Selasa, 29 September 2020

Keberkahan dalam Keterbatasan Ilmu Agama

 


 “ilmu iku kudu dadi petunjuk

Kakak ipar merupakan guru PNS bahasa inggris. Rutinitas harian mengajar di MTs N Demak. Semua jenjang pendidikan formal yang dilalui berupa sekolah umum. Selain sekolah formal tidak ada jenjang pendidikan yang di lakoni, artinya sama sekali tidak pernah menempuh pendidikan Pesantren ataupun Madrasah Diniyah (sekolah sore).

Semasa usia sekolah, ilmu agama hanya diperoleh dari guru PAI. Sedangkan sekolah umum hanya mengalokasi 2 jam pelajaran dalam seminggu. Berdasarkan pengalaman dan hasil diskusi ilmiah memang sulit sekali memaksimalkan proses pembelajaran dengan waktu yang relative sedikit. Alhasil keterbatasan alokasi waktu berbanding lurus dengan minimnya capaian kompetensi siswa.

Kakak ipar adalah seorang anak yang di didik dilingkungan keluarga yang memang tidak agamis. Bapak dan Ibunya adalah seorang guru SD. Rutinitas pekerjaan sebagai seorang guru PNS di SD menjadi salah satu penyebab keluarganya jauh dari nilai-nilai agama. Hari demi hari berlalu dengan suasa gersang. Lantunan ayat-ayat suci Ilahi jarang sekali terdengar, rutinitas sholat tidak terlihat, dan saat ada acara bancaan saja terdengar bacaan kalimah thoyyibah.

Lingkungan tempat tinggal memang tidak mengindikasikan adanya semangat keberagamaan yang tinggi. Hanya ada satu Mushola yang menjadi pusat kegiatan keagamaan. Kegiatan mengaji di Mushola juga tidak dikelola dengan baik. Selain Mushola juga tidak ada pondok pesantren ataupun Madrasah Diniyah sebagai pusat pendidikan keagamaan bagi anak-anak.

Pengalaman proses pendidikan tidak efektif yang selama ini telah dijalani ternyata memberikan pengaruh besar yakni berupa minimnya pengetahuan dan pengamalan nilai-nilai religius. Hal ini memang bukan hal yang aneh. Sebab, menurut Ki Hajar Dewantara ada 3 pusat pendidikan yakni sekolah, keluarga dan lingkungan. Kebetulan dari tiga pusat pendidikan tersebut berjalan seiring seirama, namun bukan mendukung proses pendidikan tetapi sebaliknya. Memang tidak mengherankan jika kemudian proses pendidikan tidak berjalan secara efektif. Ketiga seperti bersepakat untuk tidak memberikan yang terbaik.

Minimnya pengetahuan dan pengalaman dalam bidang agama ternyata bukan akhir dari kehidupan. Alhamdulillah setelah menikah, si kakak dengan sabar mendidiknya dalam hal agama. Cara berpakaian, rutinititas keagamaan, intensitas membaca al-quran, dan pengamalan agama yang lain berubah 180 derajat. Boleh dibilang mendadak sholehah. Dalam kurun waktu yang singkat kehidupannya berubah. Semula jauh dari nilai-nilai keagamaan berubah menjadi sangat dekat. Bukan hanya itu, seluruh keluarga bahkan lingkungan juga ikut berubah menjadi agamis.

Poin besar dari sosok kakak ipar, ia memang nol besar dalam urusan agama. Namun, mengindikasikan memiliki keteguhan dalam mengamalkan ilmu agama. Akupun yang pernah mengenyam pendidikan keagamaan tidak hanya formal bahkan pesantren merasa takjub. Pada satu sisi juga merasa malu.

Usia pernikahan yang sudah berlangsung lama belum juga memiliki keturunan tidak membuatnya putus asa dalam menjaga keharmonisan keluarga. Do’a dan usaha yang dilakukan untuk memperoleh momongan yang belum juga terlihat hasilnya, tetap membuatnya tetap berhusnudzan kepada Allah.

Sampai akhirnya sampailah pada titik tertentu. Banyaknya gaji yang diperoleh tidak hanya dinikmati sendiri sendiri namun selalu di sedekahkan kepada orang lain. Sedekah selalu diutamakan kepada orang yang susah, tempat ibadah, fakir miskin dan anak yatim. Bahkan anggota keluarga yang terhitung memiliki tingkat ekonomi menengah juga ikut merasakannya.

Agustus 2019, ia jatuh sakit terdeteksi kanker rahim. Semua dibuat kaget dengan berita ini. Harapan memiliki keturunan sirna seketika. Beberapa waktu kemudian, dokter menyarankan untuk dioperasi. Tanpa berfikir panjang tawaran tersebut di iyakan. Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Kesehatanpun berangsur-angsur membaik. Semua terlihat baik-baik saja.

Ternyata tidak sangka pada bulan Agustus 2020. Kondisi kesehatannya menurun. Menurut hasil pemeriksaan medis, hatinya mengalami pembengkakan.

Kami yang sedang tinggal diluar kota, seketika kaget mendengar informasi tersebut. Semakin hari, kondisinya semakin memburuk. Banyak hal yang membuat kami sekeluarga tidak dapat menjenguk. Hanya do’a yang mampu kami berikan.

Hari minggu, 20 September 2020 tepat pukul 05.00 WIB ada informasi bahwa beliau meninggal. Seketika badan terasa lemes. Segera kami berkemas-kemas untuk takziah, berharap masih bisa melihatnya.

Sesampainya dirumah duka. Kondisi sudah terlihat sepi rupanya jenazah sudah dimakamkan 3 jam sebelumnya. Isak tangispun tak tertahankan. BUkti kesedihan tidak dapat melihatnya untuk yang terakhir kali..

Subhanallah, kesedihan inipun cepat berlalu setelah mendengar cerita begitu banyaknya orang yang mensholati, banyaknya rombongan yang ikut membacakan tahlil, dan satu lagi yang luar biasa beliau meninggal dalam keadaan tersenyum.

Maha suci Allah, kami merasa senang sekaligus sedih. Senang dengan munculnya tanda-tanda khusnul khatimah. Sedih karena merasa belum sebaik beliau dalam menjalankan agama. Merasa kerdil dalam hal rutinitas keagamaan. Masih banyak ilmu yang belum diamalkan.

Menurut istriku beliau adalah sosok yang luar biasa. Hari-harinya tidak disibukan pengalaman pengatahuan agama meskipun sedikit. Ilmunya mampu menjadi cahaya. Sebagaimana dawuh Hadaratus Syekh Romo Yai Ahmad Asrori al-Isaqi, r.a “ilmu iku kudu dadi petunjuk

Pada saat masih sehat beliau pernah bercerita kepada istriku “alasannya banyak bersedekah, berangkat dari sebuah kesadaran tidak memiliki keturunan”. Menurut beliau “sanguine mati seng ra pernah putus pahalane ono telu : 1. Sedekah 2. Anak sholeh 3. Ilmu yang bermanfaat”. Beliau Pernyataan itu sesuai dengan haditsnya rasulullah :

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Tumbuh kesadaran untuk memperoleh keturunan dan memiliki ilmu yang bermanfaat itu sulit. Tanpa berfikir panjang pilihan itu yang diambil.

Tidak memiliki keturunan bukanlah akhir segalanya. Realitas diatas dapat dijadikan obat bagi pasangan yang tidak memiliki keturunan.

Cara pandang yang tidak tepat seperti “le ora nduwe keturunan, terus ora ono seng ngrumati lek es tuwo” harus segera dirubah. Segera sadari, rahmat Allah ternyata begitu luas. Masih banyak cerita orang yang tidak dikarunia keturunan, namun meninggalkan dunia ini dengan tanda-tanda dirihai Allah. Lagipula tidak ada kepastian hidup didunia sampai tua.

Memiliki anak bukan jaminan, kelak masa tua akan di rawat dengan baik. Tidak ada kepastian anak membalas pengorbanan orang tua. Banyak kasus, anak menyengsarakan orang tuanya.

Berhentilah berputus asa dari rahmat Allah. Tugas manusia adalah berdoa dan berusaha. Urusan pemberian semua otoritas Allah. Selama sudah mampu menempatkan diri menjadi hamba yang baik, rahmat Allah pasti akan diterima. Entah cepat atau lambat, sekarang atau besok, di dunia ataupun di akhirat.

Jalan kebahagiaan tidak harus memiliki anak, banyak jalan lain yang membahagiakan.

Semoga kita semua sadar , anak bukan hiburan tetapi amanah. Bagi yang tidak memiliki keturunan jangan bersedih, sebab akan selamat dari pertanggungjawaban tentang anak.

Segera bangkit. Cari amalan lain yang mendatangkan rahmat Allah.

Selasa, 22 September 2020

Misteri Ilahi

 



Hidup dalam kuasa ilahi. Semua dalam genggaman-Nya. Tiada daya dan upaya apapun yang mampu mengganggu otoritas-Nya.

Dunia adalah tempat menanam kebaikan. Kebaikan yang dilakukan merupakan bentuk pengabdian nyata seorang hamba kepada tuhan-Nya. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dari hal itu, semua memang terkesan biasa-biasa saja. Artinya pengabdian itu sesuatu yang wajar dan keharusan bagi seorang hamba. Maka tak pantas bila muncul tulul amal.

Tugas manusia beribadah. Ibadah tidak hanya yang berkaitan dengan Allah. Meskipun taqdir hak prerogatif Allah. Amal yang dilakukan manusia tidak akan mampu merubah taqdir pada dirinya. Meskipun begitu, manusia harus tetap beramal sebagai bentuk menjalankan perintah Allah.

Poin paling penting dalam beramal adalah upaya konkrit meraih ridha Allah. Ridha Allah diperlukan untuk meraih kebahagiaan hidup didunia maupun akhirat.

Penting sekali setiap hamba meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Dunia adalah realitas dan akhirat sebuah kepastian.

Setiap yang bernyawa didunia akan mati. Urusan mati pantas dialami oleh siapapun dan kapanpun. Semua akan mengalaminya. Kematian itu pasti, sedangkan kapan waktunya merupakan rahasia ilahi.

 

 

Jumat, 18 September 2020

GURU PAI DAN EKSTREMISME (Mengkaji Urgensi Guru PAI Moderat ditengah Kontestasi Paham)


 


Hadirnya revolusi industry 4.0 ditengah kehidupan memiliki dua sisi yaitu adanya  peluang dan tantangan. Peluang yang dimunculkan berupa kemudahan dalam proses pendidikan. Kemudahan dalam proses pendidikan salah satunya berupa kemudahan mendapatkan sumber belajar.

Sebelum masa ini sumber belajar paling mudah diperoleh berupa informasi pendidik dan bahan bacaan cetak (buku, artikel, dll). Saat terdapat perubahan yang luar biasa. Perubahan tersebut sejalan dengan perkembangan teknologi informasi. Perubahan yang dimaksud berupa sumber belajar yang bisa diperoleh dari dunia maya dengan tanpa ada batasan waktu dan jumlah. Terserah siapa yang mau. Seituasi sudah seperti pasar bebas.

Realitanya banyak juga konten pendidikan moderat yang ditawarkan. Ketersedian konten moderat tersebut merupakan peluang bagi dunia pendidikan. Kecepatan dan ketepatan dalam beradaptasi memang sangat dibutuhkan. Keberhasilan dunia pendidikan dalam melakukan semua itu memiliki implikasi positif bagi eksistensinya. Dunia pendidikan dengan mudah akan mencapai tuntutan stakeholder. Sebab akan dianggap mampu mencetak lulusan yang sesuai harapan.

Pada satu sisi bersamaan dengan membludaknya konten berisi nilai pendidikan moderat juga terdapat banyaknya konten yang bernilai pendidikan ekstrem. Sejauh ini jumlahnya sudah begitu banyak bahkan melampaui konten yang bernilai moderat. Memang mengkhawatirkan.

Konten ekstrem yang di pelopori oleh kelompok eksrimis dan fundamentalis begitu cepat menyebar. Dalam waktu yang relative singkat sudah hadir ditengah-tengah kehidupan remaja yang sedang mencari jati diri. Siapa mereka? Jawabannya adalah anak-anak usia sekolah menengah. Menurut teori psikoanalisis remaja usi sekolah menengah memiliki kecenderungan dalam menemukan jatidiri, mereka berada dalam ketidakpastian meskipun saat dihadapkan pada konsep-konsep yang telah diperoleh sejak kecil, termasuk didalamnya konsep tentang agama. (Henri Saputra 2017 : 48).

Kelompok ekstremis begitu piawai dalam menangkap peluang. Begitu cepat hadir ditengah kebingungan anak-anak pada usia tersebut. Kehadirannya seolah-olah memberikan solusi. Padahal sejauh hasil berbagai research konten tersebut memiliki daya rusak yang luar biasa bagi kehidupan.  

Berangkat dari fenomena diatas, maka dibutuhkan peran aktif pendidik dalam bidang agama Islam. Guru PAI yang mampu menghadirkan konsep Islam “rahmatan lil’alamin” ditengah kehidupan mereka. Konsep yang dimaksud adalah konsep yang tidak condong ke kanan ataupun ke kiri. Konsep yang sebagaimana telah dicontohkan dalam kehidupan baginda rasulullah. Bukan lagi Islam yang meresahkan dan menakutkan bagi kehidupan. Konsep Islam yang mengarah pada kehidupan berdampingan dengan sesama manusia. Konsep Islam yang dimaksud adalah Islam Wasathiyah.

Islam moderat merupakan konsep beragama sebagaimana yang dicontohkan rasulullah. Islam yang dengan pengamalannya terdapat nilai saling menghargai dan mengakui, meskipun tidak sejalan dengan pikiran dan kepentingannya.

Hadirnya Islam Wasathiyah ditengah kehidupan anak usia sekolah menengah diharapkan akan menjadi warna baru. Bukan saja hari ini, namun selama hidupnya. Bukan untuk pribadinya saja, namun seluruh umat manusia.

Satu hal yang perlu digarisbawahi negara Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030. Dimana hal tersebut akan menjadi instrument kemajuan bangsa. Sudah pasti dibutuhkan generasi-generasi yang moderat dalam mensukseskan memajukan kehidupan negara. Bukan lagi generasi yang sudah menganggap dirinya paling benar dan paling berhak yang berujung pada pandangan rendah terhadap orang ataupun kelompok lain.

Tulungagung, 19 September 2020.

Selasa, 15 September 2020

MODERASI PEMBELAJARAN (Upaya Meraih Capaian Pembelajaran Daring)

 


“ Jalan tengah menjadi aspek penting dalam meraih capaian pembelajaran daring”

Masih dengan pembelajaran DARING. Ya, itu yang bisa dilakukan oleh mayoritas pendidik di Lembaga pendidikan. Masih tingginya penyebaran Covid-19 membuat pendidik tidak punya pilihan lain.

Pembelajaran daring bukan sekedar memindah pembelajaran manual menjadi online. Lebih dari itu. Ada banyak PR besar yang harus diselesaikan. Sebab aktifitas pembelajaran harus bertarung dengan konten lain yang lebih menarik perhatian pelajar.

Saat ini, secara garis besar tugas pendidik dapat diklasifikasikan menjadi 3 yakni capaian pembelajaran, menjaga stabilitas motivasi peserta didik dan mampu berdampingan dengan teknologi.

Capaian pembelajaran merupakan hal yang harus tetap diperhatikan ditengah semua keterbatasan. Namun satu hal yang perlu digaris bawahi, bukan berarti boleh memilih cara-cara yang kaku dan memaksa. Keputusan memiliih cara-cara yang kaku dan memaksa bukan lagi akan mendekatkan pada capaian pembelajaran justru sebaliknya. Pilih cara-cara yang lebih humanis. Ketepatan menentukan cara tentunya akan berpengaruh pada keefektifan proses. Jangan sampai focus yang berlebihan justru menjadi penyebab semakin jauh dari capaian pembelajaran.

Demi mendapatkan pembelajaran yang efektif dan efesien jangan hanya menggunakan kacamata pendidik. Pertimbangkan kondisi ekonomi, psikologi, dan konteks siosial peserta didik.

Merogoh kocek dalam jumlah yang besar untuk membeli kuota internet. Mungkin saja bukan masalah besar bagi pendidik. sebab, setiap bulan mendapatkan gaji. Lalu bagaimana dengan peserta didik? Mayoritas dari mareka belum mandiri dari sisi keuangan. Mungkin saja usaha orang tuanya sedang macet, baru saja di PHK, belum lagi sederet masalah ekonomi dalam keluarga.

Perlu ketepatan dalam memilih media, mengemas materi, dan mengontrol proses. Pemilihan media yang lebih familier menjadi penting. Jangan pilih media yang dianggap asing oleh peserta didik. Disamping itu, juga perlu mempertimbangkan kuota internet serta kekuatan signal yang dibutuhkan.

Mengemas materi yang mudah dan menarik menjadi aspek penting yang tak boleh diabaikan. Efektifkah? Misalkan seluruh materi hanya disajikan berupa bacaan.  Sulit rasanya mengharapkan itu terjadi. saat ini dirumah mereka sedang enjoy dengan gadged-nya. Tiba-tiba dibebani tugas membaca materi yang begitu banyak. Mustahil rasanya mampu meninggalkan gadged-nya untuk kemudian membaca dengan serius. Membahas konteks ini, dibutuhkan kreatifitas pendidik dalam menyajikan materi yang dikemas dalam bentuk lain, misalnya audio dan ppt. Mengapa video tidak menjadi pilihan? Tentu karena mempertimbangkan biayanya.

Ketepatan pendidikan dalam mengemas materi akan memberikan sumbangan besar dalam upaya meraih capaian pembelajaran. Materi yang dikemas dengan begitu menarik dan mudah dipelajari akan membuat peserta didik tidak lekas bosan.

Realitanya ada aspek sosial keluarga yang ikut mempengaruhi. Mungkin saja situasi dan kondisi sosial keluarga sedang tidak kondusif. Masih banyak orang tua yang menganggap pembelajaran daring sebagaimana halnya hari libur. Anak yang seharusnya lebih banyak focus dengan belajar, dibebani dengan sederet pekerjaan dirumah.

Memang dibutuhkan energi besar, pemikiran yang cemerlang dan waktu yang lebih lama untuk memikirkan semua itu. Percaya ataupun tidak, saat semua itu menjadi kebiasaan dengan sendirinya akan mengalir seperti air disungai. Bisa saja keseriusan dan ketekunan mendesain pembelajaran daring membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien dari sebelumnya.

Sebagai bagian penting dalam pendidikan harus tetap sigap dengan semua bentuk perubahan baik yang sudah terprediksi ataupun belum. Berbekal kebiasaan dalam pembelajaran daring sangat mungkin menjadi modal kedepan. Bukan tidak mungkin pembelajaran kedepan akan menggunakan system digital. Saat hal itu benar-benar terjadi, maka nilai lebih bagi seorang pendidik.

Tulungagung, 16 September 2020

Minggu, 13 September 2020

Menahan Rindu dalam Keterbatasan

 



“Rasa sakit menahan diri tidak menulis, sepadan dengan menahan diri bertemu dengan sang pujan hati

Seperti ada yang hilang. Perasaan itu yang selama ini menyelimuti diriku. Sepuluh hari aku tidak menulis di blog pribadi.

Berhenti menulis menulis bukan karena tidak mau. Hal itu disebabkan oleh adanya hal yang menjadi skala prioritas dan keterbatasan fisik.

Persiapan perkuliahan semester ini banyak menguras waktu. Ada poin besar yang harus dipersiapan yakti RPKPS Daring, materi pembelajaran online dan mendesain pembelajaran E-learning.

Rencana Program dan Kegiatan Pembelajaran Semester (RPKPS) Daring memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan model biasanya. Meskipun model baru, bukan berarti menjadi hal yang sulit diselesaikan. hanya saja dengan tagihan pengisian kolom-kolom yang banyak berkaitan dengan materi online. Hal itu yang membuat banyak sekali alokasi waktu dan energi yang harus dialokasikan.

Materi pembelajaran online, hal kedua yang harus disiapkan. Demi mewujudkan standar capaian mata kuliah tentu tidak mungkin hanya menyiapkan materi berupa file word, pdf atau ppt saja. Maknanya pendidik dituntut untuk dapat membuat rekaman materi berupa audio atupun video. Bermodalkan materi yang dikemas dalam video atau audio mahasiswa akan lebih mudah memahami, mahasiswa seperti tidak merasakan perbedaan yang berarti antara tatap muka dengan daring. Mengapa hal itu penting? Berdasarkan hasil survey mahasiswa lebih mudah menangkap materi dengan penjelasan secara lisan dari dosen disamping ada materi yang tertulis. Apalagi berkaitan dengan materi yang sulit seperti metodologi penelitian. Dengan begitu harapannya materi dapat ditangkap dengan baik dan CPMK dapat terpenuhi.

Mendesain kelas di elearning milik kampus. Semester lalu masing-masing dosen mendapatkan kebebasan penuh dalam menentukan media yang digunakan dalam pembelajaran online. Maka realitanya, ada yang banyak menggunakan watsapp, googleclassroom, email dan lain-lain. Berbeda dengan semester ini, ada sinyal yang tidak langsung bahwa dosen diharapkan menggunakan elearning dalam pembelajaran. Meskipun saya sendiri belum melihat edaran resminya. Tetapi dengan mencermati beberapa kali isi sambutan Rektor diberbagai forum menjadi kampus yang familier dengan system online dan gencarnya pelatihan pemanfaat elearning dalam perkuliahan, saya rasa cukup menjadi dorongan kuat. Ya, selain itu saya sendiri suka bergelut dengan dunia online. Cepat atau lambat semua dosen harus familier dengan elearning. Kedepan bukan tidak mungkin pembelajaran akan tetap dijalankan secara online, ya mungkin saja persentasenya bukan lagi 100% namun 70% dan 30% tetap dengan tatap muka.

Menurut saya pemanfaatan elearning ini menjadi penting, salah satunya sebagai sarana pembuktian kita ini bukan masuk kategori generasi kolonial yang GAPTEK. Pada sisi yang lain juga sebagai bentuk dukungan terhadap digitalisasi kampus sebagaimana visi pimpinan tertinggi.

Tigal hal diatas sangat menguras energi, pikiran dan waktu. sekaligus menjadi penyebab tetap aku tahan keinginan untuk menulis diblog. Bukan tidak ingin, justru sangat. Merasa seperti ada yang hilang? Pasti. Adakah kerinduan yang begitu dalam? Tentu. Meskipun ide itu muncul dan keinginan munulis itu ada belum bisa dikatakan setiap hari, namun 4 hari dalam seminggu hal itu selalu hadir.

Tapi semua itu tetap dikendalikan karena keterbatasan fisik. Ya, terang saja. Sistem imun tubuhku sekarang belum kembali pulih seperti dulu. Rasanya mudah sekali capek. Sebelum sakit dalam sehari mampu berfikir diatas 12 jam. Duduk didepan laptop dari pagi kuat sampai jam 2 dini hari. Sekarang rupanya tidak begitu. Saat ini sehari hanya mampu berfikir serius kurang lebih 5-6 jam, itupun tidak mampu seminggu berturut-turut. Pukul 21.00 harus sudah tidur, kalur tidak maka akan sulit tidur sampai pukul 23.-an lebih dan paginya dada terasa sakit dan kepala pusing. Misalkan ada tuntutan 5 hari harus berfikir maka sabtu minggu harus istirahat total.

Kamis, 03 September 2020

URGENSI KESALEHAN SOSIAL DI TENGAH PENYEBARAN COVID-19

 



Sampai saat ini penyebaran Covid-19 masih menunjukkan adanya peningkatan penyebaran yang luar biasa. Hal ini dapat dilihat dari laporan Kementrian Kesehatan RI yang di rilis setiap hari sekitar pukul 16.15 WIB. Data terbaru pada tanggal 2 September 2020 jumlah kasus positif mencapai 180.646 dengan angka kesembuhan 129.971 dan meninggal 7.616.

Data laporan kementerian kesehatan RI tersebut menjadi acuan bagi pemerintah untuk terus melakukan langkah konkrit dalam memutus mata rantai penyebaran. Langkah konkrit ini diambil tidak hanya penyerintah pusat namun sampai kepada pemerintah di tingkat daerah. Langkah konkrit tersebut terlihat dengan adanya konsistensi dalam mensosialisasikan cara – cara memutus mata ratai penyebaran, memberikan sanksi bagi pelanggar dan melakukan Razia.

Ancaman yang ditimbulkan dengan tetap tingginya penyebaran virus tersebut berupa terganggunya stabilitas berbagai sendi kehidupan. Satu orang yang dinyatakan positif saja memiliki dampak yang luas. Apalagi angka yang sedemikian banyak itu. Bukan hanya kesehatan yang akan terganggu namun, pendidikan, ekonomi, sosial dan politik juga akan merasakannya.

Sebagai makluk sosial yang memiliki potensi dalam mempercepat penyebaran Covid-19 dituntut untuk mengambil sikap yang tepat. Ketepatan bersikap tentu berbanding lurus dengan terputusnya mata rantai penyebaran. Apabila hal ini dapat terwujud berarti semakin banyak orang yang akan selamat dari efek negative penyebaran Covid-19.

Jangan egois. Pikirkan nasib orang lain. Bisa jadi kita dalam keadaan sehat, perkejaan mapan, dan ekonomi kuat. Saat divonis positif terjangkit Covid-19 dan harus menjalani isolasi, bisa saja tidak berpengaruh besar bagi kehidupan, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, keberlangsungan pendidikan anak-anak dan, lain sebagainya. Bisakah itu berlaku bagi orang lain? Dimana saat ini sedang dalam keadaan sakit kronis yang berpotensi buruk bila terjangkit Covid-19, berstatus sebagai pegawai kontrak, dan ekonomi yang belum mapan. Bagaimana dengan kebutuhan kesehariannya, keberlangsung pendidikan anak-anaknya, dan sebagainya.

Selalu dibutuhkan kepekaan terhadap nasib orang lain. Kurang bijak, misalkan hanya diri kita yang jadi ukuran. Coba lihatlah kanan kiri. Bagaimana kondisi mereka? Jangan sampai kita menyesal, lantaran sikap yang tidak peduli pada orang sekitar berakibat buruk baginya.

Tulungagung, 4 September 2020.