Pendidikan merupakan sarana dalam menjaga
eksistensi manusia. Menjaga eksistensi manusia dapat dilakukan dengan memberikan
bekal kompetensi. Secara filosofis “semua hal didunia ini terjadi perubahan,
kecuali perubahan itu sendiri”. Setiap perubahan pasti menimbulkan konflik.
Konlik yang terjadi merupakan tantangan bagi setiap manusia. Siapapun yang
dapat menyesuaikan sikap dalam menghadapi maka dapat keluar sebagai pemenang.
Belajar dari apa yang telah dilakukan oleh
baginda Rasulullah dalam Nashih Ulwan “kunci sukses Pendidikan adalah
keteladanan”. Melalui keteladanan yang ada, peserta didik mendapatkan gambaran
riil dalam berakhlak. Bila hal ini tercipta seorang pendidik betul-betul dapat
disebut sebagai guru (digugu dan ditiru).
Apa yang disampaikan berasal kebiasaan sang
pendidik. Dalam konteks mendidik hal ini menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Sebab, keberhasilan guru menjadi tokoh panutan memiliki implikasi besar pada
keberhasilan peserta didik. Jangan sampai peserta didik menemukan satu keadaan
yang berbeda dari apa yang diperolehnya melalui guru tersebut.
Islam telah memberikan penegasan dalam al-qur’an
surat Al Baqarah surat al Baqarah ayat 44 :
“'mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan)
kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu
membaca al-Kitab. Maka tidaklah kamu berpikir?” (Q.S. Al-Baqarah : 44)
Dalam Quran surat As Saff ayat 2-3 juga
ditegaskan :
Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu
mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Q.S As Saff : 2-3)
Keteladanan seorang pendidik menjadi faktor yang
penting untuk diperhatikan. Terwujudnya sebuah keteladanan merupakan bagian integral
dari proses pendidikan. Tujuan dalam proses pendidikan harus mampu membekali
anak didik dengan kompetensi memecahkan masalah kehidupan, baik kehidupan sebagai
pribadi ataupun bagian dari kelompok. Peserta didik dituntut bijak dalam
kehidupan dimasa depan dengan menyelesaikan masalah tanpa menimbilkan masalah.
Sebagai upaya konkrit implementasi metode keteladanan
sebagaimana pendapat Muhaimin dan Abdul Mujib harus memperhatikan 3 hal yaitu
1) Menekankan tujuan bukan lagi alat, 2) Mempertimbangkan pembawaan dan
kecenderungan peserta didik, 3) sesuatu yang bisa ditangkap indra direspon aktif
akal).
Implementasi metode keteladanan memiliki
relevansi dengan 2 capaian sekaligus yaitu :
1. Capaian
kognitif peserta mendapatkan pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan.
2. Capaian Psikomotorik
peserta didik mendapatkan gambaran nyata dan dengan sadar menirukannya.

Terima kasih ilmunya Bapak.
BalasHapus