Senin, 30 November 2020

Aku Pergi untuk Kembali

     


Selama kurang lebih dua bulan terakhir aku tidak pernah menulis sama sekali. Bila pertanyaan yang muncul kemudian ada atau tidak keinginan? Tentu jawabnya selalu ada. Apalah daya, rutinitas baru sebagai mahasiswa semester awal membuat keadaan berubah total. Perubahan tersebut tentu saja membawa dampak bagi fisik dan psikologis. Pada sisi fisik berupa rasa capek dan pusing yang luar biasa. Kesehatan fisik harus tetap dijaga, jangan sampai jatuh sakit. Bila jatuh sakit tidak hanya akan berakibat buruk bagi perjalanan studi namun juga pekerjaan disisi yang lain. Secara psikologis ada tanggungjawab baru yang harus diselesaikan, yakni berupa peningkatan kualitas akademik. Kawan-kawan lain yang yang tidak berprofesi sebagai pengajar juga merasakan hal yang sama. Bahkan sangat mungkin beban mereka lebih berat, antara lain kesulitan mengikuti materi perkuliahan dan mencari referensi.

Ada sebuah tantangan tersendiri melanjutkan studi namun tetap bekerja. Satu sisi sebagai pengajar tentu sangat berkeinginan momen untuk meninggal ketertinggalan kualitas akademik, namun pada sisi yang lain juga harus tetap maksimal dalam menyelesaikan pekerjaan. Kedua target harus tetap berjalan seimbang. Bila pekerjaan dikalahkan tentu tidak baik buat masa depan. Lebih parah lagi bagaimana nanti pertenggungjawaban didepan pengadilan Allah. Seandainya studi tetap santai saja yang penting lulus dan dapat ijazah, tentu ada beban tersendiri. Bisa saja keseharian setelah lulus kuliah dilalui dengan rasa malu dan penyesalan. Malu merasa tidak pantas dan menyesal sebab tidak memanfaatkan kesempatan belajar dengan maksimal.

Berangkat dari ini semua maka terpaksa meninggalkan sang pujaan hati yakni, blog. Lama sekali blog ini tidak aku diisi dengan tulisan-tulisan dari rangkian ide yang aku miliki. Bahkan menengokpun tidak. Sungguh malang nasibmu wahai blog. Bersabarlah, aku pergi untuk sementara dan pasti kembali. Perlu engkau ketahui, kepergianku bukan lari dari kenyataan tapi untuk mencari bekal. Suatu saat nanti aku akan kembali dengan setumpuk referensi, segudang ide, dan rangkaian kalimat yang indah dan penuh arti. Aamiin

Selasa, 27 Oktober 2020

KESAKTIAN KALIMAT



Kalimat merupakan aktualisasi dari ilmu yang dimiliki oleh seseorang. Substansi kalimat dapat dibagi menjadi 2 yakni kebenaran dan kebathilan. Kalimat kebenaran keluar dari mulut seseorang jelas sanad keilmuannya dan mendapatkan nur dari Allah. Sebaliknya kalimat yang bathil lazimnya keluar dari seseorang yang di penuhi dengan hawa nafsu keduniaan. Apa yang disampaikan disandarkan atas dirinya sendiri bukan lagi kepada Tuhan-Nya.

Kalimat yang telah diperdengarkan kepada orang lain memiliki pengaruh besar bagi semua aspek kehidupannya. Maka menjadi penting membawa diri ini berada pada lingkungan yang kondusif. Bahkan intensitasnya harus terus ditingkatkan seirama dengan semakin kompleksnya problematika kehidupan. Lingkungan yang kondusif akan mentransformasi ilmu-ilmu yang haq kepada siapapun yang berada disekitarnya, demikian sebaliknya.

Ter-instal-nya kalimat-kalimat yang mengandung kebenaran tidak hanya mempengaruh pola pikir namun juga cara berperilaku. Sebab apa yang disampaikan biasanya itu yang diyakini dan apa yang diyakini itu yang dilakukan.

Kemampuan dalam mentransformasi kalimat yang haq tidak hanya berpengaruh besar bagi dirinya sendiri tetapi juga orang sekitarnya. Kemungkinan itu selalu ada, sebab orang memiliki kecenderungan untuk membuat lawan bicara terpengaruh. Sebagaimana penjelasan Gus Baha dalam ngajinya saat nabi Musa a.s berdialog dengan fir'aun tentang tauhid. Meskipun saat itu Fir'aun tetap bersikukuh bahwa dia tetap tuhan dibumi, namun disisi lain banyak orang yang timbul keyakinan dalam hatinya. Walaupun tidak berani mengungkapkan secara langsung.  

Berangkat dari titik ini jelas kiranya, bila kalimat baik yang terucap hal itu menjadi investasi kebaikan bagi kehidupannya. Namun, bila sebaliknya maka sungguh dalam kerugian.  

Tulungagung, 28 Oktober 2020.

Selasa, 06 Oktober 2020

WAKTU IBARAT PEDANG




 “Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan Jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan” (Imam Syafi’i)

Kalimat diatas memberikan peringatan tegas tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Waktu yang Allah karuniakan hari ini tidak akan terulang. Waktu akan terus berjalan sesuai dengan sunatullah.

Ada sebuah pepatah yang menyatakan “times is money”. Ini mengindikasikan betapa berharganya waktu.

Pemanfaatan waktu dengan tepat akan memberikan kontribusi dalam setiap perjalanan hidup. Sebaliknya, waktu akan menjadi mesih pembunuh yang ampuh bila kita lengah.

Hasan Basri juga menyatakan

“ Wahai manusia, sesuangguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.

Kesempatan tidak akan datang dua kali. Sudah menjadi sebuah keharusan setiap yang ada didepan mata harus dimanfaatkan. Setiap detik dari waktu kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Beruntung memang bagi orang-orang yang tidak terlena dengan nikmat waktu luang. Rasulullah bersabda :

Dua nikmat yang banyak manusia tertipu didalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah.)

Abdul Fattah bin Muhammad dalam Qimatuz Zama ‘Indal ‘Ulama menjelaskan, kata tertipu’ dalam hadits diatas memiliki makna merugi. Banyak manusia berada dalam kerugian nikmat waktu yang diberikan telah disiakan-siakan. Nikmat waktu yang begitu banyak dikaruniakan dibiarkan berlalu begitu saja.

Setiap manusia mendapatkan jatah waktu dalam sehari dalam jurmlah yang sama yakni 24 jam. Pertanyaan yang kemudian muncul, mengapa capaiannya begitu beragam? Jawabannya terletak pada pemanfaatan waktu yang berbeda.

Orang yang ketat sekali dalam mengatur waktunya ia akan mencapai keberhasilan sebagai manusia hakiki. Banyaknya hal yang harus diselesaikan setiap harinya justru semakin konsisten dalam hal mengatur waktu. Semua pekerjaan selesai dalam waktu yang tepat. Tepat sekali dengan adanya ungkapan “berikanlah pekerjaan kepada orang yang sibuk”.

Lain hal dengan orang yang memiliki sedikit beban pekerjaan. Orang seperti ini cenderung menunda pekerjaan. Ia berfikir masih ada hari lain. Nanti sajalah. Ujuang-ujungnya sudah mendekati deadline. Pekerjaan yang sudah dikejar deadline biasanya dikerjakan asal-asalan. Yang penting jadi. Mengapa hal ini terjadi? sebab, tidak cukup waktu untuk mencari bahan dan menelaah kembali. Apalagi membuat rencana. Tentu tidak mungkin. Bisa selesai saja sudah untung.  

 

 

Minggu, 04 Oktober 2020

Antara Kebutuhan dan Gaya Hidup

 

Sering kali kita kabur dalam memaknai antara kebutuhan hidup dan gaya hidup. Akibatnya merasa berat dalam menjalaninya.

Benarkah hidup mahal?

Jawabannya bisa iya namun bisa juga tidak. 

Semua tergantung perspektif yang dibangun. Kembali kepada ilmu hakekat menjadi salah satu kuncinya.

Kebutuhan hidup pada awalnya hanya sandang, pangan dan papan. Seiring dengan perubahan zaman terjadi penambahan berupa transportasi,  komunikasi dan rekreasi. Kebutuhan hidup tersebut sebetulnya dapat dipenuhi dengan biaya yang murah.

Sandang, kembalikan kepada tujuan utama yakni menutup aurat. Pakaian yang menutup aurat bisa didapatkan dengan harga yang murah. Lain hal bila yang dikejar trend. Pakai yang sedang ngetrend tentu dibanderol harga yang lebih mahal. Bisa saja berdalih pakaian mahal lebih nyaman dipakai. Saya kira hal itu hanya soal kebiasaan saja.

Papan, hakekat tempat tinggal adalah berlindung dari terik matahari dan hujan. Rumah merupakan tempat istirahat setelah bekerja. Rumah hanyalah tempat berteduh.

Rumah bisa saja dibangun dengan prinsip-prinsip kesederhanaan. Maknanya, untuk membuat rumahku adalah surgaku tidak harus terlihat mewah. Namun, lebih kepada terwujudnya keluarga yang sakinah, mawadah dan warrohmah. Seluruh anggota keluarga saling menyayangi satu sama lain. Anak taat dan patuh pada orang tua. Orang tua menyayangi anak-anaknya.  Istri melayani suaminya. Suami yang selalu mengayomi istrinya. Lantunan kalimah thoyibah sering diperdengarkan.

Rumah mewah bukan jaminan seorang suami ingin cepet-cepet pulang setelah bekerja. Anak-anak betah dirumah dan lain sebagainya.

Pangan, bicara soal makanan dan minuman yang perlu menjadi titik fokus bukan lagi pada soal rasa ataupun gaya. Makanan dan minunam sehat tidak harus mahal. Banyak yang bagus bagi tubuh dapat diperoleh dengan harga murah. Jangan sampai enak yang dikonsumsi berakibat buruk bagi kesehatan.

Selain itu, perlu diperhatikan juga kadar ke halalannya. Halal dikonsumsi harus tetap menjadi titik perhatian. Sebab dalam Islam tidak semua makanan dan minuman halal untuk dikonsumsi.

Saat ini Transportasi, komunikasi dan rekreasi memang menjadi kebutuhan dasar hidup manusia. Tanpa kehadiran ketiganya hidup terasa ada yang kurang. Namun bukan berarti dalam pemenuhan ketiga membutuhkan biaya yang besar.

Transportasi, alat transportasi saat ini sudah begitu banyak jenisnya. Alat transportasi tidak harus dimiliki namun bisa saja hanya menyewa atau yang lain. Saat ini banyak sekali alat transportasi publik dengan harga terjangkau. Orang cukup menggunakan jasa transportasi baik offline atau online.

Komunikasi, perkembangan teknologi informasi yang luar biasa membuat semua orang membutuhkannya. Alat komunikasi banyak dimanfaatkan baik dalam pendidikan, pekerjaan, jalinan sosial dan lain sebagainya.

Begitu banyak alat komunikasi dengan harga yang murah, namun dilengkapi dengan fasilitas lengkap. Dalam pembelian alat komunikasi memang harus kembali kepada kebutuhan bukan pada trend. Jika trend yang dikejar tentu butuh merogoh kocek banyak untuk membelinya.

Rekreasi, media rekreasi sudah begitu variatif. Begitu banyak ditawarkan kemudahan dan kemurahan. Orang tidak perlu lagi datang ke lokasi misalkan ingin menikmati wahana wisata tertentu. Semuanya bisa dinikmati dari tempat yang jauh serta dalam dimensi waktu yang berbeda.

Upaya kembali kepada paradigma lama menjadi hal yang tak bisa tawar lagi.  Paradigma lama sudah mapan dengan prinsip-prinsip positif yang dibawanya. 

Kalau bisa murah, mengapa harus mahal?

Selasa, 29 September 2020

Keberkahan dalam Keterbatasan Ilmu Agama

 


 “ilmu iku kudu dadi petunjuk

Kakak ipar merupakan guru PNS bahasa inggris. Rutinitas harian mengajar di MTs N Demak. Semua jenjang pendidikan formal yang dilalui berupa sekolah umum. Selain sekolah formal tidak ada jenjang pendidikan yang di lakoni, artinya sama sekali tidak pernah menempuh pendidikan Pesantren ataupun Madrasah Diniyah (sekolah sore).

Semasa usia sekolah, ilmu agama hanya diperoleh dari guru PAI. Sedangkan sekolah umum hanya mengalokasi 2 jam pelajaran dalam seminggu. Berdasarkan pengalaman dan hasil diskusi ilmiah memang sulit sekali memaksimalkan proses pembelajaran dengan waktu yang relative sedikit. Alhasil keterbatasan alokasi waktu berbanding lurus dengan minimnya capaian kompetensi siswa.

Kakak ipar adalah seorang anak yang di didik dilingkungan keluarga yang memang tidak agamis. Bapak dan Ibunya adalah seorang guru SD. Rutinitas pekerjaan sebagai seorang guru PNS di SD menjadi salah satu penyebab keluarganya jauh dari nilai-nilai agama. Hari demi hari berlalu dengan suasa gersang. Lantunan ayat-ayat suci Ilahi jarang sekali terdengar, rutinitas sholat tidak terlihat, dan saat ada acara bancaan saja terdengar bacaan kalimah thoyyibah.

Lingkungan tempat tinggal memang tidak mengindikasikan adanya semangat keberagamaan yang tinggi. Hanya ada satu Mushola yang menjadi pusat kegiatan keagamaan. Kegiatan mengaji di Mushola juga tidak dikelola dengan baik. Selain Mushola juga tidak ada pondok pesantren ataupun Madrasah Diniyah sebagai pusat pendidikan keagamaan bagi anak-anak.

Pengalaman proses pendidikan tidak efektif yang selama ini telah dijalani ternyata memberikan pengaruh besar yakni berupa minimnya pengetahuan dan pengamalan nilai-nilai religius. Hal ini memang bukan hal yang aneh. Sebab, menurut Ki Hajar Dewantara ada 3 pusat pendidikan yakni sekolah, keluarga dan lingkungan. Kebetulan dari tiga pusat pendidikan tersebut berjalan seiring seirama, namun bukan mendukung proses pendidikan tetapi sebaliknya. Memang tidak mengherankan jika kemudian proses pendidikan tidak berjalan secara efektif. Ketiga seperti bersepakat untuk tidak memberikan yang terbaik.

Minimnya pengetahuan dan pengalaman dalam bidang agama ternyata bukan akhir dari kehidupan. Alhamdulillah setelah menikah, si kakak dengan sabar mendidiknya dalam hal agama. Cara berpakaian, rutinititas keagamaan, intensitas membaca al-quran, dan pengamalan agama yang lain berubah 180 derajat. Boleh dibilang mendadak sholehah. Dalam kurun waktu yang singkat kehidupannya berubah. Semula jauh dari nilai-nilai keagamaan berubah menjadi sangat dekat. Bukan hanya itu, seluruh keluarga bahkan lingkungan juga ikut berubah menjadi agamis.

Poin besar dari sosok kakak ipar, ia memang nol besar dalam urusan agama. Namun, mengindikasikan memiliki keteguhan dalam mengamalkan ilmu agama. Akupun yang pernah mengenyam pendidikan keagamaan tidak hanya formal bahkan pesantren merasa takjub. Pada satu sisi juga merasa malu.

Usia pernikahan yang sudah berlangsung lama belum juga memiliki keturunan tidak membuatnya putus asa dalam menjaga keharmonisan keluarga. Do’a dan usaha yang dilakukan untuk memperoleh momongan yang belum juga terlihat hasilnya, tetap membuatnya tetap berhusnudzan kepada Allah.

Sampai akhirnya sampailah pada titik tertentu. Banyaknya gaji yang diperoleh tidak hanya dinikmati sendiri sendiri namun selalu di sedekahkan kepada orang lain. Sedekah selalu diutamakan kepada orang yang susah, tempat ibadah, fakir miskin dan anak yatim. Bahkan anggota keluarga yang terhitung memiliki tingkat ekonomi menengah juga ikut merasakannya.

Agustus 2019, ia jatuh sakit terdeteksi kanker rahim. Semua dibuat kaget dengan berita ini. Harapan memiliki keturunan sirna seketika. Beberapa waktu kemudian, dokter menyarankan untuk dioperasi. Tanpa berfikir panjang tawaran tersebut di iyakan. Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Kesehatanpun berangsur-angsur membaik. Semua terlihat baik-baik saja.

Ternyata tidak sangka pada bulan Agustus 2020. Kondisi kesehatannya menurun. Menurut hasil pemeriksaan medis, hatinya mengalami pembengkakan.

Kami yang sedang tinggal diluar kota, seketika kaget mendengar informasi tersebut. Semakin hari, kondisinya semakin memburuk. Banyak hal yang membuat kami sekeluarga tidak dapat menjenguk. Hanya do’a yang mampu kami berikan.

Hari minggu, 20 September 2020 tepat pukul 05.00 WIB ada informasi bahwa beliau meninggal. Seketika badan terasa lemes. Segera kami berkemas-kemas untuk takziah, berharap masih bisa melihatnya.

Sesampainya dirumah duka. Kondisi sudah terlihat sepi rupanya jenazah sudah dimakamkan 3 jam sebelumnya. Isak tangispun tak tertahankan. BUkti kesedihan tidak dapat melihatnya untuk yang terakhir kali..

