Tahun ini mendadak ada keputusan lanjut studi. Ada beberapa hal yang
memang menjadi dasar pertimbangan. Misalkan diberi pertanyaan, apakah sudah
siap? Tentu jawabnya “belum siap”. Bagi saya kesiapan itu bisa berjalan seiring
waktu dan kebutuhan. Kesiapan biasanya terbentu saat ada tuntutan. Hal ini
memang kebiasaan yang dapat dikategorikan buruk. Namun, semua butuh proses untuk
mereduksi kebiasaan yang tidak baik tersebut.
Pada saat membuka brosur
pendaftaran mahasiswa baru. Salah satu persyaratannya berupa proposal
disertasi. Proposal disertasi ini selain sebagai syarat administratif juga akan
menjadi bahan ujian.
Ditengah kebingungan dengan berbagai keterbatasan teori dan pengalaman
terkait dengan disertasi. Coba saya temui beberapa kawan yang sudah lebih dulu
lanjut studi. Maksud dari hal itu agar mendapat petunjuk. Hasilnya, mayoritas
kawan menyampaikan proposal tersebut tidak harus ideal. Boleh dikata yang
penting ada. Toh, nanti juga akan mengalami perubahan pemikiran seiring dengan
bertambahnya wacana keilmuan pasca pembelajaran dikelas.
Mendengar penjelasan tersebut, ternyata belum juga mengobati kegundahan
dalam pikiran. Sekali lagi coba saya meminta arahan kawan yang saya rasa beliau
ini orang yang ideal hampir dalam segala hal. Teman terakhir menyarankan
“sebaiknya memang proposal disusun dengan sebaik-baiknya dan lebih bagus lagi
misalnya tema proposal sudah tepat, sangat mungkin bisa dilanjutkan menjadi
tema proposal disertasi diakhir studi”. Harapannya seiring bertambahnya wacana
keilmuan dan pengalaman tema penelitian tersebut dapat dilengkapi segala
sesuatunya menjadi bahan ujian proposal.
Alhamdulillah penjelasan teman terakhir mampu menjawab kegundahan. Meskipun
muncul masalah baru terkait dengan masalah penelitian sekelas disertasi.
Demi menutupi kekurangan probadi, mulailah berjalan-jalan di beberapa
jurnal terindeks scopus, membaca buku yang berhasil diunduh dari website
penyedia buku dan buku cetak dirumah, membaca beberapa disertasi yang ada di
repository beberapa perguruan tinggi ternama, mengikuti webinar online afirmasi
research mahasiswa doktoral, menyimak beberapa konten ujian tertutup program doktoral
dan menyimak konten metodologi penelitian dari beberapa profesor di youtube.
Pasca melakukan semua itu, mulailah menyusun proposal disertasi. Ternyata tidak mudah, beberapa kesulitan masih ditemui. Pikiran dipaksa untuk terus memproduksi ide yang dikemas dalam rangkaian kata dan jari terus mengiringi dengan tarian indahnya diatas keyboard. Belum puas memang, tetapi yang jelas usaha sudah maksimal. Selanjutnya tidak pasrah dengan ketentuan sang penguasa alam.
Tulungagung, 26 Agustus 2020.

Kok bikin nyali jadi mengkerut y kalau syaratnya begitu.
BalasHapus