“Rasa sakit menahan diri tidak menulis, sepadan dengan menahan
diri bertemu dengan sang pujan hati”
Seperti ada yang hilang. Perasaan itu yang selama ini menyelimuti
diriku. Sepuluh hari aku tidak menulis di blog pribadi.
Berhenti menulis menulis bukan karena tidak mau. Hal itu
disebabkan oleh adanya hal yang menjadi skala prioritas dan keterbatasan fisik.
Persiapan perkuliahan semester ini banyak menguras waktu. Ada poin
besar yang harus dipersiapan yakti RPKPS Daring, materi pembelajaran online dan
mendesain pembelajaran E-learning.
Rencana Program dan Kegiatan Pembelajaran Semester (RPKPS) Daring memiliki
perbedaan yang cukup signifikan dengan model biasanya. Meskipun model baru,
bukan berarti menjadi hal yang sulit diselesaikan. hanya saja dengan tagihan
pengisian kolom-kolom yang banyak berkaitan dengan materi online. Hal itu yang
membuat banyak sekali alokasi waktu dan energi yang harus dialokasikan.
Materi pembelajaran online, hal kedua yang harus disiapkan. Demi mewujudkan
standar capaian mata kuliah tentu tidak mungkin hanya menyiapkan materi berupa file
word, pdf atau ppt saja. Maknanya pendidik dituntut untuk dapat membuat rekaman
materi berupa audio atupun video. Bermodalkan materi yang dikemas dalam video
atau audio mahasiswa akan lebih mudah memahami, mahasiswa seperti tidak
merasakan perbedaan yang berarti antara tatap muka dengan daring. Mengapa hal
itu penting? Berdasarkan hasil survey mahasiswa lebih mudah menangkap materi
dengan penjelasan secara lisan dari dosen disamping ada materi yang tertulis. Apalagi
berkaitan dengan materi yang sulit seperti metodologi penelitian. Dengan begitu
harapannya materi dapat ditangkap dengan baik dan CPMK dapat terpenuhi.
Mendesain kelas di elearning milik kampus. Semester lalu masing-masing
dosen mendapatkan kebebasan penuh dalam menentukan media yang digunakan dalam
pembelajaran online. Maka realitanya, ada yang banyak menggunakan watsapp,
googleclassroom, email dan lain-lain. Berbeda dengan semester ini, ada sinyal yang
tidak langsung bahwa dosen diharapkan menggunakan elearning dalam pembelajaran.
Meskipun saya sendiri belum melihat edaran resminya. Tetapi dengan mencermati beberapa
kali isi sambutan Rektor diberbagai forum menjadi kampus yang familier dengan system
online dan gencarnya pelatihan pemanfaat elearning dalam perkuliahan, saya rasa
cukup menjadi dorongan kuat. Ya, selain itu saya sendiri suka bergelut dengan dunia
online. Cepat atau lambat semua dosen harus familier dengan elearning. Kedepan
bukan tidak mungkin pembelajaran akan tetap dijalankan secara online, ya
mungkin saja persentasenya bukan lagi 100% namun 70% dan 30% tetap dengan tatap
muka.
Menurut saya pemanfaatan elearning ini menjadi penting, salah satunya
sebagai sarana pembuktian kita ini bukan masuk kategori generasi kolonial yang
GAPTEK. Pada sisi yang lain juga sebagai bentuk dukungan terhadap digitalisasi
kampus sebagaimana visi pimpinan tertinggi.
Tigal hal diatas sangat menguras energi, pikiran dan waktu. sekaligus
menjadi penyebab tetap aku tahan keinginan untuk menulis diblog. Bukan tidak
ingin, justru sangat. Merasa seperti ada yang hilang? Pasti. Adakah kerinduan
yang begitu dalam? Tentu. Meskipun ide itu muncul dan keinginan munulis itu ada
belum bisa dikatakan setiap hari, namun 4 hari dalam seminggu hal itu selalu hadir.
Tapi semua itu tetap dikendalikan karena keterbatasan fisik. Ya, terang
saja. Sistem imun tubuhku sekarang belum kembali pulih seperti dulu. Rasanya mudah
sekali capek. Sebelum sakit dalam sehari mampu berfikir diatas 12 jam. Duduk
didepan laptop dari pagi kuat sampai jam 2 dini hari. Sekarang rupanya tidak
begitu. Saat ini sehari hanya mampu berfikir serius kurang lebih 5-6 jam,
itupun tidak mampu seminggu berturut-turut. Pukul 21.00 harus sudah tidur, kalur
tidak maka akan sulit tidur sampai pukul 23.-an lebih dan paginya dada terasa
sakit dan kepala pusing. Misalkan ada tuntutan 5 hari harus berfikir maka sabtu
minggu harus istirahat total.

Mantab. ..
BalasHapusTernyata tidak hanya saya yang mual-mual dengan LMS hehe. Keren pak tulisannya.
BalasHapus