Rabu, 22 Juli 2020

Kuasa Allah dan Keterbatasan Akal

Islam memberikan perintah kepada umatnya agar memberikan manfaat bagi sesamanya. Pemberian manfaat diserahkan sepenuhnya kepada pelaku. Semua yang dititipkan oleh Allah memiliki potensi sebagai daya dukung.

Agama tidak mengatur secara pasti bentuk pemberian. Tentu tetap memperhatikan kemaslahatan. Artinya berlaku untuk semua hal yang bermanfaat.

Masing-masing individu muslim dianugerahi oleh sang Kholiq dengan berbagai kelebihan. Ada yang memang di titipi rizqi yang banyak, jabatan tinggi, ilmu yang luas dan keluhuran akhlak. Semua itu dapat digunakan untuk menolong yang lain.

Hapus saja pikiran menolong menunggu disaat memiliki kelebihan. Poin pentingnya bukan lagi terletak pada besarnya pemberian. Tetapi, lebih pada ketepatan waktu dibutuhkan serta keinginan mengharap Ridha Allah.

Apa dia ingat budi baik kita? Lupakan itu. Tidak perbuatan baik yang sia-sia. Ingat! Orang yang kita tolong ini makhluk Allah. Bisa saja yang bersangkutan lupa jasa baik kita tapi ingatlah Allah tidak akan melupakan itu.

Setiap kita menolong kesusahan sesama pasti Allah akan membalasnya. Meskipun balasan itu terkadang tidak sama bentuknya dengan bayangan kita. 

Balasan kebaikan dari Allah begitu bervariatif. Hanya otak kita saja yang sering tidak sampai pada titik paham. Sederhana saja setiap gaji dari pekerjaan yang kita lakukan pembayarannya begitu bermacam-macam. Gaji suatu misal, bisa dibayarkan tunai ada juga yang lewat transfer bank. 

Manusia sebagai hamba lemah sudah begitu kreatif, Apalagi sang khaliq? 

Saya rasa begitu cetek pikiran kita, jika hanya mampu menangkap balasan Allah secara material saja. Allah memiliki kekuasaan tidak terbatas ruang dan waktu.  Penghargaan dapat dilakukan dengan triliunan cara. Hanya saja kita sebagai makhluk sering gagal paham.

Ada satu riwayat :

Suatu hari ada seorang pemuda yang memiliki uang Rp. 100.000,-. Sebagai pemuda yang pernah belajar agama ia memiliki keyakinan bahwa Allah akan melipatgandakan Rizqi yang disedekahkan. Singkat cerita uang diberikan kepada pemulung yang lewat. Hari itu ia hanya duduk saja diteras rumah sambil bermain gadget. Terus saja dia berharap Allah akan membalas tunai berupa uang Rp. 1.000.000,-. 
Kebiasanya setiap pagi sampai siang ngopi di warung sebelah. Ya, kebetulan hari itu tentu tidak seperti biasanya sebab uangnya sudah disedekahkan. Warung kopi tempat yang biasanya buat nongkrong terjadi kebakaran. Peristiwa kebakaran memang tidak memakan korban jiwa. Tetapi, semua motor pengunjung terbakar habis.

Sekarang kita bayangkan apa yang terjadi jika uang tersebut tak disedekahkan? Pemuda tersebut bisa menjadi salah satu orang korban motor terbakar. Taruhlah  motor seharga 15 juta.

Begitu lembut Allah memberikan penghargaan atas kebaikan yang kita lakukan. Bentuknya bisa saja berbeda dengan harapan kita. Pastinya, semua itu demi kebaikan kita sebagai hamba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar