Kamis, 03 September 2020

URGENSI KESALEHAN SOSIAL DI TENGAH PENYEBARAN COVID-19

 



Sampai saat ini penyebaran Covid-19 masih menunjukkan adanya peningkatan penyebaran yang luar biasa. Hal ini dapat dilihat dari laporan Kementrian Kesehatan RI yang di rilis setiap hari sekitar pukul 16.15 WIB. Data terbaru pada tanggal 2 September 2020 jumlah kasus positif mencapai 180.646 dengan angka kesembuhan 129.971 dan meninggal 7.616.

Data laporan kementerian kesehatan RI tersebut menjadi acuan bagi pemerintah untuk terus melakukan langkah konkrit dalam memutus mata rantai penyebaran. Langkah konkrit ini diambil tidak hanya penyerintah pusat namun sampai kepada pemerintah di tingkat daerah. Langkah konkrit tersebut terlihat dengan adanya konsistensi dalam mensosialisasikan cara – cara memutus mata ratai penyebaran, memberikan sanksi bagi pelanggar dan melakukan Razia.

Ancaman yang ditimbulkan dengan tetap tingginya penyebaran virus tersebut berupa terganggunya stabilitas berbagai sendi kehidupan. Satu orang yang dinyatakan positif saja memiliki dampak yang luas. Apalagi angka yang sedemikian banyak itu. Bukan hanya kesehatan yang akan terganggu namun, pendidikan, ekonomi, sosial dan politik juga akan merasakannya.

Sebagai makluk sosial yang memiliki potensi dalam mempercepat penyebaran Covid-19 dituntut untuk mengambil sikap yang tepat. Ketepatan bersikap tentu berbanding lurus dengan terputusnya mata rantai penyebaran. Apabila hal ini dapat terwujud berarti semakin banyak orang yang akan selamat dari efek negative penyebaran Covid-19.

Jangan egois. Pikirkan nasib orang lain. Bisa jadi kita dalam keadaan sehat, perkejaan mapan, dan ekonomi kuat. Saat divonis positif terjangkit Covid-19 dan harus menjalani isolasi, bisa saja tidak berpengaruh besar bagi kehidupan, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, keberlangsungan pendidikan anak-anak dan, lain sebagainya. Bisakah itu berlaku bagi orang lain? Dimana saat ini sedang dalam keadaan sakit kronis yang berpotensi buruk bila terjangkit Covid-19, berstatus sebagai pegawai kontrak, dan ekonomi yang belum mapan. Bagaimana dengan kebutuhan kesehariannya, keberlangsung pendidikan anak-anaknya, dan sebagainya.

Selalu dibutuhkan kepekaan terhadap nasib orang lain. Kurang bijak, misalkan hanya diri kita yang jadi ukuran. Coba lihatlah kanan kiri. Bagaimana kondisi mereka? Jangan sampai kita menyesal, lantaran sikap yang tidak peduli pada orang sekitar berakibat buruk baginya.

Tulungagung, 4 September 2020.

2 komentar:

  1. Semua dituntut untuk senantiasa bijak. Kapanpun, dimanapun. Berusaha untuk tetap mengedepankan protokol kesehatan, demi kebaikan bersama, seluruh masyarakat Indonesia. Jika belum mampu memberikan bantuan dalam skala besar, setidaknya dari kita semua membantu dgn cara menjaga diri sendiri dan keluarga.
    Semoga wabah ini juga lekas usai. Dan keadaan normal kembali seperti sediakala.
    Amin.

    BalasHapus
  2. Kepedulian kepada sesama bisa diawali dengan mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, dan mulai sekarang juga. Tulisan yang inspiratif. Terimakasih.

    BalasHapus