Kamis, 30 Juli 2020

Seni Mendampingi Anak Seiring Kebijakan PJJ


Masih tingginya penyebaran Covid-19 di Tulungagung menjadi dasar keputusan pemerintah mengambil kebijakan belajar tetap dirumah. Sekolah yang menjadi sasaran kebijakan termasuk PAUD dan SD. Ketentuan pemerintah dalam sistem belajar dari rumah atau jarak jauh masih dilaksanakan seperti halnya tahun semester lalu.

Kali ini tempat si kakak sekolah terlihat lebih siap menjalankan pembelajaran jarak jauh. Guru sudah mendapatkan banyak pengalaman dari kegiatan pembelajaran jarak jauh semester kemarin. Beberapa langkah strategis diambil sekolah dengan prinsip mempermudah namun tetap mengejar target.

Semester kemarin tugas diberikan pada hari dimana mata pelajaran tersebut terjadwal. Tugas yang sudah selesai dikerjakan dikirim ke watsapp guru kelas berupa format JPEG atau PNG. Sehingga muncul beberapa masalah sebagai berikut :

1.    Orang tua yang memiliki komitmen dan kesempatan mendidik anaknya gelisah. Indikasi ini terlihat banyak pertanyaan dikirim ke grup watsapp. Pertanyaan yang dikirim ke grup watsapp kelas bertalian dengan tugas sekolh pada hari tersebut. Mayoritas dikirimkan oleh orang tua antara jam 07.00 - 09.00 WIB.  

2.    Peserta didik yang memiliki fasilitas android dan sadar belajar juga mengajukan pertanyaan berkaitan dengan tugas mapel di Grup WhatsApp kelas. Anak model ini bisa berkali-kali mengirimkan pertanyaan di grup jika lama belum mendapatkan respon dari guru.

3.    Sering kali tugas yang dikirim tidak terbaca dengan jelas.

4.    Ada  10 % anak yang tidak pernah setor tugas. Saat dikonfirmasi yang bersangkutan penyebabnya adalah keluarganya hanya memiliki 1 hanphone android dan setiap pagi sampai sore dibawa ayahnya ketempat kerja. Ada juga anak didik yang memiliki hanphone android, namun kuota internet lebih banyak digunakan untuk menikmati youtube daripada digunakan untuk mengakses dan mengirimkan tugas.

Semester ini begitu berbeda. Tugas sudah disampaikan oleh guru di grup kelas 1 hari sebelum jadwal mata pelajaran. Bukti telah menyelesaikan tugas setiap hari Sabtu dikumpulkan dirumah koordinator yang telah ditunjuk oleh guru kelas.

Hasilnya Alhamdulillah sekarang grup terpantau kondusif. Pagi hari hampir tidak ada keributan di grup watsaap kelas. Semua anak didik sudah sibuk menyelesaikan tugas dengan bimbingan orang tua masing-masing. Bagi anak yang tak memiliki android sudah memiliki informasi tugas mata pelajaran sehari sebelumnya. Semua tugas juga sudah terkumpul di koordinator dan guru tinggal mengambil  serta mengembalikan saat selesai dikoreksi. Masalah yang ada tergolong wajar dengan adanya 2 buku tugas yang belum dikasih nama oleh peserta didik.

Suasana kondusif turut keluarga kami rasakan. Pagi hari setelah sholat  subuh si kakak yang duduk di kelas 5 SD membantu ibunya membersihkan rumah dan merapikan tempat tidur. Dilanjutkan dengan mandi dan sarapan. Seperti halnya masa sebelum pandemi pukul 07.00 mulai belajar. Hanya saja yang berbeda kali ini belajar bukan lagi disekolah namun didalam kamarnya.

Bagaimanapun juga masih anak - anak, saat mengerjakan tugas pengen sekali dibantu sepenuhnya dalam menyelesaikan tugas. Tapi kami sebagai orang tua berkomitmen, saat ini yang belajar adalah si anak tersebut maka ia yang harus menyelesaikan tugas. Misalkan menemui kesulitan kami hanya memberikan informasi cara menyelesaikan tugas bukan mengerjakannya. Bahkan berkaitan dengan memahami perintah atau tugas kami tak mau langsung ambil alih, kami biarkan si kakak membaca, memahami. Misalkan ada kesulitan kami identifikasi sejauh mana pemahamannya, jika memang belum tepat baru kami memberikan penjelasan. Hanya memang setelah tugas dikerjakan kami melakukan koreksi hasilnya. Seandainya ada kesalahan sudah teridentifikasi.

Mendampingi anak memang butuh ketelatenan dan keseriusan. Sedikit saja salah langkah tentu berimplikasi besar bagi kehidupannya mendatang.

Perspektif yang kami bangun belajar hasil itu penting, tetapi belajar proses lebih penting. Kalau hanya mengejar hasil mumpung belajar dari rumah bisa saja semua tugas kami selesaikan. Hasilnya tentu menggembirakan unutk saat ini. Tetapi hal itu tidak kami lakukan. Kami sadar betul hal itu bukan model pendidikan anak yang tepat. Biarkan si anak belajar dengan bersusah payah dan berpusing ria. Semua ini untuk melatihanya berfikir dalam menyelesaikan problem. Pengalaman akan menjadi guru utama baginya. Keberhasilan mengatasi kesulitan-kesulitan diharapkan mampu memupuk kepercayaan diri dan melatih ketekunan dalam menyelesaikan tugas. Semangat juang dan kreatifitanya akan muncul seiring waktu. Saatnya nanti akan mampu menghadapi problematika yang lebih besar dan rumit, sehingga keluar menjadi pemenang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar