Era dirupsi
media online menempati posisi penting bagi kehidupan. Indikasinya dapat
diketahui dari besarnya jumlah penduduk sebagi user dunia maya. Indonesia juga
menjadi negara pengguna internet dalam kategori besar.
Berdasarkan
penelitian platform manajemen media sosial Hoot Suite dan agensi
marketing sosial We Are Social berjudul "Global Digital Reports
2020", pada akhir bulan januari 2020 sebanyak 64% atau 175,4 juta penduduk
negara Indonesia merupakan pengguna Internet. Sedangkan saat ini jumlah
penduduk Indonesia adalah 272,1 juta jiwa. Jumlah ini merupakan jumlah yang
besar. Maknanya jumlah pengguna internet tahun 2020 mengalami peningkatan
sebanyak 17% dari tahun 2019 atau sekitar 25 juta pengguna.
Masih
berdasarkan hasil riset yang sama menunjukkan Indonesia menempati rangking 10
besar pecandu internet. Indonesia telah menempati urutan kedelapan sebagai
pengguna internet. Sebetulnya hal ini mengalami penurunan, sebab pada tahun
lalu Indonesia telah menempati urutan ke lima.
Berkaitan dengan
penggunaan media sosial Indonesia telah mengalami peningkatan 8,1 % atau
sekitar 1,2 juta. Artinya saat ini Indoensia telah mengalami penetrasi
penggunaan media sosial 59 % dari total penduduk yang ada. Realitas yang juga
mencengangkan rata-rata waktu yang digunakan menikmati media sosial dalam
sehari mencapai 3 jam 26 menit setiap hari. Angka ini telah melampaui angka
rata-rata global yang hanya mencapai 2 jam 24 menit per hari.
Youtube merupakan
media social yang banyak di akses oleh penduduk Indonesia. Indonesia menempati
urutan pertama dalam penggunaan youtube dengan capaian angka 88%. Wastapp
menempati urutan kedua yaitu 84%. Sebesar 82% merupakan pengguna facebook.
Sedangkan Instagram berada pada urutan terakhir yakni sebesar 79 %.
Para penikmat
media social memiliki sebaran umur yang hampir merata. Media social banyak
dinikmati bagi mereka mulai dari usia 16 sampai dengan 64 tahun.
Paparan data
diatas dapat dijadikan sebagai dasar dalam pemanfaatan media sosial sebagai
sarana dakwah moderasi beragama. Ketepatan dalam memaknai data dan mengambil
peluang yang tersirat akan memberikan pengaruh besar dalam mencapai
keberhasilan menciptakan kehidupan yang berdampingan dalam perbedaan.
Saat ini media social
banyak dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis untuk menyebarkan ideologinya. Kelompok
mendapatkan simpati yang begitu besar di youtube. Konten yang mereka upload di youtube
mendapatkan apresiasi positif sampai jutaan dari netizen. Padahal yang kita
tahu konten yang berasal dari kelompok ini jauh dari prinsip dasar moderasi
beragama. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan paradigma netizen.
Dimana sebagai besar netizen ini merupakan generasi milenial.
Berangkat dari fenomena
diatas diperlukan respon positif dari kelompok yang berpaham Islam wasathiyah
yang kreatif dan tanggap. Sebagai upaya menjaga keseimbangan informasi yang dibutuhkan.
Saat ini memang
sudah menunjukkan geliat yang bagus dengan adanya peran santri gayeng di
Youtube. Santri gayeng mengupload pengajian Gus Baha dengan tetap menyesuaikan
dengan isu yang berkembang. Hasilnya menunjukkan ada gejala positif dengan ratusan
ribu netizen yang memberikan penghargaam positif. Memang sudah saatnya informasi
pengetahuan keagamaan yang moderat ini dimunculkan lebih banyak lagi. Dunia internet
ini ibarat pasar bebas siapapun yang berhasil menyediakan lebih banyak
informasi dan sering dinikmati maka itu yang akan sering muncul.
Sebetulnya bisa dengan
mudah informasi moderat ini mampu menguasai media social. Saat dilihat dari
sisi jumlah negara ini mayoritas masih suka dengan ulama-ulama yang jelas rekam
jejaknya, bukan yang dikemas sedemikian rupa dan merupakan tokoh dengan proses
instan. Indikasi ini terlihat dengan website www.nu.or.id
merupakan salah satu website milik NU yang mendapatkan respon jutaan pengguna
internet. Besarnya jumlah peminat ulama yang moderat ini merupakan peluang
besar. Hanya saja kedepan dibutuhkan keseriusan, konsistensi, ketepatan menangkap
perkembangan isu dan pemanfaatan jaringan.
Sudah saatnya
para pendakwah yang moderat ini bergeser ke media social. Pergeseran media
dalam berdakwah ini sebagai sebuah respon kecenderungan umat. Saat ini memang
banyak sekali pemeluk umat Islam baru. Pemeluk islam baru ini merupakan
kelompok yang memiliki kecenderungan membutuhkan informasi yang instan dan simple.
Mereka lebih suka mengakses informasi atas solusi yang dihadapinya sekarang.
Informasi yang paling mereka sukai yang berbentuk praktis menjawab masalah dengan
sajian yang sederhana.
Harapannya dengan
terwujudnya konten yang berisi prinsip-prinsip moderat dalam beragama di media social,
para penikmat media social dikalangan generasi milenial mendapatkan materi
pengayaan. Generasi ini masih sangat membutuhkan bimbingan berupa informasi. Semakin
banyak konten yang moderat disediakan dimedia social akan semakin besar pengaruh
positif bagi paradigma keberagamaan. Generasi ini cenderung menjadikan media social
ini sebagai kiblat dan referensi dalam pemahaman keberamaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar