Jumat, 18 September 2020

GURU PAI DAN EKSTREMISME (Mengkaji Urgensi Guru PAI Moderat ditengah Kontestasi Paham)


 


Hadirnya revolusi industry 4.0 ditengah kehidupan memiliki dua sisi yaitu adanya  peluang dan tantangan. Peluang yang dimunculkan berupa kemudahan dalam proses pendidikan. Kemudahan dalam proses pendidikan salah satunya berupa kemudahan mendapatkan sumber belajar.

Sebelum masa ini sumber belajar paling mudah diperoleh berupa informasi pendidik dan bahan bacaan cetak (buku, artikel, dll). Saat terdapat perubahan yang luar biasa. Perubahan tersebut sejalan dengan perkembangan teknologi informasi. Perubahan yang dimaksud berupa sumber belajar yang bisa diperoleh dari dunia maya dengan tanpa ada batasan waktu dan jumlah. Terserah siapa yang mau. Seituasi sudah seperti pasar bebas.

Realitanya banyak juga konten pendidikan moderat yang ditawarkan. Ketersedian konten moderat tersebut merupakan peluang bagi dunia pendidikan. Kecepatan dan ketepatan dalam beradaptasi memang sangat dibutuhkan. Keberhasilan dunia pendidikan dalam melakukan semua itu memiliki implikasi positif bagi eksistensinya. Dunia pendidikan dengan mudah akan mencapai tuntutan stakeholder. Sebab akan dianggap mampu mencetak lulusan yang sesuai harapan.

Pada satu sisi bersamaan dengan membludaknya konten berisi nilai pendidikan moderat juga terdapat banyaknya konten yang bernilai pendidikan ekstrem. Sejauh ini jumlahnya sudah begitu banyak bahkan melampaui konten yang bernilai moderat. Memang mengkhawatirkan.

Konten ekstrem yang di pelopori oleh kelompok eksrimis dan fundamentalis begitu cepat menyebar. Dalam waktu yang relative singkat sudah hadir ditengah-tengah kehidupan remaja yang sedang mencari jati diri. Siapa mereka? Jawabannya adalah anak-anak usia sekolah menengah. Menurut teori psikoanalisis remaja usi sekolah menengah memiliki kecenderungan dalam menemukan jatidiri, mereka berada dalam ketidakpastian meskipun saat dihadapkan pada konsep-konsep yang telah diperoleh sejak kecil, termasuk didalamnya konsep tentang agama. (Henri Saputra 2017 : 48).

Kelompok ekstremis begitu piawai dalam menangkap peluang. Begitu cepat hadir ditengah kebingungan anak-anak pada usia tersebut. Kehadirannya seolah-olah memberikan solusi. Padahal sejauh hasil berbagai research konten tersebut memiliki daya rusak yang luar biasa bagi kehidupan.  

Berangkat dari fenomena diatas, maka dibutuhkan peran aktif pendidik dalam bidang agama Islam. Guru PAI yang mampu menghadirkan konsep Islam “rahmatan lil’alamin” ditengah kehidupan mereka. Konsep yang dimaksud adalah konsep yang tidak condong ke kanan ataupun ke kiri. Konsep yang sebagaimana telah dicontohkan dalam kehidupan baginda rasulullah. Bukan lagi Islam yang meresahkan dan menakutkan bagi kehidupan. Konsep Islam yang mengarah pada kehidupan berdampingan dengan sesama manusia. Konsep Islam yang dimaksud adalah Islam Wasathiyah.

Islam moderat merupakan konsep beragama sebagaimana yang dicontohkan rasulullah. Islam yang dengan pengamalannya terdapat nilai saling menghargai dan mengakui, meskipun tidak sejalan dengan pikiran dan kepentingannya.

Hadirnya Islam Wasathiyah ditengah kehidupan anak usia sekolah menengah diharapkan akan menjadi warna baru. Bukan saja hari ini, namun selama hidupnya. Bukan untuk pribadinya saja, namun seluruh umat manusia.

Satu hal yang perlu digarisbawahi negara Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030. Dimana hal tersebut akan menjadi instrument kemajuan bangsa. Sudah pasti dibutuhkan generasi-generasi yang moderat dalam mensukseskan memajukan kehidupan negara. Bukan lagi generasi yang sudah menganggap dirinya paling benar dan paling berhak yang berujung pada pandangan rendah terhadap orang ataupun kelompok lain.

Tulungagung, 19 September 2020.

1 komentar:

  1. Sepakat sekali Bapak. Bonus demografi harus diarahkan sebaik mungkin pada konsep Islam rahmatan lil 'alamiin. Semoga.

    BalasHapus