Minggu, 09 Agustus 2020

Urgensi Rekonstruksi Media Dakwah Moderasi Beragama di Media Sosial


Era dirupsi media online menempati posisi penting bagi kehidupan. Indikasinya dapat diketahui dari besarnya jumlah penduduk sebagi user dunia maya. Indonesia juga menjadi negara pengguna internet dalam kategori besar.

Berdasarkan penelitian platform manajemen media sosial Hoot Suite dan agensi marketing sosial We Are Social berjudul "Global Digital Reports 2020", pada akhir bulan januari 2020 sebanyak 64% atau 175,4 juta penduduk negara Indonesia merupakan pengguna Internet. Sedangkan saat ini jumlah penduduk Indonesia adalah 272,1 juta jiwa. Jumlah ini merupakan jumlah yang besar. Maknanya jumlah pengguna internet tahun 2020 mengalami peningkatan sebanyak 17% dari tahun 2019 atau sekitar 25 juta pengguna.

Masih berdasarkan hasil riset yang sama menunjukkan Indonesia menempati rangking 10 besar pecandu internet. Indonesia telah menempati urutan kedelapan sebagai pengguna internet. Sebetulnya hal ini mengalami penurunan, sebab pada tahun lalu Indonesia telah menempati urutan ke lima.

Berkaitan dengan penggunaan media sosial Indonesia telah mengalami peningkatan 8,1 % atau sekitar 1,2 juta. Artinya saat ini Indoensia telah mengalami penetrasi penggunaan media sosial 59 % dari total penduduk yang ada. Realitas yang juga mencengangkan rata-rata waktu yang digunakan menikmati media sosial dalam sehari mencapai 3 jam 26 menit setiap hari. Angka ini telah melampaui angka rata-rata global yang hanya mencapai 2 jam 24 menit per hari.

Youtube merupakan media social yang banyak di akses oleh penduduk Indonesia. Indonesia menempati urutan pertama dalam penggunaan youtube dengan capaian angka 88%. Wastapp menempati urutan kedua yaitu 84%. Sebesar 82% merupakan pengguna facebook. Sedangkan Instagram berada pada urutan terakhir yakni sebesar 79 %.

Para penikmat media social memiliki sebaran umur yang hampir merata. Media social banyak dinikmati bagi mereka mulai dari usia 16 sampai dengan 64 tahun.

Paparan data diatas dapat dijadikan sebagai dasar dalam pemanfaatan media sosial sebagai sarana dakwah moderasi beragama. Ketepatan dalam memaknai data dan mengambil peluang yang tersirat akan memberikan pengaruh besar dalam mencapai keberhasilan menciptakan kehidupan yang berdampingan dalam perbedaan.

Saat ini media social banyak dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis untuk menyebarkan ideologinya. Kelompok mendapatkan simpati yang begitu besar di youtube. Konten yang mereka upload di youtube mendapatkan apresiasi positif sampai jutaan dari netizen. Padahal yang kita tahu konten yang berasal dari kelompok ini jauh dari prinsip dasar moderasi beragama. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan paradigma netizen. Dimana sebagai besar netizen ini merupakan  generasi milenial.

Berangkat dari fenomena diatas diperlukan respon positif dari kelompok yang berpaham Islam wasathiyah yang kreatif dan tanggap. Sebagai upaya menjaga keseimbangan informasi yang dibutuhkan.

Saat ini memang sudah menunjukkan geliat yang bagus dengan adanya peran santri gayeng di Youtube. Santri gayeng mengupload pengajian Gus Baha dengan tetap menyesuaikan dengan isu yang berkembang. Hasilnya menunjukkan ada gejala positif dengan ratusan ribu netizen yang memberikan penghargaam positif. Memang sudah saatnya informasi pengetahuan keagamaan yang moderat ini dimunculkan lebih banyak lagi. Dunia internet ini ibarat pasar bebas siapapun yang berhasil menyediakan lebih banyak informasi dan sering dinikmati maka itu yang akan sering muncul.

Sebetulnya bisa dengan mudah informasi moderat ini mampu menguasai media social. Saat dilihat dari sisi jumlah negara ini mayoritas masih suka dengan ulama-ulama yang jelas rekam jejaknya, bukan yang dikemas sedemikian rupa dan merupakan tokoh dengan proses instan. Indikasi ini terlihat dengan website www.nu.or.id merupakan salah satu website milik NU yang mendapatkan respon jutaan pengguna internet. Besarnya jumlah peminat ulama yang moderat ini merupakan peluang besar. Hanya saja kedepan dibutuhkan keseriusan, konsistensi, ketepatan menangkap perkembangan isu dan pemanfaatan jaringan.

Sudah saatnya para pendakwah yang moderat ini bergeser ke media social. Pergeseran media dalam berdakwah ini sebagai sebuah respon kecenderungan umat. Saat ini memang banyak sekali pemeluk umat Islam baru. Pemeluk islam baru ini merupakan kelompok yang memiliki kecenderungan membutuhkan informasi yang instan dan simple. Mereka lebih suka mengakses informasi atas solusi yang dihadapinya sekarang. Informasi yang paling mereka sukai yang berbentuk praktis menjawab masalah dengan sajian yang sederhana.

Harapannya dengan terwujudnya konten yang berisi prinsip-prinsip moderat dalam beragama di media social, para penikmat media social dikalangan generasi milenial mendapatkan materi pengayaan. Generasi ini masih sangat membutuhkan bimbingan berupa informasi. Semakin banyak konten yang moderat disediakan dimedia social akan semakin besar pengaruh positif bagi paradigma keberagamaan. Generasi ini cenderung menjadikan media social ini sebagai kiblat dan referensi dalam pemahaman keberamaan.

Tulungagung, 12 Agustus 2020.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar