Rabu, 08 Juli 2020

Keteladanan Role Model Pendidikan Karakter



Pendidikan merupakan sarana dalam menjaga eksistensi manusia. Menjaga eksistensi manusia dapat dilakukan dengan memberikan bekal kompetensi. Secara filosofis “semua hal didunia ini terjadi perubahan, kecuali perubahan itu sendiri”. Setiap perubahan pasti menimbulkan konflik. Konlik yang terjadi merupakan tantangan bagi setiap manusia. Siapapun yang dapat menyesuaikan sikap dalam menghadapi maka dapat keluar sebagai pemenang.


Belajar dari apa yang telah dilakukan oleh baginda Rasulullah dalam Nashih Ulwan “kunci sukses Pendidikan adalah keteladanan”. Melalui keteladanan yang ada, peserta didik mendapatkan gambaran riil dalam berakhlak. Bila hal ini tercipta seorang pendidik betul-betul dapat disebut sebagai guru (digugu dan ditiru).

Apa yang disampaikan berasal kebiasaan sang pendidik. Dalam konteks mendidik hal ini menjadi sangat penting untuk dilakukan. Sebab, keberhasilan guru menjadi tokoh panutan memiliki implikasi besar pada keberhasilan peserta didik. Jangan sampai peserta didik menemukan satu keadaan yang berbeda dari apa yang diperolehnya melalui guru tersebut.

Islam telah memberikan penegasan dalam al-qur’an surat Al Baqarah surat al Baqarah ayat 44 :

 “'mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab. Maka tidaklah kamu berpikir?” (Q.S. Al-Baqarah : 44)

Dalam Quran surat As Saff ayat 2-3 juga ditegaskan :

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Q.S As Saff : 2-3)

Keteladanan seorang pendidik menjadi faktor yang penting untuk diperhatikan. Terwujudnya sebuah keteladanan merupakan bagian integral dari proses pendidikan. Tujuan dalam proses pendidikan harus mampu membekali anak didik dengan kompetensi memecahkan masalah kehidupan, baik kehidupan sebagai pribadi ataupun bagian dari kelompok. Peserta didik dituntut bijak dalam kehidupan dimasa depan dengan menyelesaikan masalah tanpa menimbilkan masalah.

Sebagai upaya konkrit implementasi metode keteladanan sebagaimana pendapat Muhaimin dan Abdul Mujib harus memperhatikan 3 hal yaitu 1) Menekankan tujuan bukan lagi alat, 2) Mempertimbangkan pembawaan dan kecenderungan peserta didik, 3) sesuatu yang bisa ditangkap indra direspon aktif akal).

Implementasi metode keteladanan memiliki relevansi dengan 2 capaian sekaligus yaitu :

1.       Capaian kognitif peserta mendapatkan pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan.

2.       Capaian Psikomotorik peserta didik mendapatkan gambaran nyata dan dengan sadar menirukannya.


1 komentar: