Sampai saat ini penyebaran
Covid-19 masih menunjukkan adanya peningkatan penyebaran yang luar biasa. Hal ini
dapat dilihat dari laporan Kementrian Kesehatan RI yang di rilis setiap hari sekitar
pukul 16.15 WIB. Data terbaru pada tanggal 2 September 2020 jumlah kasus
positif mencapai 180.646 dengan angka kesembuhan 129.971 dan meninggal 7.616.
Data laporan kementerian
kesehatan RI tersebut menjadi acuan bagi pemerintah untuk terus melakukan
langkah konkrit dalam memutus mata rantai penyebaran. Langkah konkrit ini
diambil tidak hanya penyerintah pusat namun sampai kepada pemerintah di tingkat
daerah. Langkah konkrit tersebut terlihat dengan adanya konsistensi dalam
mensosialisasikan cara – cara memutus mata ratai penyebaran, memberikan sanksi
bagi pelanggar dan melakukan Razia.
Ancaman yang ditimbulkan
dengan tetap tingginya penyebaran virus tersebut berupa terganggunya stabilitas
berbagai sendi kehidupan. Satu orang yang dinyatakan positif saja memiliki
dampak yang luas. Apalagi angka yang sedemikian banyak itu. Bukan hanya
kesehatan yang akan terganggu namun, pendidikan, ekonomi, sosial dan politik
juga akan merasakannya.
Sebagai makluk sosial yang
memiliki potensi dalam mempercepat penyebaran Covid-19 dituntut untuk mengambil
sikap yang tepat. Ketepatan bersikap tentu berbanding lurus dengan terputusnya
mata rantai penyebaran. Apabila hal ini dapat terwujud berarti semakin banyak
orang yang akan selamat dari efek negative penyebaran Covid-19.
Jangan egois. Pikirkan nasib
orang lain. Bisa jadi kita dalam keadaan sehat, perkejaan mapan, dan ekonomi
kuat. Saat divonis positif terjangkit Covid-19 dan harus menjalani isolasi,
bisa saja tidak berpengaruh besar bagi kehidupan, baik dari sisi kesehatan,
ekonomi, keberlangsungan pendidikan anak-anak dan, lain sebagainya. Bisakah itu
berlaku bagi orang lain? Dimana saat ini sedang dalam keadaan sakit kronis yang
berpotensi buruk bila terjangkit Covid-19, berstatus sebagai pegawai kontrak, dan
ekonomi yang belum mapan. Bagaimana dengan kebutuhan kesehariannya,
keberlangsung pendidikan anak-anaknya, dan sebagainya.
Selalu dibutuhkan kepekaan
terhadap nasib orang lain. Kurang bijak, misalkan hanya diri kita yang jadi
ukuran. Coba lihatlah kanan kiri. Bagaimana kondisi mereka? Jangan sampai kita
menyesal, lantaran sikap yang tidak peduli pada orang sekitar berakibat buruk
baginya.
Tulungagung, 4 September
2020.

Semua dituntut untuk senantiasa bijak. Kapanpun, dimanapun. Berusaha untuk tetap mengedepankan protokol kesehatan, demi kebaikan bersama, seluruh masyarakat Indonesia. Jika belum mampu memberikan bantuan dalam skala besar, setidaknya dari kita semua membantu dgn cara menjaga diri sendiri dan keluarga.
BalasHapusSemoga wabah ini juga lekas usai. Dan keadaan normal kembali seperti sediakala.
Amin.
Kepedulian kepada sesama bisa diawali dengan mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, dan mulai sekarang juga. Tulisan yang inspiratif. Terimakasih.
BalasHapus