Senin, 03 Agustus 2020

Idhul Qurban : Rujukan Konstruksi Karakter Anak


Qurban Secara etimologis berasal dari kata qaruba-yaqrubu-qurban-qurbanan, berarti berupaya untuk mendekatkan. Dalam makna terminologisnya, istilah Qurban atau adha (udhiyah), sebagaimana penjelasan Wahab Al-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqh Al-Islam wa ‘adilatuhu adalah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah dalam waktu tertentu.

Pasca ritual shalat Idh, umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakan hari raya ini dengan menyembelih hewan ternak berupa kambing, sapi, domba, ataupun unta. Hari raya ini, dapat dijadikan sarana bagi kaum muslim yang tidak haji mendapatkan kesempatan tahun ini, sebagai sebuah simbol ketaqwaan dan taqarrub kepada Allah.

Allah berfirman: “Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah)” (QS. Alkautsar: 2).

Menurut mayoritas Ulama’, hukum berkurban adalah sunah muakkadah. Berkurban memiliki banyak manfaat baik dari sisi kesalehan spiritual mapun kesalehan social. Dimensi kesalehan social dari qurban di samping setiap tetesan darahnya bernilai ketaatan kepada Allah, ritual qurban merupakan implementasi rasa syukur atas limpahahan rizqi dari Allah. Sedangkan dimensi kesalehan sosialnya berupa tumbuh suburnya rasa solidaritas, peka terhadap fakir miskin, dan mewujudkan pemerataan sosial.

Jika melirik kebelakang ada realitas sejarah dari perayaan Idul Adha. Ada peristiwa peristiwa besar dalam sejarah hari raya ini yaitu ketakwaan Nabi Ibrahim kepada kepada sang Khaliq. Allah memberikan perintah kepada Nabi Ibrahim untuk mengorbankan buah hati yang begitu dicintainya yaitu Nabi Ismail. Meskipun akhirnya, Allah menggantinya dengan sembelihan yang besar (dzibhin 'adhim) berupa seekor domba.

Idul Adha memiliki sejarah penuh makna edukatif. Sudah sepantasnya diabadikan sebagai sarana "cultural memory" dan proses internalisasi moralitas, yaitu; pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, larangan berbuat dzalim, dan menganggap diri atau kelompoknya paling diantara yang lain. Sebab semua itu jauh dari prinsip Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Idul Adha merupakan rujukan bagi orang tua masa kini agar dapat meneladani kembali Nabi Ibrahim, terutama kaitannya dengan mendidik anak. Lebih-lebih pendidikan karakter bagi generasi milenial yang terkenal dengan degradasi moral dan isunya selalu hangat diperbincangkan. Sebuah era keprihatinan mayoritas orang tua modern, akibat sisi hitam globalisasi telah menyeret karakter generasi muda jauh dari nilai-nilai agama. Saat ini mayoritas anak muda sekarang, lebih cenderung bersikap pragmatis-hedonis, individualis, dan terseret pada aliran-aliran yang tak sesuai ideologi dan merusak kebudayaan leluhurnya.

Nabi Ibrahim mampu membuktikan dengan menggembleng pribadi Nabi Isma'il memiliki sikap ketaataan, kelembutan, dan spiritualitas tinggi. Sehingga sebagai anak, Isma'il bisa memuliakan orang tua dan menghormati tradisi yang berkembang. Sebagaimana telah tergambar begitu nyata di dalam Al-qur'an;

 "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” (Q.S. Ash-Shaffat: 102). Maka, ketika Ibrahim menceritakan mimpinya diperintah Allah untuk membunuhnya, Ismail pun dengan gagah berani menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu: insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (Q.S. Ash-Shaffat: 102).

Memperhatikan dialog interaktif antara Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il anaknya dalam ayat tersebut, mengindikasikan bahwa pendidikan karakter yang diimplementasikan lebih mengutamakan metode keteladanan. Nabi Ibrahim sebagai orang tua tentu memiliki struktur dominan, namun realitanya tidak memaksa Nabi Isma'il dengan kekuasaannya. Tidak ada penindasan yang menggiring seorang anak ke arah ketaatan bisu. Melainkan, memposisikannya secara equal, setara, dan dianggap sebagai partner dalam menemukan kebenaran hakiki.

Model pendidikan Nabi Ibrahim terlihat humanis, memuliakan, dan memberikan penghormatan pada anak. Wajar, jika berdampak pada putranya secara langsung, meskipun tergolong masih berumur muda, Nabi Isma’il telah menunjukkan rasa penghormatan dan baktinya kepada orang tuanya.

Selain itu, meskipun kapasitas Nabi Isma’il sebagai seorang anak, ia mampu menempatan secara kritis dan tepat ketika berkomunikasi kepada ayahnya. Tampak dengan kecerdasan spiritualitas tinggi, sehingga mampu memberikan problem solving atas peliknya masalah yang dihadapi orang tuanya. Tidak hanya itu Nabi Isma'il, bisa menyakinkan kepada orang tuanya yang sempat ragu agar tetap merealisasikan perintah Allah dengan penuh keimanan. Serta membuktikan kepada Nabi Ibrahim, ia adalah sosok yang taat dan sabar terhadap perintah Allah.

Keberhasilan mendidik anak cerdas, shaleh dan mulia seperti Nabi Ismail, patut menjadi model dan rujukan bagi orang tua di era sekarang. Turutama sekali, proses mendidik anak berakhlakul karimah, pasti tidak instan atau 'bim salabim'. Butuh keseriusan, keuletan, riyadhah, do'a, dan sekaligus keteladanan.

Rasulullah bersabda: “Didiklah anak-anakmu karena mereka hidup di zaman yang tidak sama dengan zamanmu”.

Jika dilihat dari prespektif teori fungsional struktural, bahwa keberhasilan pendidikan anak banyak dipengaruhi oleh hubungan harmonis antara orang tua, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Selain itu, kunci kesuksesan pendidikan Nabi Ibrahim dengan tetap mengambil peran aktif internalisasi nilai-nilai agama.

Rasulullah bersada: “Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara: mencintai Nabimu, mencintai ahlu baitnya dan membaca al-Qur’an”. (HR. Tabrani).

Nabi Ibrahim sadar, mempersiapkan generasi yang cerdas, kritis, dan bermartabat harus dimulai dengan pembangunan karakter yang kuat. Inilah faktor kunci keberhasilan pendidikan Nabi Ibrahim, sehingga Isma'il menjadi generasi yang tidak hanya shaleh spiritual tetapi juga shaleh secar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar