Minggu, 13 September 2020

Menahan Rindu dalam Keterbatasan

 



“Rasa sakit menahan diri tidak menulis, sepadan dengan menahan diri bertemu dengan sang pujan hati

Seperti ada yang hilang. Perasaan itu yang selama ini menyelimuti diriku. Sepuluh hari aku tidak menulis di blog pribadi.

Berhenti menulis menulis bukan karena tidak mau. Hal itu disebabkan oleh adanya hal yang menjadi skala prioritas dan keterbatasan fisik.

Persiapan perkuliahan semester ini banyak menguras waktu. Ada poin besar yang harus dipersiapan yakti RPKPS Daring, materi pembelajaran online dan mendesain pembelajaran E-learning.

Rencana Program dan Kegiatan Pembelajaran Semester (RPKPS) Daring memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan model biasanya. Meskipun model baru, bukan berarti menjadi hal yang sulit diselesaikan. hanya saja dengan tagihan pengisian kolom-kolom yang banyak berkaitan dengan materi online. Hal itu yang membuat banyak sekali alokasi waktu dan energi yang harus dialokasikan.

Materi pembelajaran online, hal kedua yang harus disiapkan. Demi mewujudkan standar capaian mata kuliah tentu tidak mungkin hanya menyiapkan materi berupa file word, pdf atau ppt saja. Maknanya pendidik dituntut untuk dapat membuat rekaman materi berupa audio atupun video. Bermodalkan materi yang dikemas dalam video atau audio mahasiswa akan lebih mudah memahami, mahasiswa seperti tidak merasakan perbedaan yang berarti antara tatap muka dengan daring. Mengapa hal itu penting? Berdasarkan hasil survey mahasiswa lebih mudah menangkap materi dengan penjelasan secara lisan dari dosen disamping ada materi yang tertulis. Apalagi berkaitan dengan materi yang sulit seperti metodologi penelitian. Dengan begitu harapannya materi dapat ditangkap dengan baik dan CPMK dapat terpenuhi.

Mendesain kelas di elearning milik kampus. Semester lalu masing-masing dosen mendapatkan kebebasan penuh dalam menentukan media yang digunakan dalam pembelajaran online. Maka realitanya, ada yang banyak menggunakan watsapp, googleclassroom, email dan lain-lain. Berbeda dengan semester ini, ada sinyal yang tidak langsung bahwa dosen diharapkan menggunakan elearning dalam pembelajaran. Meskipun saya sendiri belum melihat edaran resminya. Tetapi dengan mencermati beberapa kali isi sambutan Rektor diberbagai forum menjadi kampus yang familier dengan system online dan gencarnya pelatihan pemanfaat elearning dalam perkuliahan, saya rasa cukup menjadi dorongan kuat. Ya, selain itu saya sendiri suka bergelut dengan dunia online. Cepat atau lambat semua dosen harus familier dengan elearning. Kedepan bukan tidak mungkin pembelajaran akan tetap dijalankan secara online, ya mungkin saja persentasenya bukan lagi 100% namun 70% dan 30% tetap dengan tatap muka.

Menurut saya pemanfaatan elearning ini menjadi penting, salah satunya sebagai sarana pembuktian kita ini bukan masuk kategori generasi kolonial yang GAPTEK. Pada sisi yang lain juga sebagai bentuk dukungan terhadap digitalisasi kampus sebagaimana visi pimpinan tertinggi.

Tigal hal diatas sangat menguras energi, pikiran dan waktu. sekaligus menjadi penyebab tetap aku tahan keinginan untuk menulis diblog. Bukan tidak ingin, justru sangat. Merasa seperti ada yang hilang? Pasti. Adakah kerinduan yang begitu dalam? Tentu. Meskipun ide itu muncul dan keinginan munulis itu ada belum bisa dikatakan setiap hari, namun 4 hari dalam seminggu hal itu selalu hadir.

Tapi semua itu tetap dikendalikan karena keterbatasan fisik. Ya, terang saja. Sistem imun tubuhku sekarang belum kembali pulih seperti dulu. Rasanya mudah sekali capek. Sebelum sakit dalam sehari mampu berfikir diatas 12 jam. Duduk didepan laptop dari pagi kuat sampai jam 2 dini hari. Sekarang rupanya tidak begitu. Saat ini sehari hanya mampu berfikir serius kurang lebih 5-6 jam, itupun tidak mampu seminggu berturut-turut. Pukul 21.00 harus sudah tidur, kalur tidak maka akan sulit tidur sampai pukul 23.-an lebih dan paginya dada terasa sakit dan kepala pusing. Misalkan ada tuntutan 5 hari harus berfikir maka sabtu minggu harus istirahat total.

2 komentar: