Selasa, 29 September 2020

Keberkahan dalam Keterbatasan Ilmu Agama

 


 “ilmu iku kudu dadi petunjuk

Kakak ipar merupakan guru PNS bahasa inggris. Rutinitas harian mengajar di MTs N Demak. Semua jenjang pendidikan formal yang dilalui berupa sekolah umum. Selain sekolah formal tidak ada jenjang pendidikan yang di lakoni, artinya sama sekali tidak pernah menempuh pendidikan Pesantren ataupun Madrasah Diniyah (sekolah sore).

Semasa usia sekolah, ilmu agama hanya diperoleh dari guru PAI. Sedangkan sekolah umum hanya mengalokasi 2 jam pelajaran dalam seminggu. Berdasarkan pengalaman dan hasil diskusi ilmiah memang sulit sekali memaksimalkan proses pembelajaran dengan waktu yang relative sedikit. Alhasil keterbatasan alokasi waktu berbanding lurus dengan minimnya capaian kompetensi siswa.

Kakak ipar adalah seorang anak yang di didik dilingkungan keluarga yang memang tidak agamis. Bapak dan Ibunya adalah seorang guru SD. Rutinitas pekerjaan sebagai seorang guru PNS di SD menjadi salah satu penyebab keluarganya jauh dari nilai-nilai agama. Hari demi hari berlalu dengan suasa gersang. Lantunan ayat-ayat suci Ilahi jarang sekali terdengar, rutinitas sholat tidak terlihat, dan saat ada acara bancaan saja terdengar bacaan kalimah thoyyibah.

Lingkungan tempat tinggal memang tidak mengindikasikan adanya semangat keberagamaan yang tinggi. Hanya ada satu Mushola yang menjadi pusat kegiatan keagamaan. Kegiatan mengaji di Mushola juga tidak dikelola dengan baik. Selain Mushola juga tidak ada pondok pesantren ataupun Madrasah Diniyah sebagai pusat pendidikan keagamaan bagi anak-anak.

Pengalaman proses pendidikan tidak efektif yang selama ini telah dijalani ternyata memberikan pengaruh besar yakni berupa minimnya pengetahuan dan pengamalan nilai-nilai religius. Hal ini memang bukan hal yang aneh. Sebab, menurut Ki Hajar Dewantara ada 3 pusat pendidikan yakni sekolah, keluarga dan lingkungan. Kebetulan dari tiga pusat pendidikan tersebut berjalan seiring seirama, namun bukan mendukung proses pendidikan tetapi sebaliknya. Memang tidak mengherankan jika kemudian proses pendidikan tidak berjalan secara efektif. Ketiga seperti bersepakat untuk tidak memberikan yang terbaik.

Minimnya pengetahuan dan pengalaman dalam bidang agama ternyata bukan akhir dari kehidupan. Alhamdulillah setelah menikah, si kakak dengan sabar mendidiknya dalam hal agama. Cara berpakaian, rutinititas keagamaan, intensitas membaca al-quran, dan pengamalan agama yang lain berubah 180 derajat. Boleh dibilang mendadak sholehah. Dalam kurun waktu yang singkat kehidupannya berubah. Semula jauh dari nilai-nilai keagamaan berubah menjadi sangat dekat. Bukan hanya itu, seluruh keluarga bahkan lingkungan juga ikut berubah menjadi agamis.

Poin besar dari sosok kakak ipar, ia memang nol besar dalam urusan agama. Namun, mengindikasikan memiliki keteguhan dalam mengamalkan ilmu agama. Akupun yang pernah mengenyam pendidikan keagamaan tidak hanya formal bahkan pesantren merasa takjub. Pada satu sisi juga merasa malu.

Usia pernikahan yang sudah berlangsung lama belum juga memiliki keturunan tidak membuatnya putus asa dalam menjaga keharmonisan keluarga. Do’a dan usaha yang dilakukan untuk memperoleh momongan yang belum juga terlihat hasilnya, tetap membuatnya tetap berhusnudzan kepada Allah.

Sampai akhirnya sampailah pada titik tertentu. Banyaknya gaji yang diperoleh tidak hanya dinikmati sendiri sendiri namun selalu di sedekahkan kepada orang lain. Sedekah selalu diutamakan kepada orang yang susah, tempat ibadah, fakir miskin dan anak yatim. Bahkan anggota keluarga yang terhitung memiliki tingkat ekonomi menengah juga ikut merasakannya.

Agustus 2019, ia jatuh sakit terdeteksi kanker rahim. Semua dibuat kaget dengan berita ini. Harapan memiliki keturunan sirna seketika. Beberapa waktu kemudian, dokter menyarankan untuk dioperasi. Tanpa berfikir panjang tawaran tersebut di iyakan. Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Kesehatanpun berangsur-angsur membaik. Semua terlihat baik-baik saja.

Ternyata tidak sangka pada bulan Agustus 2020. Kondisi kesehatannya menurun. Menurut hasil pemeriksaan medis, hatinya mengalami pembengkakan.

Kami yang sedang tinggal diluar kota, seketika kaget mendengar informasi tersebut. Semakin hari, kondisinya semakin memburuk. Banyak hal yang membuat kami sekeluarga tidak dapat menjenguk. Hanya do’a yang mampu kami berikan.

Hari minggu, 20 September 2020 tepat pukul 05.00 WIB ada informasi bahwa beliau meninggal. Seketika badan terasa lemes. Segera kami berkemas-kemas untuk takziah, berharap masih bisa melihatnya.

Sesampainya dirumah duka. Kondisi sudah terlihat sepi rupanya jenazah sudah dimakamkan 3 jam sebelumnya. Isak tangispun tak tertahankan. BUkti kesedihan tidak dapat melihatnya untuk yang terakhir kali..

Subhanallah, kesedihan inipun cepat berlalu setelah mendengar cerita begitu banyaknya orang yang mensholati, banyaknya rombongan yang ikut membacakan tahlil, dan satu lagi yang luar biasa beliau meninggal dalam keadaan tersenyum.

Maha suci Allah, kami merasa senang sekaligus sedih. Senang dengan munculnya tanda-tanda khusnul khatimah. Sedih karena merasa belum sebaik beliau dalam menjalankan agama. Merasa kerdil dalam hal rutinitas keagamaan. Masih banyak ilmu yang belum diamalkan.

Menurut istriku beliau adalah sosok yang luar biasa. Hari-harinya tidak disibukan pengalaman pengatahuan agama meskipun sedikit. Ilmunya mampu menjadi cahaya. Sebagaimana dawuh Hadaratus Syekh Romo Yai Ahmad Asrori al-Isaqi, r.a “ilmu iku kudu dadi petunjuk

Pada saat masih sehat beliau pernah bercerita kepada istriku “alasannya banyak bersedekah, berangkat dari sebuah kesadaran tidak memiliki keturunan”. Menurut beliau “sanguine mati seng ra pernah putus pahalane ono telu : 1. Sedekah 2. Anak sholeh 3. Ilmu yang bermanfaat”. Beliau Pernyataan itu sesuai dengan haditsnya rasulullah :

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Tumbuh kesadaran untuk memperoleh keturunan dan memiliki ilmu yang bermanfaat itu sulit. Tanpa berfikir panjang pilihan itu yang diambil.

Tidak memiliki keturunan bukanlah akhir segalanya. Realitas diatas dapat dijadikan obat bagi pasangan yang tidak memiliki keturunan.

Cara pandang yang tidak tepat seperti “le ora nduwe keturunan, terus ora ono seng ngrumati lek es tuwo” harus segera dirubah. Segera sadari, rahmat Allah ternyata begitu luas. Masih banyak cerita orang yang tidak dikarunia keturunan, namun meninggalkan dunia ini dengan tanda-tanda dirihai Allah. Lagipula tidak ada kepastian hidup didunia sampai tua.

Memiliki anak bukan jaminan, kelak masa tua akan di rawat dengan baik. Tidak ada kepastian anak membalas pengorbanan orang tua. Banyak kasus, anak menyengsarakan orang tuanya.

Berhentilah berputus asa dari rahmat Allah. Tugas manusia adalah berdoa dan berusaha. Urusan pemberian semua otoritas Allah. Selama sudah mampu menempatkan diri menjadi hamba yang baik, rahmat Allah pasti akan diterima. Entah cepat atau lambat, sekarang atau besok, di dunia ataupun di akhirat.

Jalan kebahagiaan tidak harus memiliki anak, banyak jalan lain yang membahagiakan.

Semoga kita semua sadar , anak bukan hiburan tetapi amanah. Bagi yang tidak memiliki keturunan jangan bersedih, sebab akan selamat dari pertanggungjawaban tentang anak.

Segera bangkit. Cari amalan lain yang mendatangkan rahmat Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar