Masih tingginya penyebaran Covid-19 di Tulungagung menjadi dasar
keputusan pemerintah mengambil kebijakan belajar tetap dirumah. Sekolah yang menjadi
sasaran kebijakan termasuk PAUD dan SD. Ketentuan pemerintah dalam sistem
belajar dari rumah atau jarak jauh masih dilaksanakan seperti halnya tahun
semester lalu.
Kali ini tempat si kakak sekolah terlihat lebih siap menjalankan pembelajaran
jarak jauh. Guru sudah mendapatkan banyak pengalaman dari kegiatan pembelajaran
jarak jauh semester kemarin. Beberapa langkah strategis diambil sekolah dengan
prinsip mempermudah namun tetap mengejar target.
Semester kemarin tugas diberikan pada hari dimana mata pelajaran
tersebut terjadwal. Tugas yang sudah selesai dikerjakan dikirim ke watsapp guru
kelas berupa format JPEG atau PNG. Sehingga muncul beberapa masalah sebagai
berikut :
1.
Orang tua yang memiliki komitmen dan kesempatan mendidik anaknya
gelisah. Indikasi ini terlihat banyak pertanyaan dikirim ke grup watsapp.
Pertanyaan yang dikirim ke grup watsapp kelas bertalian dengan tugas sekolh
pada hari tersebut. Mayoritas dikirimkan oleh orang tua antara jam 07.00 -
09.00 WIB.
2.
Peserta didik yang memiliki fasilitas android dan sadar belajar
juga mengajukan pertanyaan berkaitan dengan tugas mapel di Grup WhatsApp kelas.
Anak model ini bisa berkali-kali mengirimkan pertanyaan di grup jika lama belum
mendapatkan respon dari guru.
3.
Sering kali tugas yang dikirim tidak terbaca dengan jelas.
4.
Ada 10 % anak yang tidak
pernah setor tugas. Saat dikonfirmasi yang bersangkutan penyebabnya adalah
keluarganya hanya memiliki 1 hanphone android dan setiap pagi sampai sore
dibawa ayahnya ketempat kerja. Ada juga anak didik yang memiliki hanphone android,
namun kuota internet lebih banyak digunakan untuk menikmati youtube daripada
digunakan untuk mengakses dan mengirimkan tugas.
Semester ini begitu berbeda. Tugas sudah disampaikan oleh guru di
grup kelas 1 hari sebelum jadwal mata pelajaran. Bukti telah menyelesaikan
tugas setiap hari Sabtu dikumpulkan dirumah koordinator yang telah ditunjuk
oleh guru kelas.
Hasilnya Alhamdulillah sekarang grup terpantau kondusif. Pagi hari
hampir tidak ada keributan di grup watsaap kelas. Semua anak didik sudah sibuk
menyelesaikan tugas dengan bimbingan orang tua masing-masing. Bagi anak yang
tak memiliki android sudah memiliki informasi tugas mata pelajaran sehari
sebelumnya. Semua tugas juga sudah terkumpul di koordinator dan guru tinggal
mengambil serta mengembalikan saat
selesai dikoreksi. Masalah yang ada tergolong wajar dengan adanya 2 buku tugas
yang belum dikasih nama oleh peserta didik.
Suasana kondusif turut keluarga kami rasakan. Pagi hari setelah
sholat subuh si kakak yang duduk di
kelas 5 SD membantu ibunya membersihkan rumah dan merapikan tempat tidur.
Dilanjutkan dengan mandi dan sarapan. Seperti halnya masa sebelum pandemi pukul
07.00 mulai belajar. Hanya saja yang berbeda kali ini belajar bukan lagi
disekolah namun didalam kamarnya.
Bagaimanapun juga masih anak - anak, saat mengerjakan tugas pengen
sekali dibantu sepenuhnya dalam menyelesaikan tugas. Tapi kami sebagai orang
tua berkomitmen, saat ini yang belajar adalah si anak tersebut maka ia yang
harus menyelesaikan tugas. Misalkan menemui kesulitan kami hanya memberikan
informasi cara menyelesaikan tugas bukan mengerjakannya. Bahkan berkaitan
dengan memahami perintah atau tugas kami tak mau langsung ambil alih, kami biarkan
si kakak membaca, memahami. Misalkan ada kesulitan kami identifikasi sejauh
mana pemahamannya, jika memang belum tepat baru kami memberikan penjelasan.
Hanya memang setelah tugas dikerjakan kami melakukan koreksi hasilnya.
Seandainya ada kesalahan sudah teridentifikasi.
Mendampingi anak memang butuh ketelatenan dan keseriusan. Sedikit
saja salah langkah tentu berimplikasi besar bagi kehidupannya mendatang.
Perspektif yang kami bangun belajar hasil itu penting, tetapi
belajar proses lebih penting. Kalau hanya mengejar hasil mumpung belajar dari
rumah bisa saja semua tugas kami selesaikan. Hasilnya tentu menggembirakan
unutk saat ini. Tetapi hal itu tidak kami lakukan. Kami sadar betul hal itu
bukan model pendidikan anak yang tepat. Biarkan si anak belajar dengan bersusah
payah dan berpusing ria. Semua ini untuk melatihanya berfikir dalam
menyelesaikan problem. Pengalaman akan menjadi guru utama baginya. Keberhasilan
mengatasi kesulitan-kesulitan diharapkan mampu memupuk kepercayaan diri dan melatih
ketekunan dalam menyelesaikan tugas. Semangat juang dan kreatifitanya akan
muncul seiring waktu. Saatnya nanti akan mampu menghadapi problematika yang
lebih besar dan rumit, sehingga keluar menjadi pemenang.



