Minggu, 30 Agustus 2020

KUNCI SUKSES HAKIKI

 


Sukses dalam hidup merupakan hal yang dianggap penting oleh sebagian besar orang. Sukses pada umumnya adalah kepemilikan harta melimpah, menjadi pejabat dilingkungan kerja, gelar yang berjejer, dihormati dimana-mana dan lain sebagainya. Benarkah hal tersebut menggambarkan kesuksesan seseorang?

Terlalu remeh temeh saya kira, jika kesuksesan hanya diukur dari semua itu. Ada yang yang lebih tepat untuk dijadikan indikator sukses yaitu menjadi orang yang bernilai.

Nilai adalah sesuatu yang dianggap baik, selalu ingin diketahui, dan diidam-idamkan sebab mampu menarik perhatian serta mampu menyenangkan (Kees Bartern).

Makna secara sederhana, nilai merupakan sesuatu yang dianggap berharga. Artinya nilai itu bukan kita yang menentukan , tetapi orang lain. Sebagaimana pendapat Mardigu Wowiek, “Nilai Anda, bukan Anda yang menentukan, tetapi nilai orang lain yang di sematkan di dalam diri Anda”

Berapa nilai kita? semua terserah lingkungan. YA, SEMUA TERSERZH ORANG LAIN. Kita hanya dapat mengupayakan agar mendapatkan nilai yang tinggi. Keberhasilan mencapai nilai tinggi bisa dikatakan keberhasilan hidup. Siapapun yang memiliki nilai tinggi ia mampu mengukir sejarah hidupnya dan ikut mewarnai sejarah kehidupan orang disekitarnya.

Diri kita ini seperti hanya barang dagangan, jika barang dagangan tidak bernilai maka, tidak akan muncul harga penawaran. Tidak akan ada yang mau membeli meski murah sekalipun atau bahkan diberikan gratis. Orang enggan menerimanya.

Mengapa hal ini tejadi? Munculnya sebuah penghargaan terhadap sesuatu selalu didasarkan pada azas kebermanfaatan. Ya, apa manfaatnya? Misalkan barang tersebut memiliki manfaat besar tentu banyak yang rela berebut mendapatkannya atau bahkan membayar mahal.

Titik fokus disini adalah manfaat.  Manfaat selalu berbanding lurus dengan nilai. Semakin besar manfaat kita, tentu semakin besar nilai kita. Hal ini sejalan dengan hadits rasulullah, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-AuSath, Juz VII, hal. 58). Tidak perlu menunjukkan siapa kita, selama memiliki manfaat bagi orang lain tentu ada harga yang pantas.

Rabu, 26 Agustus 2020

DINAMIKA MENYIAPKAN PROPOSAL STUDI LANJUT

 


Tahun ini mendadak ada keputusan lanjut studi. Ada beberapa hal yang memang menjadi dasar pertimbangan. Misalkan diberi pertanyaan, apakah sudah siap? Tentu jawabnya “belum siap”. Bagi saya kesiapan itu bisa berjalan seiring waktu dan kebutuhan. Kesiapan biasanya terbentu saat ada tuntutan. Hal ini memang kebiasaan yang dapat dikategorikan buruk. Namun, semua butuh proses untuk mereduksi kebiasaan yang tidak baik tersebut.

 Pada saat membuka brosur pendaftaran mahasiswa baru. Salah satu persyaratannya berupa proposal disertasi. Proposal disertasi ini selain sebagai syarat administratif juga akan menjadi bahan ujian.

Ditengah kebingungan dengan berbagai keterbatasan teori dan pengalaman terkait dengan disertasi. Coba saya temui beberapa kawan yang sudah lebih dulu lanjut studi. Maksud dari hal itu agar mendapat petunjuk. Hasilnya, mayoritas kawan menyampaikan proposal tersebut tidak harus ideal. Boleh dikata yang penting ada. Toh, nanti juga akan mengalami perubahan pemikiran seiring dengan bertambahnya wacana keilmuan pasca pembelajaran dikelas.

Mendengar penjelasan tersebut, ternyata belum juga mengobati kegundahan dalam pikiran. Sekali lagi coba saya meminta arahan kawan yang saya rasa beliau ini orang yang ideal hampir dalam segala hal. Teman terakhir menyarankan “sebaiknya memang proposal disusun dengan sebaik-baiknya dan lebih bagus lagi misalnya tema proposal sudah tepat, sangat mungkin bisa dilanjutkan menjadi tema proposal disertasi diakhir studi”. Harapannya seiring bertambahnya wacana keilmuan dan pengalaman tema penelitian tersebut dapat dilengkapi segala sesuatunya menjadi bahan ujian proposal.

Alhamdulillah penjelasan teman terakhir mampu menjawab kegundahan. Meskipun muncul masalah baru terkait dengan masalah penelitian sekelas disertasi.

Demi menutupi kekurangan probadi, mulailah berjalan-jalan di beberapa jurnal terindeks scopus, membaca buku yang berhasil diunduh dari website penyedia buku dan buku cetak dirumah, membaca beberapa disertasi yang ada di repository beberapa perguruan tinggi ternama, mengikuti webinar online afirmasi research mahasiswa doktoral, menyimak beberapa konten ujian tertutup program doktoral dan menyimak konten metodologi penelitian dari beberapa profesor di youtube.

Pasca melakukan semua itu, mulailah menyusun proposal disertasi. Ternyata tidak mudah, beberapa kesulitan masih ditemui. Pikiran dipaksa untuk terus memproduksi ide yang dikemas dalam rangkaian kata dan jari terus mengiringi dengan tarian indahnya diatas keyboard. Belum puas memang, tetapi yang jelas usaha sudah maksimal. Selanjutnya tidak pasrah dengan ketentuan sang penguasa alam.


Tulungagung, 26 Agustus 2020.

 


Selasa, 18 Agustus 2020

Memaknai Pengalaman Sebagai Guru Menuju Sukses

 

Setiap kita adalah orang hebat. Jika masih tidak percaya ingatlah keberhasilanmu diwaktu kecil

Percaya diri merupakan modal dasar menuju keberhasilan. Maka, percaya diri harus dimiliki oleh setiap orang. Ya, bagi orang yang ingin sukses.

Berbekal kepercayaan diri yang mustahil menjadi mungkin, dan yang sulit menjadi mudah. Kemudian pertanyannya seberapa besar rasa percaya diri ada dalam dirinya ? Kepercayaan diri dapat ditumbuhkan dengan mengingat keberhasilan dimasa lalu.

Banyak keberhasilan yang dicapai setiap orang dimasa kecilnya. Bahkah mungkin tak dapat dihitung dengan jari. Masa Balita saja, berapa banyak keberhasilan yang sudah kita raih?

Berikut pertanyaan sederhana yang mengingatkan akan kesuksesan dimasa lalu.

Adakah yang langsung bisa berlari?

Adakah yang langsung bisa berbicara?

Adakah yang langsung bisa makan dan minum?

Adakah yang langsung bisa memakai baju?

Capaian yang sampai hari ini kita rasakan membutuhkan proses dan perjuangan Panjang. Satu capaian bisa berlari saja butuh proses. Ada yang harus dilalui dengan urutan tahapan-tahapan capaian berikut mulai dari mengerakkan badan kenan dan kiri sampai akhirnya bisa berlari.

Semua kebutuhan yang kita capai hari ini membutuhkan proses. Dalam berproses dibutuhkan semangat, konsistensi, dan keteguhan hati. Secara sederhana dua hal yang dilakukan para pencapai sukses diwaktu balita yaitu belajar dari orang dewasa dan terus mencoba. Kegagalan selalu berbanding lurus dengan upaya mencoba. Benar saya kira apa yang dikatakan oleh Mario Teguh

Semakin sering mencoba semakin sering besar kemungkinan untuk behasil

Hampir semua orang pernah sukses dalam sejarah hidupnya. Hanya saja, sering kali kesuksesan itu dilupakan begitu saja. Seolah-olah ia merasa orang paling tidak berbakat. Ujungnya Kepercayaan diri begitu rendah. Menyerah sebelum perang. Gagal sebelum berusaha.

Seandainya setiap orang mengingat betul keberhasilannya dimasa lalu. Kepercayaan diri akan tumbuh kembali.

Tulungagung, 19 Agustus 2020

Minggu, 09 Agustus 2020

Urgensi Rekonstruksi Media Dakwah Moderasi Beragama di Media Sosial


Era dirupsi media online menempati posisi penting bagi kehidupan. Indikasinya dapat diketahui dari besarnya jumlah penduduk sebagi user dunia maya. Indonesia juga menjadi negara pengguna internet dalam kategori besar.

Berdasarkan penelitian platform manajemen media sosial Hoot Suite dan agensi marketing sosial We Are Social berjudul "Global Digital Reports 2020", pada akhir bulan januari 2020 sebanyak 64% atau 175,4 juta penduduk negara Indonesia merupakan pengguna Internet. Sedangkan saat ini jumlah penduduk Indonesia adalah 272,1 juta jiwa. Jumlah ini merupakan jumlah yang besar. Maknanya jumlah pengguna internet tahun 2020 mengalami peningkatan sebanyak 17% dari tahun 2019 atau sekitar 25 juta pengguna.

Masih berdasarkan hasil riset yang sama menunjukkan Indonesia menempati rangking 10 besar pecandu internet. Indonesia telah menempati urutan kedelapan sebagai pengguna internet. Sebetulnya hal ini mengalami penurunan, sebab pada tahun lalu Indonesia telah menempati urutan ke lima.

Berkaitan dengan penggunaan media sosial Indonesia telah mengalami peningkatan 8,1 % atau sekitar 1,2 juta. Artinya saat ini Indoensia telah mengalami penetrasi penggunaan media sosial 59 % dari total penduduk yang ada. Realitas yang juga mencengangkan rata-rata waktu yang digunakan menikmati media sosial dalam sehari mencapai 3 jam 26 menit setiap hari. Angka ini telah melampaui angka rata-rata global yang hanya mencapai 2 jam 24 menit per hari.

Youtube merupakan media social yang banyak di akses oleh penduduk Indonesia. Indonesia menempati urutan pertama dalam penggunaan youtube dengan capaian angka 88%. Wastapp menempati urutan kedua yaitu 84%. Sebesar 82% merupakan pengguna facebook. Sedangkan Instagram berada pada urutan terakhir yakni sebesar 79 %.

Para penikmat media social memiliki sebaran umur yang hampir merata. Media social banyak dinikmati bagi mereka mulai dari usia 16 sampai dengan 64 tahun.

Paparan data diatas dapat dijadikan sebagai dasar dalam pemanfaatan media sosial sebagai sarana dakwah moderasi beragama. Ketepatan dalam memaknai data dan mengambil peluang yang tersirat akan memberikan pengaruh besar dalam mencapai keberhasilan menciptakan kehidupan yang berdampingan dalam perbedaan.

Saat ini media social banyak dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis untuk menyebarkan ideologinya. Kelompok mendapatkan simpati yang begitu besar di youtube. Konten yang mereka upload di youtube mendapatkan apresiasi positif sampai jutaan dari netizen. Padahal yang kita tahu konten yang berasal dari kelompok ini jauh dari prinsip dasar moderasi beragama. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan paradigma netizen. Dimana sebagai besar netizen ini merupakan  generasi milenial.

Berangkat dari fenomena diatas diperlukan respon positif dari kelompok yang berpaham Islam wasathiyah yang kreatif dan tanggap. Sebagai upaya menjaga keseimbangan informasi yang dibutuhkan.

Saat ini memang sudah menunjukkan geliat yang bagus dengan adanya peran santri gayeng di Youtube. Santri gayeng mengupload pengajian Gus Baha dengan tetap menyesuaikan dengan isu yang berkembang. Hasilnya menunjukkan ada gejala positif dengan ratusan ribu netizen yang memberikan penghargaam positif. Memang sudah saatnya informasi pengetahuan keagamaan yang moderat ini dimunculkan lebih banyak lagi. Dunia internet ini ibarat pasar bebas siapapun yang berhasil menyediakan lebih banyak informasi dan sering dinikmati maka itu yang akan sering muncul.

Sebetulnya bisa dengan mudah informasi moderat ini mampu menguasai media social. Saat dilihat dari sisi jumlah negara ini mayoritas masih suka dengan ulama-ulama yang jelas rekam jejaknya, bukan yang dikemas sedemikian rupa dan merupakan tokoh dengan proses instan. Indikasi ini terlihat dengan website www.nu.or.id merupakan salah satu website milik NU yang mendapatkan respon jutaan pengguna internet. Besarnya jumlah peminat ulama yang moderat ini merupakan peluang besar. Hanya saja kedepan dibutuhkan keseriusan, konsistensi, ketepatan menangkap perkembangan isu dan pemanfaatan jaringan.

Sudah saatnya para pendakwah yang moderat ini bergeser ke media social. Pergeseran media dalam berdakwah ini sebagai sebuah respon kecenderungan umat. Saat ini memang banyak sekali pemeluk umat Islam baru. Pemeluk islam baru ini merupakan kelompok yang memiliki kecenderungan membutuhkan informasi yang instan dan simple. Mereka lebih suka mengakses informasi atas solusi yang dihadapinya sekarang. Informasi yang paling mereka sukai yang berbentuk praktis menjawab masalah dengan sajian yang sederhana.

Harapannya dengan terwujudnya konten yang berisi prinsip-prinsip moderat dalam beragama di media social, para penikmat media social dikalangan generasi milenial mendapatkan materi pengayaan. Generasi ini masih sangat membutuhkan bimbingan berupa informasi. Semakin banyak konten yang moderat disediakan dimedia social akan semakin besar pengaruh positif bagi paradigma keberagamaan. Generasi ini cenderung menjadikan media social ini sebagai kiblat dan referensi dalam pemahaman keberamaan.

Tulungagung, 12 Agustus 2020.

Selasa, 04 Agustus 2020

URGENSI SENI BERTENGKAR SUAMI DAN ISTRI


Pernikahan merupakan penyatuan suci antara dua insan. Pernikahan dilakukan antara perempuan dan laki-laki.

Secara kebahasaan, nikah bermakna “berkumpul”. Sedangkan menurut istilah syariat, definisi nikah dapat kita simak dalam penjelasan Syekh Zakariya Al-Anshari dalam kitab Fathul Wahab

Artinya, “Kitab Nikah. Nikah secara bahasa bermakna ‘berkumpul’ atau ‘bersetubuh’, dan secara syara’ bermakna akad yang menyimpan makna diperbolehkannya bersetubuh dengan menggunakan lafadz nikah atau sejenisnya,” (Lihat Syekh Zakaria Al-Anshari, Fathul Wahab, Beirut, Darul Fikr, 1994, juz II, halaman 38).

Dalam Islam pernikahan ini memiliki bergabai macam hukum. Hukum pernikahan selalu bersifat kasuistik. Hal ini sejalan dengan pendapat Sa‘id Mushtafa Al-Khin dan Musthafa al-Bugha, Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syâfi’i, “Hukum nikah secara syara’. Nikah memiliki hukum yang berbeda-beda, tidak hanya satu. Hal ini mengikuti kondisi seseorang (secara kasuistik),” (Lihat Sa‘id Musthafa Al-Khin dan Musthafa Al-Bugha, Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syâfi’i, Surabaya, Al-Fithrah, 2000, juz IV, halaman 17).

Dari keterangan tersebut diatas dapat dipahami hukum nikah memang tidak dapat digeneralisasi. Hukum nikah selalu memiliki sifat kekhususan. Perbedaan kondisi antara satu orang dan yang lain selalu berimplikasi pada hukum yang nikah baginya.

Menurut, Sa‘id Musthafa Al-Khin dan Musthafa Al-Bugha menjelaskan berbagai hukum pernikahan. Pertama, sunah. Hukum sunah sebagaimana yang telah disabdakan oleh baginda rasul dalam haditnya. Sunah ini menjadi hukum asal nikah. Kapan orang dihukumi sunah dalam menikah? Pada saat seseorang memang sudah mampu untuk melaksanakan pernikahan.

Kedua, Sunah ditinggalkan. Hukum ini berlaku bagi seseorang yang menginginkan pernikahan namun terbatas dari sisi harta. Orang seperti ini dikhawatirkan akan mengalami kesulitan dalam menafkahi istrinya. Seseorang yang dalam kondisi seperti ini sebaiknya menyibukkan diri untuk mencari kekayaan, beribadah dan berpuasa.

Ketiga, Makruh. Hal ini berlaku bagi seseorang yang tidak ingin menikah. Penyebab tidak ada keinginan bisa bermacam-macam seperti karena penyakit, trauma dengan lawan jenis atau yang lain. Disamping itu juga tidak memiliki kelebihan harta unutk menafkahi calon istrinya.

Keempat, Lebih Utama Jika Tidak Menikah. Hukum keempat ini melekat pada seseorang yang sebenarnya memiliki kemampuan menafkahi calon keluarga, namun dalam kondisi tidak menikah. Alasan tidak butuh menikah karena memang sedang kondisi perang dan lain-lain.

Kelima, Lebih Utama jika Menikah. Keutamaan menikah ini berlaku bagi orang yang telah memiliki kemampuan dari sisi harta, tidak sibuk dalam ibadah atau menuntut ilmu. (Muhammad Ibnu Sahroji, 2017.)

Proses yang mengawali pernikahan ini berbeda-beda. Ada yang yang menemukan jodohnya sendiri namun ada juga yang dijodohkan oleh orang tua.

Apapun proses yang mengawali dalam pernikahan selalu saja akan ada dinamika dalam proses penyatuan psikologis. Pernikahan yang dengan menemukan jodohnya sendiri tidak ada jaminan kondisi rumah tangga akan cepat harmonis. Sebaliknya pernikahan yang diawali proses perjodohan bukan berarti hubungan tidak cepat harmonis.

Poin penting dalam proses menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga adalah saling menyadari psikologi masing-masing pasangan. Awal pasangan mengarungi bahtera rumah tangga hampir pasti mengalami dinamika yang luar biasa. Pertengkaran hampir tak pernah bisa di hindarkan. Dan mungkin saja pertengkaran itu selalu ada sampai salahsatunya menghadap Allah.

Pertengkaran bukan merupakan hal yang tabu dalam jalinan rumah tangga. Adanya sebuah pertengkaran menunjukkan keluarga tersebut dalam kondisi dinamis. Artinya terjadinya sebuah pertengkaran bukan berarti keretakan hubungan sudah terjadi atau sebagai pertanda hubungan akan segera berakhir. Asalkan kedua insan yaitu suami dan istri mampu mengelolanya dengan baik.

Sekali lagi bahwa pertengkaran ini sebuah kelaziman, maka yang terpenting adalah bagaimana keduanya dapat berkreasi. Sehingga menemukan satu formula yang bisa juga disebut dengan “SENI BERTENGKAR”.

Dengan menemukan formula baru dalam dimanika kehidupan keluarga yang disebut dengan seni bertengkar. Masing-masing pihak akan mampu memahami perbedaan psikologis keduanya. Dengan mehami perbedaan tentu tidak lagi menuntut seperti apa yang dipikirkan. Biasanya sebuah pertentangan ini terjadi karena keinginannya tidak dapat dipenuhi oleh pasangannya.

Psikologis perempuan ini memang berbeda dengan laki-laki. Sering saya katakan bahwa laki-laki ini “TIDAK BERPERASAAN”. Namun perempuan “TIDAK MEMILIKI OTAK”. Ini bukan sebuah justifikasi ekstrem yang ingin saya tunjukkan. Tetapi sebuah gambaran bahwa kedua jenis kelamin ini memiliki perbedaan yang luar biasa. Hal ini saya kira sejalan dengan alasan mendasar pemersatuan antara keduanya.

Misalkan kedua jenis kelamin ini sama dari berbagai sisi, terutama psikologisnya. Untuk apa mereka diciptakan berpasang-pasangan? Sebagaimana forman Allah surat Ar Rum ayat 21.

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Ayat diatas menyatakan sebagai tanda kekuasaan Allah, manusia diciptakan berpasang-pasangan agar merasa tentram. Untuk memperoleh rasa tentram ini salah satunya dengan memahami sebuah perbedaan yang diciptakan Allah sebagai tanda kekuasan-Nya.

Tertarikkah misalkan ciptakan sama? Saya rasa tidak. Kecuali memang orang yang sudah memiliki kelainan sehingga tertarik dengan sesama jenis.

Bayangkan misalkan arus listrik ini dibuat positif tanpa adanya tentu lampu tidak menyala. Maka dibuatkan positif dan negative sehingga ada arus yang mengalir dan lampu dapat menyala terang.

Seorang laki-laki memang kurang memiliki kepekaandan perempuan juga jangan selalu terbawa perasaan. Laki-laki memiliki kecenderungan berfikis logis. Selama sesuatu itu masuk akal maka akan mudah di terima. Sedangkan akal sendiri sering berfikir sebab-akibat. Berbeda halnya dengan perempuan. Perasaanya sangat kuat. Gelaja kehidupan yang begitu lembut yang tak mampu tak masuk akal mampu ditangkapnya. Akibatnya perempuan ini sering terbawa perasaan atau baperan.

Sebagai penutup mari bertengkarlah dengan indah sampai menjadi sebuah seni. Dengan seni bertengkar keluarga yang sakinah, mawadah dan warrahmah akan terwujud. Aamiin

 

 


Senin, 03 Agustus 2020

Memaknai Qurban dalam Kesalehan Sosial


Hari Jumat, 31 Juli 2020 umat Islam seluruh penjuru dunia merayakan hari raya Idhul Adha atau yang biasa disebut hari raya Qurban. Hari raya ini merupakan momen yang ditunggu-tunggu kehadirannya.

Menurut perspektif fikih berkurban merupakan sebuah kesunahan. Imam Malik, Asy Syafi’I, Abu Yusuf, Ishak bin Rahawaih, Ibnu Mundzir, Ibnu Hazm, dan lainnya berpendapat “ qurban itu hukumnya sunnah bagi orang yang mampu (kaya), bukan wajib, baik saat melakukan perjalanan, mukim, ataupun saat mengerjakan ibadah Haji.

Ukuran “mampu” dalam menunaikan kurban ini sepertihalnya kemampuan dalam bershadaqah. Seseorang dikatakan mampu jika memiliki kemampuan setelah terpenuhinya semua al hajat as asasiyah dan al hajat al kamaliyah. Jika seseorang masih dalam kondisi membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka terbebas dari hukum kesunahan dalam berkurban (al Jabari, 1994)

Dasar hukum kesunahan dalam berkurban ini sebagai firmal Allah dari al-Qur’an :

"maka dirikanlah (kerjakan) shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah" (TQS Al Kautsar: 2).

Dan juga sebuah haditsnya rasulullah:

 "Aku diperintahkan (diwajibkan) untuk menyembelih qurban, sedang qurban itu bagi kamu adalah sunnah" (HR. At Tirmidzi).

Lain hal, bila kurban tidak dilakukan oleh orang yang sudah dalam kategori mampu maka hukumnya makruh. Sabda Nabi SAW:

"barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami" (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Al Hakim, dari Abu Hurairah RA Menurut Imam Al Hakim, hadits ini shahih. Lihat Subulus Salam IV/91).

Hari raya qurban mengingatkan kisah nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail anaknya. Dimana dalam kisah terbut mengajarkan nilai ketauhidan sejati kepada Allah. Nabi Ibrahim sebagai orang tua yang mampu mengesampingkan rasa kasih sayang kepada anak dan memprioritaskan ketaatan kepada Allah. Sedangkan Nabi Ismail mampu memposisikan diri sebagai anak yang membawa cahaya dengan ketaatan kritisnya.

Bermula dengan terjadinya peristiwa besar diatas, misi social dikembangkan berupa pemotongan hewan qurban. Pemotongan hewan qurban merupakan bentuk riil kepekaan si kaya terhadap si fakir miskin.

Hari raya qurban betul-betul tersirat sejuta makna yang berniai tinggi. Kebermaknaan qurban tidak akan pernah sirnah ditelah waktu. Berkurban bukan semata-mata mandek pada persoalan pembuktian ketauhidan. Tetapi leih luas lagi yaitu pengimplementasian nilai-nilai kemanusiaan.

Meskipun duduk persoalan qurban sudah begitu jelas masih ditemukan fenomena di tengah umat, berqurban hanya semata-mata hanya sebagai rutinitas. Penyembelihan hewan qurban jauh sekali dari kebermaknaan yang melekat pada peristiwa tersebut.

Pada satu waktu terdapat sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, "apakah maksud qurban ini?" Beliau menjawab, Sunnah Bapakmu, Ibrahim."
Mereka bertanya lagi, "apa hikmahnya bagi kita?" Beliau menjawab, "setiap rambutnya akan mendatangkan satu kebaikan." Mereka bertanya, "apabila binatang itu berbulu?" Beliau menjawab, "pada setiap rambut dari bulunya akan mendatangkan kebaikan" (HR Ahmad).
Berdasarkan hadits diatas sudah sepentasnya qurban ini jangan hanya dimaknai memperoleh satu kemuliaan saja. Misalkan hanya dimaknai sebagai rutinitas tahunan maka hanya kepuasan psikologis saja yang diperoleh.

Islam dalam syariatnya menjelaskan bahwa ibada qurban memiliki dua dimensi. Pertama adalah dimensi spiritual-transendental sebagai konskuensi logis seorang hamba kepada sang pencipta. Hal ini dapat diartiken lebih luas, bahwa sebetulnya qurban tidak hanya dilakukan setahun sekali, namun dilakukan setiap saat. Mengapa harus dilakukan setiap saat? Sebab, sebagai wujud konkrit dalam ber-taqarrub kepada Allah.

Dimensi kedua yaitu dimensi social humanis. Dimensi Sosial humanis terindikasi dari pola pendistribusi hewan qurban. Pendistribusian hewan qurban dikhususkan bagi para mustahiq. Dimensi kedua ini memang tidak seyogyanya dibiarkan berdiri sendiri artinya harus didahului dengan semangat ketauhidan. Qurban yang dilakukan harus diniatkan karena Allah.

Hal ini bermakna bahwa, pendistribusian daging dengan tepat merupakan upaya konkrit dalam pemerataan sosial. Bagi kalangan ekonomi kelas menengah keatas makan daging mungkin sudah biasa dan bisa juga telah bosan, namun tidak untuk fakir miskin. Menikmati hewan qurban bisa saja hanya mereka rasakan saat ada pembagian hewan qurban. Kenikmatan makan daging yang dirasakan bagi golongan kelas bahwa merupakan perwujudan dari maqashidus syari'ah yakni tercapainya kemaslahatan dunia akhirat.

Idhul Qurban : Rujukan Konstruksi Karakter Anak


Qurban Secara etimologis berasal dari kata qaruba-yaqrubu-qurban-qurbanan, berarti berupaya untuk mendekatkan. Dalam makna terminologisnya, istilah Qurban atau adha (udhiyah), sebagaimana penjelasan Wahab Al-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqh Al-Islam wa ‘adilatuhu adalah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah dalam waktu tertentu.

Pasca ritual shalat Idh, umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakan hari raya ini dengan menyembelih hewan ternak berupa kambing, sapi, domba, ataupun unta. Hari raya ini, dapat dijadikan sarana bagi kaum muslim yang tidak haji mendapatkan kesempatan tahun ini, sebagai sebuah simbol ketaqwaan dan taqarrub kepada Allah.

Allah berfirman: “Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah)” (QS. Alkautsar: 2).

Menurut mayoritas Ulama’, hukum berkurban adalah sunah muakkadah. Berkurban memiliki banyak manfaat baik dari sisi kesalehan spiritual mapun kesalehan social. Dimensi kesalehan social dari qurban di samping setiap tetesan darahnya bernilai ketaatan kepada Allah, ritual qurban merupakan implementasi rasa syukur atas limpahahan rizqi dari Allah. Sedangkan dimensi kesalehan sosialnya berupa tumbuh suburnya rasa solidaritas, peka terhadap fakir miskin, dan mewujudkan pemerataan sosial.

Jika melirik kebelakang ada realitas sejarah dari perayaan Idul Adha. Ada peristiwa peristiwa besar dalam sejarah hari raya ini yaitu ketakwaan Nabi Ibrahim kepada kepada sang Khaliq. Allah memberikan perintah kepada Nabi Ibrahim untuk mengorbankan buah hati yang begitu dicintainya yaitu Nabi Ismail. Meskipun akhirnya, Allah menggantinya dengan sembelihan yang besar (dzibhin 'adhim) berupa seekor domba.

Idul Adha memiliki sejarah penuh makna edukatif. Sudah sepantasnya diabadikan sebagai sarana "cultural memory" dan proses internalisasi moralitas, yaitu; pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, larangan berbuat dzalim, dan menganggap diri atau kelompoknya paling diantara yang lain. Sebab semua itu jauh dari prinsip Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Idul Adha merupakan rujukan bagi orang tua masa kini agar dapat meneladani kembali Nabi Ibrahim, terutama kaitannya dengan mendidik anak. Lebih-lebih pendidikan karakter bagi generasi milenial yang terkenal dengan degradasi moral dan isunya selalu hangat diperbincangkan. Sebuah era keprihatinan mayoritas orang tua modern, akibat sisi hitam globalisasi telah menyeret karakter generasi muda jauh dari nilai-nilai agama. Saat ini mayoritas anak muda sekarang, lebih cenderung bersikap pragmatis-hedonis, individualis, dan terseret pada aliran-aliran yang tak sesuai ideologi dan merusak kebudayaan leluhurnya.

Nabi Ibrahim mampu membuktikan dengan menggembleng pribadi Nabi Isma'il memiliki sikap ketaataan, kelembutan, dan spiritualitas tinggi. Sehingga sebagai anak, Isma'il bisa memuliakan orang tua dan menghormati tradisi yang berkembang. Sebagaimana telah tergambar begitu nyata di dalam Al-qur'an;

 "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” (Q.S. Ash-Shaffat: 102). Maka, ketika Ibrahim menceritakan mimpinya diperintah Allah untuk membunuhnya, Ismail pun dengan gagah berani menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu: insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (Q.S. Ash-Shaffat: 102).

Memperhatikan dialog interaktif antara Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il anaknya dalam ayat tersebut, mengindikasikan bahwa pendidikan karakter yang diimplementasikan lebih mengutamakan metode keteladanan. Nabi Ibrahim sebagai orang tua tentu memiliki struktur dominan, namun realitanya tidak memaksa Nabi Isma'il dengan kekuasaannya. Tidak ada penindasan yang menggiring seorang anak ke arah ketaatan bisu. Melainkan, memposisikannya secara equal, setara, dan dianggap sebagai partner dalam menemukan kebenaran hakiki.

Model pendidikan Nabi Ibrahim terlihat humanis, memuliakan, dan memberikan penghormatan pada anak. Wajar, jika berdampak pada putranya secara langsung, meskipun tergolong masih berumur muda, Nabi Isma’il telah menunjukkan rasa penghormatan dan baktinya kepada orang tuanya.

Selain itu, meskipun kapasitas Nabi Isma’il sebagai seorang anak, ia mampu menempatan secara kritis dan tepat ketika berkomunikasi kepada ayahnya. Tampak dengan kecerdasan spiritualitas tinggi, sehingga mampu memberikan problem solving atas peliknya masalah yang dihadapi orang tuanya. Tidak hanya itu Nabi Isma'il, bisa menyakinkan kepada orang tuanya yang sempat ragu agar tetap merealisasikan perintah Allah dengan penuh keimanan. Serta membuktikan kepada Nabi Ibrahim, ia adalah sosok yang taat dan sabar terhadap perintah Allah.

Keberhasilan mendidik anak cerdas, shaleh dan mulia seperti Nabi Ismail, patut menjadi model dan rujukan bagi orang tua di era sekarang. Turutama sekali, proses mendidik anak berakhlakul karimah, pasti tidak instan atau 'bim salabim'. Butuh keseriusan, keuletan, riyadhah, do'a, dan sekaligus keteladanan.

Rasulullah bersabda: “Didiklah anak-anakmu karena mereka hidup di zaman yang tidak sama dengan zamanmu”.

Jika dilihat dari prespektif teori fungsional struktural, bahwa keberhasilan pendidikan anak banyak dipengaruhi oleh hubungan harmonis antara orang tua, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Selain itu, kunci kesuksesan pendidikan Nabi Ibrahim dengan tetap mengambil peran aktif internalisasi nilai-nilai agama.

Rasulullah bersada: “Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara: mencintai Nabimu, mencintai ahlu baitnya dan membaca al-Qur’an”. (HR. Tabrani).

Nabi Ibrahim sadar, mempersiapkan generasi yang cerdas, kritis, dan bermartabat harus dimulai dengan pembangunan karakter yang kuat. Inilah faktor kunci keberhasilan pendidikan Nabi Ibrahim, sehingga Isma'il menjadi generasi yang tidak hanya shaleh spiritual tetapi juga shaleh secar