Hadirnya revolusi industry 4.0 ditengah kehidupan memiliki dua sisi
yaitu adanya peluang dan tantangan.
Peluang yang dimunculkan berupa kemudahan dalam proses pendidikan. Kemudahan
dalam proses pendidikan salah satunya berupa kemudahan mendapatkan sumber
belajar.
Sebelum masa ini sumber belajar paling mudah diperoleh berupa
informasi pendidik dan bahan bacaan cetak (buku, artikel, dll). Saat terdapat perubahan
yang luar biasa. Perubahan tersebut sejalan dengan perkembangan teknologi informasi.
Perubahan yang dimaksud berupa sumber belajar yang bisa diperoleh dari dunia
maya dengan tanpa ada batasan waktu dan jumlah. Terserah siapa yang mau. Seituasi
sudah seperti pasar bebas.
Realitanya banyak juga konten pendidikan moderat yang ditawarkan.
Ketersedian konten moderat tersebut merupakan peluang bagi dunia pendidikan. Kecepatan
dan ketepatan dalam beradaptasi memang sangat dibutuhkan. Keberhasilan dunia
pendidikan dalam melakukan semua itu memiliki implikasi positif bagi eksistensinya.
Dunia pendidikan dengan mudah akan mencapai tuntutan stakeholder. Sebab akan
dianggap mampu mencetak lulusan yang sesuai harapan.
Pada satu sisi bersamaan dengan membludaknya konten berisi nilai
pendidikan moderat juga terdapat banyaknya konten yang bernilai pendidikan
ekstrem. Sejauh ini jumlahnya sudah begitu banyak bahkan melampaui konten yang
bernilai moderat. Memang mengkhawatirkan.
Konten ekstrem yang di pelopori oleh kelompok eksrimis dan
fundamentalis begitu cepat menyebar. Dalam waktu yang relative singkat sudah
hadir ditengah-tengah kehidupan remaja yang sedang mencari jati diri. Siapa
mereka? Jawabannya adalah anak-anak usia sekolah menengah. Menurut teori
psikoanalisis remaja usi sekolah menengah memiliki kecenderungan dalam
menemukan jatidiri, mereka berada dalam ketidakpastian meskipun saat dihadapkan
pada konsep-konsep yang telah diperoleh sejak kecil, termasuk didalamnya konsep
tentang agama. (Henri Saputra 2017 : 48).
Kelompok ekstremis begitu piawai dalam menangkap peluang. Begitu
cepat hadir ditengah kebingungan anak-anak pada usia tersebut. Kehadirannya seolah-olah
memberikan solusi. Padahal sejauh hasil berbagai research konten tersebut
memiliki daya rusak yang luar biasa bagi kehidupan.
Berangkat dari fenomena diatas, maka dibutuhkan peran aktif pendidik
dalam bidang agama Islam. Guru PAI yang mampu menghadirkan konsep Islam “rahmatan
lil’alamin” ditengah kehidupan mereka. Konsep yang dimaksud adalah konsep
yang tidak condong ke kanan ataupun ke kiri. Konsep yang sebagaimana telah
dicontohkan dalam kehidupan baginda rasulullah. Bukan lagi Islam yang meresahkan
dan menakutkan bagi kehidupan. Konsep Islam yang mengarah pada kehidupan
berdampingan dengan sesama manusia. Konsep Islam yang dimaksud adalah Islam Wasathiyah.
Islam moderat merupakan konsep beragama sebagaimana yang dicontohkan
rasulullah. Islam yang dengan pengamalannya terdapat nilai saling menghargai
dan mengakui, meskipun tidak sejalan dengan pikiran dan kepentingannya.
Hadirnya Islam Wasathiyah ditengah kehidupan anak usia
sekolah menengah diharapkan akan menjadi warna baru. Bukan saja hari ini, namun
selama hidupnya. Bukan untuk pribadinya saja, namun seluruh umat manusia.
Satu hal yang perlu digarisbawahi negara Indonesia akan mengalami
bonus demografi pada tahun 2030. Dimana hal tersebut akan menjadi instrument kemajuan
bangsa. Sudah pasti dibutuhkan generasi-generasi yang moderat dalam
mensukseskan memajukan kehidupan negara. Bukan lagi generasi yang sudah menganggap
dirinya paling benar dan paling berhak yang berujung pada pandangan rendah
terhadap orang ataupun kelompok lain.
Tulungagung, 19 September 2020.

Sepakat sekali Bapak. Bonus demografi harus diarahkan sebaik mungkin pada konsep Islam rahmatan lil 'alamiin. Semoga.
BalasHapus