Subhanallah, kesedihan inipun cepat berlalu setelah mendengar cerita begitu banyaknya orang yang mensholati, banyaknya rombongan yang ikut membacakan tahlil, dan satu lagi yang luar biasa beliau meninggal dalam keadaan tersenyum.

Maha suci Allah, kami merasa senang sekaligus sedih. Senang dengan munculnya tanda-tanda khusnul khatimah. Sedih karena merasa belum sebaik beliau dalam menjalankan agama. Merasa kerdil dalam hal rutinitas keagamaan. Masih banyak ilmu yang belum diamalkan.

Menurut istriku beliau adalah sosok yang luar biasa. Hari-harinya tidak disibukan pengalaman pengatahuan agama meskipun sedikit. Ilmunya mampu menjadi cahaya. Sebagaimana dawuh Hadaratus Syekh Romo Yai Ahmad Asrori al-Isaqi, r.a “ilmu iku kudu dadi petunjuk

Pada saat masih sehat beliau pernah bercerita kepada istriku “alasannya banyak bersedekah, berangkat dari sebuah kesadaran tidak memiliki keturunan”. Menurut beliau “sanguine mati seng ra pernah putus pahalane ono telu : 1. Sedekah 2. Anak sholeh 3. Ilmu yang bermanfaat”. Beliau Pernyataan itu sesuai dengan haditsnya rasulullah :

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Tumbuh kesadaran untuk memperoleh keturunan dan memiliki ilmu yang bermanfaat itu sulit. Tanpa berfikir panjang pilihan itu yang diambil.

Tidak memiliki keturunan bukanlah akhir segalanya. Realitas diatas dapat dijadikan obat bagi pasangan yang tidak memiliki keturunan.

Cara pandang yang tidak tepat seperti “le ora nduwe keturunan, terus ora ono seng ngrumati lek es tuwo” harus segera dirubah. Segera sadari, rahmat Allah ternyata begitu luas. Masih banyak cerita orang yang tidak dikarunia keturunan, namun meninggalkan dunia ini dengan tanda-tanda dirihai Allah. Lagipula tidak ada kepastian hidup didunia sampai tua.

Memiliki anak bukan jaminan, kelak masa tua akan di rawat dengan baik. Tidak ada kepastian anak membalas pengorbanan orang tua. Banyak kasus, anak menyengsarakan orang tuanya.

Berhentilah berputus asa dari rahmat Allah. Tugas manusia adalah berdoa dan berusaha. Urusan pemberian semua otoritas Allah. Selama sudah mampu menempatkan diri menjadi hamba yang baik, rahmat Allah pasti akan diterima. Entah cepat atau lambat, sekarang atau besok, di dunia ataupun di akhirat.

Jalan kebahagiaan tidak harus memiliki anak, banyak jalan lain yang membahagiakan.

Semoga kita semua sadar , anak bukan hiburan tetapi amanah. Bagi yang tidak memiliki keturunan jangan bersedih, sebab akan selamat dari pertanggungjawaban tentang anak.

Segera bangkit. Cari amalan lain yang mendatangkan rahmat Allah.

Selasa, 22 September 2020

Misteri Ilahi

 



Hidup dalam kuasa ilahi. Semua dalam genggaman-Nya. Tiada daya dan upaya apapun yang mampu mengganggu otoritas-Nya.

Dunia adalah tempat menanam kebaikan. Kebaikan yang dilakukan merupakan bentuk pengabdian nyata seorang hamba kepada tuhan-Nya. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dari hal itu, semua memang terkesan biasa-biasa saja. Artinya pengabdian itu sesuatu yang wajar dan keharusan bagi seorang hamba. Maka tak pantas bila muncul tulul amal.

Tugas manusia beribadah. Ibadah tidak hanya yang berkaitan dengan Allah. Meskipun taqdir hak prerogatif Allah. Amal yang dilakukan manusia tidak akan mampu merubah taqdir pada dirinya. Meskipun begitu, manusia harus tetap beramal sebagai bentuk menjalankan perintah Allah.

Poin paling penting dalam beramal adalah upaya konkrit meraih ridha Allah. Ridha Allah diperlukan untuk meraih kebahagiaan hidup didunia maupun akhirat.

Penting sekali setiap hamba meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Dunia adalah realitas dan akhirat sebuah kepastian.

Setiap yang bernyawa didunia akan mati. Urusan mati pantas dialami oleh siapapun dan kapanpun. Semua akan mengalaminya. Kematian itu pasti, sedangkan kapan waktunya merupakan rahasia ilahi.