Qurban Secara
etimologis berasal dari kata qaruba-yaqrubu-qurban-qurbanan, berarti
berupaya untuk mendekatkan. Dalam makna terminologisnya, istilah Qurban atau
adha (udhiyah), sebagaimana penjelasan Wahab Al-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqh
Al-Islam wa ‘adilatuhu adalah menyembelih hewan tertentu dengan niat
mendekatkan diri kepada Allah dalam waktu tertentu.
Pasca ritual
shalat Idh, umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakan hari raya ini dengan
menyembelih hewan ternak berupa kambing, sapi, domba, ataupun unta. Hari raya
ini, dapat dijadikan sarana bagi kaum muslim yang tidak haji mendapatkan
kesempatan tahun ini, sebagai sebuah simbol ketaqwaan dan taqarrub
kepada Allah.
Allah berfirman:
“Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah
untuk mendekatkan diri kepada Allah)” (QS. Alkautsar: 2).
Menurut
mayoritas Ulama’, hukum berkurban adalah sunah muakkadah. Berkurban memiliki
banyak manfaat baik dari sisi kesalehan spiritual mapun kesalehan social.
Dimensi kesalehan social dari qurban di samping setiap tetesan darahnya
bernilai ketaatan kepada Allah, ritual qurban merupakan implementasi rasa
syukur atas limpahahan rizqi dari Allah. Sedangkan dimensi kesalehan sosialnya
berupa tumbuh suburnya rasa solidaritas, peka terhadap fakir miskin, dan
mewujudkan pemerataan sosial.
Jika melirik kebelakang
ada realitas sejarah dari perayaan Idul Adha. Ada peristiwa peristiwa besar
dalam sejarah hari raya ini yaitu ketakwaan Nabi Ibrahim kepada kepada sang
Khaliq. Allah memberikan perintah kepada Nabi Ibrahim untuk mengorbankan buah
hati yang begitu dicintainya yaitu Nabi Ismail. Meskipun akhirnya, Allah
menggantinya dengan sembelihan yang besar (dzibhin 'adhim) berupa seekor
domba.
Idul Adha memiliki
sejarah penuh makna edukatif. Sudah sepantasnya diabadikan sebagai sarana
"cultural memory" dan proses internalisasi moralitas, yaitu; pentingnya
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, larangan berbuat dzalim, dan menganggap
diri atau kelompoknya paling diantara yang lain. Sebab semua itu jauh dari prinsip
Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.
Idul Adha
merupakan rujukan bagi orang tua masa kini agar dapat meneladani kembali Nabi
Ibrahim, terutama kaitannya dengan mendidik anak. Lebih-lebih pendidikan
karakter bagi generasi milenial yang terkenal dengan degradasi moral dan isunya
selalu hangat diperbincangkan. Sebuah era keprihatinan mayoritas orang tua
modern, akibat sisi hitam globalisasi telah menyeret karakter generasi muda
jauh dari nilai-nilai agama. Saat ini mayoritas anak muda sekarang, lebih
cenderung bersikap pragmatis-hedonis, individualis, dan terseret pada
aliran-aliran yang tak sesuai ideologi dan merusak kebudayaan leluhurnya.
Nabi Ibrahim mampu
membuktikan dengan menggembleng pribadi Nabi Isma'il memiliki sikap ketaataan,
kelembutan, dan spiritualitas tinggi. Sehingga sebagai anak, Isma'il bisa
memuliakan orang tua dan menghormati tradisi yang berkembang. Sebagaimana telah
tergambar begitu nyata di dalam Al-qur'an;
"Maka tatkala anak itu sampai (pada
umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah
apa pendapatmu?” (Q.S. Ash-Shaffat: 102). Maka, ketika Ibrahim menceritakan
mimpinya diperintah Allah untuk membunuhnya, Ismail pun dengan gagah berani
menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu: insya
Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (Q.S.
Ash-Shaffat: 102).
Memperhatikan
dialog interaktif antara Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il anaknya dalam ayat
tersebut, mengindikasikan bahwa pendidikan karakter yang diimplementasikan lebih
mengutamakan metode keteladanan. Nabi Ibrahim sebagai orang tua tentu memiliki struktur
dominan, namun realitanya tidak memaksa Nabi Isma'il dengan kekuasaannya. Tidak
ada penindasan yang menggiring seorang anak ke arah ketaatan bisu. Melainkan, memposisikannya
secara equal, setara, dan dianggap sebagai partner dalam menemukan
kebenaran hakiki.
Model pendidikan
Nabi Ibrahim terlihat humanis, memuliakan, dan memberikan penghormatan pada
anak. Wajar, jika berdampak pada putranya secara langsung, meskipun tergolong
masih berumur muda, Nabi Isma’il telah menunjukkan rasa penghormatan dan
baktinya kepada orang tuanya.
Selain itu,
meskipun kapasitas Nabi Isma’il sebagai seorang anak, ia mampu menempatan
secara kritis dan tepat ketika berkomunikasi kepada ayahnya. Tampak dengan
kecerdasan spiritualitas tinggi, sehingga mampu memberikan problem solving
atas peliknya masalah yang dihadapi orang tuanya. Tidak hanya itu Nabi Isma'il,
bisa menyakinkan kepada orang tuanya yang sempat ragu agar tetap merealisasikan
perintah Allah dengan penuh keimanan. Serta membuktikan kepada Nabi Ibrahim, ia
adalah sosok yang taat dan sabar terhadap perintah Allah.
Keberhasilan
mendidik anak cerdas, shaleh dan mulia seperti Nabi Ismail, patut menjadi model
dan rujukan bagi orang tua di era sekarang. Turutama sekali, proses mendidik
anak berakhlakul karimah, pasti tidak instan atau 'bim salabim'. Butuh
keseriusan, keuletan, riyadhah, do'a, dan sekaligus keteladanan.
Rasulullah
bersabda: “Didiklah anak-anakmu karena mereka hidup di zaman yang tidak sama
dengan zamanmu”.
Jika dilihat
dari prespektif teori fungsional struktural, bahwa keberhasilan pendidikan anak
banyak dipengaruhi oleh hubungan harmonis antara orang tua, masyarakat, dan
lembaga pendidikan. Selain itu, kunci kesuksesan pendidikan Nabi Ibrahim dengan
tetap mengambil peran aktif internalisasi nilai-nilai agama.
Rasulullah
bersada: “Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara: mencintai Nabimu, mencintai
ahlu baitnya dan membaca al-Qur’an”. (HR. Tabrani).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar