Senin, 30 November 2020

Aku Pergi untuk Kembali

     


Selama kurang lebih dua bulan terakhir aku tidak pernah menulis sama sekali. Bila pertanyaan yang muncul kemudian ada atau tidak keinginan? Tentu jawabnya selalu ada. Apalah daya, rutinitas baru sebagai mahasiswa semester awal membuat keadaan berubah total. Perubahan tersebut tentu saja membawa dampak bagi fisik dan psikologis. Pada sisi fisik berupa rasa capek dan pusing yang luar biasa. Kesehatan fisik harus tetap dijaga, jangan sampai jatuh sakit. Bila jatuh sakit tidak hanya akan berakibat buruk bagi perjalanan studi namun juga pekerjaan disisi yang lain. Secara psikologis ada tanggungjawab baru yang harus diselesaikan, yakni berupa peningkatan kualitas akademik. Kawan-kawan lain yang yang tidak berprofesi sebagai pengajar juga merasakan hal yang sama. Bahkan sangat mungkin beban mereka lebih berat, antara lain kesulitan mengikuti materi perkuliahan dan mencari referensi.

Ada sebuah tantangan tersendiri melanjutkan studi namun tetap bekerja. Satu sisi sebagai pengajar tentu sangat berkeinginan momen untuk meninggal ketertinggalan kualitas akademik, namun pada sisi yang lain juga harus tetap maksimal dalam menyelesaikan pekerjaan. Kedua target harus tetap berjalan seimbang. Bila pekerjaan dikalahkan tentu tidak baik buat masa depan. Lebih parah lagi bagaimana nanti pertenggungjawaban didepan pengadilan Allah. Seandainya studi tetap santai saja yang penting lulus dan dapat ijazah, tentu ada beban tersendiri. Bisa saja keseharian setelah lulus kuliah dilalui dengan rasa malu dan penyesalan. Malu merasa tidak pantas dan menyesal sebab tidak memanfaatkan kesempatan belajar dengan maksimal.

Berangkat dari ini semua maka terpaksa meninggalkan sang pujaan hati yakni, blog. Lama sekali blog ini tidak aku diisi dengan tulisan-tulisan dari rangkian ide yang aku miliki. Bahkan menengokpun tidak. Sungguh malang nasibmu wahai blog. Bersabarlah, aku pergi untuk sementara dan pasti kembali. Perlu engkau ketahui, kepergianku bukan lari dari kenyataan tapi untuk mencari bekal. Suatu saat nanti aku akan kembali dengan setumpuk referensi, segudang ide, dan rangkaian kalimat yang indah dan penuh arti. Aamiin

Selasa, 27 Oktober 2020

KESAKTIAN KALIMAT



Kalimat merupakan aktualisasi dari ilmu yang dimiliki oleh seseorang. Substansi kalimat dapat dibagi menjadi 2 yakni kebenaran dan kebathilan. Kalimat kebenaran keluar dari mulut seseorang jelas sanad keilmuannya dan mendapatkan nur dari Allah. Sebaliknya kalimat yang bathil lazimnya keluar dari seseorang yang di penuhi dengan hawa nafsu keduniaan. Apa yang disampaikan disandarkan atas dirinya sendiri bukan lagi kepada Tuhan-Nya.

Kalimat yang telah diperdengarkan kepada orang lain memiliki pengaruh besar bagi semua aspek kehidupannya. Maka menjadi penting membawa diri ini berada pada lingkungan yang kondusif. Bahkan intensitasnya harus terus ditingkatkan seirama dengan semakin kompleksnya problematika kehidupan. Lingkungan yang kondusif akan mentransformasi ilmu-ilmu yang haq kepada siapapun yang berada disekitarnya, demikian sebaliknya.

Ter-instal-nya kalimat-kalimat yang mengandung kebenaran tidak hanya mempengaruh pola pikir namun juga cara berperilaku. Sebab apa yang disampaikan biasanya itu yang diyakini dan apa yang diyakini itu yang dilakukan.

Kemampuan dalam mentransformasi kalimat yang haq tidak hanya berpengaruh besar bagi dirinya sendiri tetapi juga orang sekitarnya. Kemungkinan itu selalu ada, sebab orang memiliki kecenderungan untuk membuat lawan bicara terpengaruh. Sebagaimana penjelasan Gus Baha dalam ngajinya saat nabi Musa a.s berdialog dengan fir'aun tentang tauhid. Meskipun saat itu Fir'aun tetap bersikukuh bahwa dia tetap tuhan dibumi, namun disisi lain banyak orang yang timbul keyakinan dalam hatinya. Walaupun tidak berani mengungkapkan secara langsung.  

Berangkat dari titik ini jelas kiranya, bila kalimat baik yang terucap hal itu menjadi investasi kebaikan bagi kehidupannya. Namun, bila sebaliknya maka sungguh dalam kerugian.  

Tulungagung, 28 Oktober 2020.

Selasa, 06 Oktober 2020

WAKTU IBARAT PEDANG




 “Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan Jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan” (Imam Syafi’i)

Kalimat diatas memberikan peringatan tegas tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Waktu yang Allah karuniakan hari ini tidak akan terulang. Waktu akan terus berjalan sesuai dengan sunatullah.

Ada sebuah pepatah yang menyatakan “times is money”. Ini mengindikasikan betapa berharganya waktu.

Pemanfaatan waktu dengan tepat akan memberikan kontribusi dalam setiap perjalanan hidup. Sebaliknya, waktu akan menjadi mesih pembunuh yang ampuh bila kita lengah.

Hasan Basri juga menyatakan

“ Wahai manusia, sesuangguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.

Kesempatan tidak akan datang dua kali. Sudah menjadi sebuah keharusan setiap yang ada didepan mata harus dimanfaatkan. Setiap detik dari waktu kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Beruntung memang bagi orang-orang yang tidak terlena dengan nikmat waktu luang. Rasulullah bersabda :

Dua nikmat yang banyak manusia tertipu didalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah.)

Abdul Fattah bin Muhammad dalam Qimatuz Zama ‘Indal ‘Ulama menjelaskan, kata tertipu’ dalam hadits diatas memiliki makna merugi. Banyak manusia berada dalam kerugian nikmat waktu yang diberikan telah disiakan-siakan. Nikmat waktu yang begitu banyak dikaruniakan dibiarkan berlalu begitu saja.

Setiap manusia mendapatkan jatah waktu dalam sehari dalam jurmlah yang sama yakni 24 jam. Pertanyaan yang kemudian muncul, mengapa capaiannya begitu beragam? Jawabannya terletak pada pemanfaatan waktu yang berbeda.

Orang yang ketat sekali dalam mengatur waktunya ia akan mencapai keberhasilan sebagai manusia hakiki. Banyaknya hal yang harus diselesaikan setiap harinya justru semakin konsisten dalam hal mengatur waktu. Semua pekerjaan selesai dalam waktu yang tepat. Tepat sekali dengan adanya ungkapan “berikanlah pekerjaan kepada orang yang sibuk”.

Lain hal dengan orang yang memiliki sedikit beban pekerjaan. Orang seperti ini cenderung menunda pekerjaan. Ia berfikir masih ada hari lain. Nanti sajalah. Ujuang-ujungnya sudah mendekati deadline. Pekerjaan yang sudah dikejar deadline biasanya dikerjakan asal-asalan. Yang penting jadi. Mengapa hal ini terjadi? sebab, tidak cukup waktu untuk mencari bahan dan menelaah kembali. Apalagi membuat rencana. Tentu tidak mungkin. Bisa selesai saja sudah untung.  

 

 

Minggu, 04 Oktober 2020

Antara Kebutuhan dan Gaya Hidup

 

Sering kali kita kabur dalam memaknai antara kebutuhan hidup dan gaya hidup. Akibatnya merasa berat dalam menjalaninya.

Benarkah hidup mahal?

Jawabannya bisa iya namun bisa juga tidak. 

Semua tergantung perspektif yang dibangun. Kembali kepada ilmu hakekat menjadi salah satu kuncinya.

Kebutuhan hidup pada awalnya hanya sandang, pangan dan papan. Seiring dengan perubahan zaman terjadi penambahan berupa transportasi,  komunikasi dan rekreasi. Kebutuhan hidup tersebut sebetulnya dapat dipenuhi dengan biaya yang murah.

Sandang, kembalikan kepada tujuan utama yakni menutup aurat. Pakaian yang menutup aurat bisa didapatkan dengan harga yang murah. Lain hal bila yang dikejar trend. Pakai yang sedang ngetrend tentu dibanderol harga yang lebih mahal. Bisa saja berdalih pakaian mahal lebih nyaman dipakai. Saya kira hal itu hanya soal kebiasaan saja.

Papan, hakekat tempat tinggal adalah berlindung dari terik matahari dan hujan. Rumah merupakan tempat istirahat setelah bekerja. Rumah hanyalah tempat berteduh.

Rumah bisa saja dibangun dengan prinsip-prinsip kesederhanaan. Maknanya, untuk membuat rumahku adalah surgaku tidak harus terlihat mewah. Namun, lebih kepada terwujudnya keluarga yang sakinah, mawadah dan warrohmah. Seluruh anggota keluarga saling menyayangi satu sama lain. Anak taat dan patuh pada orang tua. Orang tua menyayangi anak-anaknya.  Istri melayani suaminya. Suami yang selalu mengayomi istrinya. Lantunan kalimah thoyibah sering diperdengarkan.

Rumah mewah bukan jaminan seorang suami ingin cepet-cepet pulang setelah bekerja. Anak-anak betah dirumah dan lain sebagainya.

Pangan, bicara soal makanan dan minuman yang perlu menjadi titik fokus bukan lagi pada soal rasa ataupun gaya. Makanan dan minunam sehat tidak harus mahal. Banyak yang bagus bagi tubuh dapat diperoleh dengan harga murah. Jangan sampai enak yang dikonsumsi berakibat buruk bagi kesehatan.

Selain itu, perlu diperhatikan juga kadar ke halalannya. Halal dikonsumsi harus tetap menjadi titik perhatian. Sebab dalam Islam tidak semua makanan dan minuman halal untuk dikonsumsi.

Saat ini Transportasi, komunikasi dan rekreasi memang menjadi kebutuhan dasar hidup manusia. Tanpa kehadiran ketiganya hidup terasa ada yang kurang. Namun bukan berarti dalam pemenuhan ketiga membutuhkan biaya yang besar.

Transportasi, alat transportasi saat ini sudah begitu banyak jenisnya. Alat transportasi tidak harus dimiliki namun bisa saja hanya menyewa atau yang lain. Saat ini banyak sekali alat transportasi publik dengan harga terjangkau. Orang cukup menggunakan jasa transportasi baik offline atau online.

Komunikasi, perkembangan teknologi informasi yang luar biasa membuat semua orang membutuhkannya. Alat komunikasi banyak dimanfaatkan baik dalam pendidikan, pekerjaan, jalinan sosial dan lain sebagainya.

Begitu banyak alat komunikasi dengan harga yang murah, namun dilengkapi dengan fasilitas lengkap. Dalam pembelian alat komunikasi memang harus kembali kepada kebutuhan bukan pada trend. Jika trend yang dikejar tentu butuh merogoh kocek banyak untuk membelinya.

Rekreasi, media rekreasi sudah begitu variatif. Begitu banyak ditawarkan kemudahan dan kemurahan. Orang tidak perlu lagi datang ke lokasi misalkan ingin menikmati wahana wisata tertentu. Semuanya bisa dinikmati dari tempat yang jauh serta dalam dimensi waktu yang berbeda.

Upaya kembali kepada paradigma lama menjadi hal yang tak bisa tawar lagi.  Paradigma lama sudah mapan dengan prinsip-prinsip positif yang dibawanya. 

Kalau bisa murah, mengapa harus mahal?

Selasa, 29 September 2020

Keberkahan dalam Keterbatasan Ilmu Agama

 


 “ilmu iku kudu dadi petunjuk

Kakak ipar merupakan guru PNS bahasa inggris. Rutinitas harian mengajar di MTs N Demak. Semua jenjang pendidikan formal yang dilalui berupa sekolah umum. Selain sekolah formal tidak ada jenjang pendidikan yang di lakoni, artinya sama sekali tidak pernah menempuh pendidikan Pesantren ataupun Madrasah Diniyah (sekolah sore).

Semasa usia sekolah, ilmu agama hanya diperoleh dari guru PAI. Sedangkan sekolah umum hanya mengalokasi 2 jam pelajaran dalam seminggu. Berdasarkan pengalaman dan hasil diskusi ilmiah memang sulit sekali memaksimalkan proses pembelajaran dengan waktu yang relative sedikit. Alhasil keterbatasan alokasi waktu berbanding lurus dengan minimnya capaian kompetensi siswa.

Kakak ipar adalah seorang anak yang di didik dilingkungan keluarga yang memang tidak agamis. Bapak dan Ibunya adalah seorang guru SD. Rutinitas pekerjaan sebagai seorang guru PNS di SD menjadi salah satu penyebab keluarganya jauh dari nilai-nilai agama. Hari demi hari berlalu dengan suasa gersang. Lantunan ayat-ayat suci Ilahi jarang sekali terdengar, rutinitas sholat tidak terlihat, dan saat ada acara bancaan saja terdengar bacaan kalimah thoyyibah.

Lingkungan tempat tinggal memang tidak mengindikasikan adanya semangat keberagamaan yang tinggi. Hanya ada satu Mushola yang menjadi pusat kegiatan keagamaan. Kegiatan mengaji di Mushola juga tidak dikelola dengan baik. Selain Mushola juga tidak ada pondok pesantren ataupun Madrasah Diniyah sebagai pusat pendidikan keagamaan bagi anak-anak.

Pengalaman proses pendidikan tidak efektif yang selama ini telah dijalani ternyata memberikan pengaruh besar yakni berupa minimnya pengetahuan dan pengamalan nilai-nilai religius. Hal ini memang bukan hal yang aneh. Sebab, menurut Ki Hajar Dewantara ada 3 pusat pendidikan yakni sekolah, keluarga dan lingkungan. Kebetulan dari tiga pusat pendidikan tersebut berjalan seiring seirama, namun bukan mendukung proses pendidikan tetapi sebaliknya. Memang tidak mengherankan jika kemudian proses pendidikan tidak berjalan secara efektif. Ketiga seperti bersepakat untuk tidak memberikan yang terbaik.

Minimnya pengetahuan dan pengalaman dalam bidang agama ternyata bukan akhir dari kehidupan. Alhamdulillah setelah menikah, si kakak dengan sabar mendidiknya dalam hal agama. Cara berpakaian, rutinititas keagamaan, intensitas membaca al-quran, dan pengamalan agama yang lain berubah 180 derajat. Boleh dibilang mendadak sholehah. Dalam kurun waktu yang singkat kehidupannya berubah. Semula jauh dari nilai-nilai keagamaan berubah menjadi sangat dekat. Bukan hanya itu, seluruh keluarga bahkan lingkungan juga ikut berubah menjadi agamis.

Poin besar dari sosok kakak ipar, ia memang nol besar dalam urusan agama. Namun, mengindikasikan memiliki keteguhan dalam mengamalkan ilmu agama. Akupun yang pernah mengenyam pendidikan keagamaan tidak hanya formal bahkan pesantren merasa takjub. Pada satu sisi juga merasa malu.

Usia pernikahan yang sudah berlangsung lama belum juga memiliki keturunan tidak membuatnya putus asa dalam menjaga keharmonisan keluarga. Do’a dan usaha yang dilakukan untuk memperoleh momongan yang belum juga terlihat hasilnya, tetap membuatnya tetap berhusnudzan kepada Allah.

Sampai akhirnya sampailah pada titik tertentu. Banyaknya gaji yang diperoleh tidak hanya dinikmati sendiri sendiri namun selalu di sedekahkan kepada orang lain. Sedekah selalu diutamakan kepada orang yang susah, tempat ibadah, fakir miskin dan anak yatim. Bahkan anggota keluarga yang terhitung memiliki tingkat ekonomi menengah juga ikut merasakannya.

Agustus 2019, ia jatuh sakit terdeteksi kanker rahim. Semua dibuat kaget dengan berita ini. Harapan memiliki keturunan sirna seketika. Beberapa waktu kemudian, dokter menyarankan untuk dioperasi. Tanpa berfikir panjang tawaran tersebut di iyakan. Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Kesehatanpun berangsur-angsur membaik. Semua terlihat baik-baik saja.

Ternyata tidak sangka pada bulan Agustus 2020. Kondisi kesehatannya menurun. Menurut hasil pemeriksaan medis, hatinya mengalami pembengkakan.

Kami yang sedang tinggal diluar kota, seketika kaget mendengar informasi tersebut. Semakin hari, kondisinya semakin memburuk. Banyak hal yang membuat kami sekeluarga tidak dapat menjenguk. Hanya do’a yang mampu kami berikan.

Hari minggu, 20 September 2020 tepat pukul 05.00 WIB ada informasi bahwa beliau meninggal. Seketika badan terasa lemes. Segera kami berkemas-kemas untuk takziah, berharap masih bisa melihatnya.

Sesampainya dirumah duka. Kondisi sudah terlihat sepi rupanya jenazah sudah dimakamkan 3 jam sebelumnya. Isak tangispun tak tertahankan. BUkti kesedihan tidak dapat melihatnya untuk yang terakhir kali..

Subhanallah, kesedihan inipun cepat berlalu setelah mendengar cerita begitu banyaknya orang yang mensholati, banyaknya rombongan yang ikut membacakan tahlil, dan satu lagi yang luar biasa beliau meninggal dalam keadaan tersenyum.

Maha suci Allah, kami merasa senang sekaligus sedih. Senang dengan munculnya tanda-tanda khusnul khatimah. Sedih karena merasa belum sebaik beliau dalam menjalankan agama. Merasa kerdil dalam hal rutinitas keagamaan. Masih banyak ilmu yang belum diamalkan.

Menurut istriku beliau adalah sosok yang luar biasa. Hari-harinya tidak disibukan pengalaman pengatahuan agama meskipun sedikit. Ilmunya mampu menjadi cahaya. Sebagaimana dawuh Hadaratus Syekh Romo Yai Ahmad Asrori al-Isaqi, r.a “ilmu iku kudu dadi petunjuk

Pada saat masih sehat beliau pernah bercerita kepada istriku “alasannya banyak bersedekah, berangkat dari sebuah kesadaran tidak memiliki keturunan”. Menurut beliau “sanguine mati seng ra pernah putus pahalane ono telu : 1. Sedekah 2. Anak sholeh 3. Ilmu yang bermanfaat”. Beliau Pernyataan itu sesuai dengan haditsnya rasulullah :

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Tumbuh kesadaran untuk memperoleh keturunan dan memiliki ilmu yang bermanfaat itu sulit. Tanpa berfikir panjang pilihan itu yang diambil.

Tidak memiliki keturunan bukanlah akhir segalanya. Realitas diatas dapat dijadikan obat bagi pasangan yang tidak memiliki keturunan.

Cara pandang yang tidak tepat seperti “le ora nduwe keturunan, terus ora ono seng ngrumati lek es tuwo” harus segera dirubah. Segera sadari, rahmat Allah ternyata begitu luas. Masih banyak cerita orang yang tidak dikarunia keturunan, namun meninggalkan dunia ini dengan tanda-tanda dirihai Allah. Lagipula tidak ada kepastian hidup didunia sampai tua.

Memiliki anak bukan jaminan, kelak masa tua akan di rawat dengan baik. Tidak ada kepastian anak membalas pengorbanan orang tua. Banyak kasus, anak menyengsarakan orang tuanya.

Berhentilah berputus asa dari rahmat Allah. Tugas manusia adalah berdoa dan berusaha. Urusan pemberian semua otoritas Allah. Selama sudah mampu menempatkan diri menjadi hamba yang baik, rahmat Allah pasti akan diterima. Entah cepat atau lambat, sekarang atau besok, di dunia ataupun di akhirat.

Jalan kebahagiaan tidak harus memiliki anak, banyak jalan lain yang membahagiakan.

Semoga kita semua sadar , anak bukan hiburan tetapi amanah. Bagi yang tidak memiliki keturunan jangan bersedih, sebab akan selamat dari pertanggungjawaban tentang anak.

Segera bangkit. Cari amalan lain yang mendatangkan rahmat Allah.

Selasa, 22 September 2020

Misteri Ilahi

 



Hidup dalam kuasa ilahi. Semua dalam genggaman-Nya. Tiada daya dan upaya apapun yang mampu mengganggu otoritas-Nya.

Dunia adalah tempat menanam kebaikan. Kebaikan yang dilakukan merupakan bentuk pengabdian nyata seorang hamba kepada tuhan-Nya. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dari hal itu, semua memang terkesan biasa-biasa saja. Artinya pengabdian itu sesuatu yang wajar dan keharusan bagi seorang hamba. Maka tak pantas bila muncul tulul amal.

Tugas manusia beribadah. Ibadah tidak hanya yang berkaitan dengan Allah. Meskipun taqdir hak prerogatif Allah. Amal yang dilakukan manusia tidak akan mampu merubah taqdir pada dirinya. Meskipun begitu, manusia harus tetap beramal sebagai bentuk menjalankan perintah Allah.

Poin paling penting dalam beramal adalah upaya konkrit meraih ridha Allah. Ridha Allah diperlukan untuk meraih kebahagiaan hidup didunia maupun akhirat.

Penting sekali setiap hamba meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Dunia adalah realitas dan akhirat sebuah kepastian.

Setiap yang bernyawa didunia akan mati. Urusan mati pantas dialami oleh siapapun dan kapanpun. Semua akan mengalaminya. Kematian itu pasti, sedangkan kapan waktunya merupakan rahasia ilahi.

 

 

Jumat, 18 September 2020

GURU PAI DAN EKSTREMISME (Mengkaji Urgensi Guru PAI Moderat ditengah Kontestasi Paham)


 


Hadirnya revolusi industry 4.0 ditengah kehidupan memiliki dua sisi yaitu adanya  peluang dan tantangan. Peluang yang dimunculkan berupa kemudahan dalam proses pendidikan. Kemudahan dalam proses pendidikan salah satunya berupa kemudahan mendapatkan sumber belajar.

Sebelum masa ini sumber belajar paling mudah diperoleh berupa informasi pendidik dan bahan bacaan cetak (buku, artikel, dll). Saat terdapat perubahan yang luar biasa. Perubahan tersebut sejalan dengan perkembangan teknologi informasi. Perubahan yang dimaksud berupa sumber belajar yang bisa diperoleh dari dunia maya dengan tanpa ada batasan waktu dan jumlah. Terserah siapa yang mau. Seituasi sudah seperti pasar bebas.

Realitanya banyak juga konten pendidikan moderat yang ditawarkan. Ketersedian konten moderat tersebut merupakan peluang bagi dunia pendidikan. Kecepatan dan ketepatan dalam beradaptasi memang sangat dibutuhkan. Keberhasilan dunia pendidikan dalam melakukan semua itu memiliki implikasi positif bagi eksistensinya. Dunia pendidikan dengan mudah akan mencapai tuntutan stakeholder. Sebab akan dianggap mampu mencetak lulusan yang sesuai harapan.

Pada satu sisi bersamaan dengan membludaknya konten berisi nilai pendidikan moderat juga terdapat banyaknya konten yang bernilai pendidikan ekstrem. Sejauh ini jumlahnya sudah begitu banyak bahkan melampaui konten yang bernilai moderat. Memang mengkhawatirkan.

Konten ekstrem yang di pelopori oleh kelompok eksrimis dan fundamentalis begitu cepat menyebar. Dalam waktu yang relative singkat sudah hadir ditengah-tengah kehidupan remaja yang sedang mencari jati diri. Siapa mereka? Jawabannya adalah anak-anak usia sekolah menengah. Menurut teori psikoanalisis remaja usi sekolah menengah memiliki kecenderungan dalam menemukan jatidiri, mereka berada dalam ketidakpastian meskipun saat dihadapkan pada konsep-konsep yang telah diperoleh sejak kecil, termasuk didalamnya konsep tentang agama. (Henri Saputra 2017 : 48).

Kelompok ekstremis begitu piawai dalam menangkap peluang. Begitu cepat hadir ditengah kebingungan anak-anak pada usia tersebut. Kehadirannya seolah-olah memberikan solusi. Padahal sejauh hasil berbagai research konten tersebut memiliki daya rusak yang luar biasa bagi kehidupan.  

Berangkat dari fenomena diatas, maka dibutuhkan peran aktif pendidik dalam bidang agama Islam. Guru PAI yang mampu menghadirkan konsep Islam “rahmatan lil’alamin” ditengah kehidupan mereka. Konsep yang dimaksud adalah konsep yang tidak condong ke kanan ataupun ke kiri. Konsep yang sebagaimana telah dicontohkan dalam kehidupan baginda rasulullah. Bukan lagi Islam yang meresahkan dan menakutkan bagi kehidupan. Konsep Islam yang mengarah pada kehidupan berdampingan dengan sesama manusia. Konsep Islam yang dimaksud adalah Islam Wasathiyah.

Islam moderat merupakan konsep beragama sebagaimana yang dicontohkan rasulullah. Islam yang dengan pengamalannya terdapat nilai saling menghargai dan mengakui, meskipun tidak sejalan dengan pikiran dan kepentingannya.

Hadirnya Islam Wasathiyah ditengah kehidupan anak usia sekolah menengah diharapkan akan menjadi warna baru. Bukan saja hari ini, namun selama hidupnya. Bukan untuk pribadinya saja, namun seluruh umat manusia.

Satu hal yang perlu digarisbawahi negara Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030. Dimana hal tersebut akan menjadi instrument kemajuan bangsa. Sudah pasti dibutuhkan generasi-generasi yang moderat dalam mensukseskan memajukan kehidupan negara. Bukan lagi generasi yang sudah menganggap dirinya paling benar dan paling berhak yang berujung pada pandangan rendah terhadap orang ataupun kelompok lain.

Tulungagung, 19 September 2020.

Selasa, 15 September 2020

MODERASI PEMBELAJARAN (Upaya Meraih Capaian Pembelajaran Daring)

 


“ Jalan tengah menjadi aspek penting dalam meraih capaian pembelajaran daring”

Masih dengan pembelajaran DARING. Ya, itu yang bisa dilakukan oleh mayoritas pendidik di Lembaga pendidikan. Masih tingginya penyebaran Covid-19 membuat pendidik tidak punya pilihan lain.

Pembelajaran daring bukan sekedar memindah pembelajaran manual menjadi online. Lebih dari itu. Ada banyak PR besar yang harus diselesaikan. Sebab aktifitas pembelajaran harus bertarung dengan konten lain yang lebih menarik perhatian pelajar.

Saat ini, secara garis besar tugas pendidik dapat diklasifikasikan menjadi 3 yakni capaian pembelajaran, menjaga stabilitas motivasi peserta didik dan mampu berdampingan dengan teknologi.

Capaian pembelajaran merupakan hal yang harus tetap diperhatikan ditengah semua keterbatasan. Namun satu hal yang perlu digaris bawahi, bukan berarti boleh memilih cara-cara yang kaku dan memaksa. Keputusan memiliih cara-cara yang kaku dan memaksa bukan lagi akan mendekatkan pada capaian pembelajaran justru sebaliknya. Pilih cara-cara yang lebih humanis. Ketepatan menentukan cara tentunya akan berpengaruh pada keefektifan proses. Jangan sampai focus yang berlebihan justru menjadi penyebab semakin jauh dari capaian pembelajaran.

Demi mendapatkan pembelajaran yang efektif dan efesien jangan hanya menggunakan kacamata pendidik. Pertimbangkan kondisi ekonomi, psikologi, dan konteks siosial peserta didik.

Merogoh kocek dalam jumlah yang besar untuk membeli kuota internet. Mungkin saja bukan masalah besar bagi pendidik. sebab, setiap bulan mendapatkan gaji. Lalu bagaimana dengan peserta didik? Mayoritas dari mareka belum mandiri dari sisi keuangan. Mungkin saja usaha orang tuanya sedang macet, baru saja di PHK, belum lagi sederet masalah ekonomi dalam keluarga.

Perlu ketepatan dalam memilih media, mengemas materi, dan mengontrol proses. Pemilihan media yang lebih familier menjadi penting. Jangan pilih media yang dianggap asing oleh peserta didik. Disamping itu, juga perlu mempertimbangkan kuota internet serta kekuatan signal yang dibutuhkan.

Mengemas materi yang mudah dan menarik menjadi aspek penting yang tak boleh diabaikan. Efektifkah? Misalkan seluruh materi hanya disajikan berupa bacaan.  Sulit rasanya mengharapkan itu terjadi. saat ini dirumah mereka sedang enjoy dengan gadged-nya. Tiba-tiba dibebani tugas membaca materi yang begitu banyak. Mustahil rasanya mampu meninggalkan gadged-nya untuk kemudian membaca dengan serius. Membahas konteks ini, dibutuhkan kreatifitas pendidik dalam menyajikan materi yang dikemas dalam bentuk lain, misalnya audio dan ppt. Mengapa video tidak menjadi pilihan? Tentu karena mempertimbangkan biayanya.

Ketepatan pendidikan dalam mengemas materi akan memberikan sumbangan besar dalam upaya meraih capaian pembelajaran. Materi yang dikemas dengan begitu menarik dan mudah dipelajari akan membuat peserta didik tidak lekas bosan.

Realitanya ada aspek sosial keluarga yang ikut mempengaruhi. Mungkin saja situasi dan kondisi sosial keluarga sedang tidak kondusif. Masih banyak orang tua yang menganggap pembelajaran daring sebagaimana halnya hari libur. Anak yang seharusnya lebih banyak focus dengan belajar, dibebani dengan sederet pekerjaan dirumah.

Memang dibutuhkan energi besar, pemikiran yang cemerlang dan waktu yang lebih lama untuk memikirkan semua itu. Percaya ataupun tidak, saat semua itu menjadi kebiasaan dengan sendirinya akan mengalir seperti air disungai. Bisa saja keseriusan dan ketekunan mendesain pembelajaran daring membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien dari sebelumnya.

Sebagai bagian penting dalam pendidikan harus tetap sigap dengan semua bentuk perubahan baik yang sudah terprediksi ataupun belum. Berbekal kebiasaan dalam pembelajaran daring sangat mungkin menjadi modal kedepan. Bukan tidak mungkin pembelajaran kedepan akan menggunakan system digital. Saat hal itu benar-benar terjadi, maka nilai lebih bagi seorang pendidik.

Tulungagung, 16 September 2020

Minggu, 13 September 2020

Menahan Rindu dalam Keterbatasan

 



“Rasa sakit menahan diri tidak menulis, sepadan dengan menahan diri bertemu dengan sang pujan hati

Seperti ada yang hilang. Perasaan itu yang selama ini menyelimuti diriku. Sepuluh hari aku tidak menulis di blog pribadi.

Berhenti menulis menulis bukan karena tidak mau. Hal itu disebabkan oleh adanya hal yang menjadi skala prioritas dan keterbatasan fisik.

Persiapan perkuliahan semester ini banyak menguras waktu. Ada poin besar yang harus dipersiapan yakti RPKPS Daring, materi pembelajaran online dan mendesain pembelajaran E-learning.

Rencana Program dan Kegiatan Pembelajaran Semester (RPKPS) Daring memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan model biasanya. Meskipun model baru, bukan berarti menjadi hal yang sulit diselesaikan. hanya saja dengan tagihan pengisian kolom-kolom yang banyak berkaitan dengan materi online. Hal itu yang membuat banyak sekali alokasi waktu dan energi yang harus dialokasikan.

Materi pembelajaran online, hal kedua yang harus disiapkan. Demi mewujudkan standar capaian mata kuliah tentu tidak mungkin hanya menyiapkan materi berupa file word, pdf atau ppt saja. Maknanya pendidik dituntut untuk dapat membuat rekaman materi berupa audio atupun video. Bermodalkan materi yang dikemas dalam video atau audio mahasiswa akan lebih mudah memahami, mahasiswa seperti tidak merasakan perbedaan yang berarti antara tatap muka dengan daring. Mengapa hal itu penting? Berdasarkan hasil survey mahasiswa lebih mudah menangkap materi dengan penjelasan secara lisan dari dosen disamping ada materi yang tertulis. Apalagi berkaitan dengan materi yang sulit seperti metodologi penelitian. Dengan begitu harapannya materi dapat ditangkap dengan baik dan CPMK dapat terpenuhi.

Mendesain kelas di elearning milik kampus. Semester lalu masing-masing dosen mendapatkan kebebasan penuh dalam menentukan media yang digunakan dalam pembelajaran online. Maka realitanya, ada yang banyak menggunakan watsapp, googleclassroom, email dan lain-lain. Berbeda dengan semester ini, ada sinyal yang tidak langsung bahwa dosen diharapkan menggunakan elearning dalam pembelajaran. Meskipun saya sendiri belum melihat edaran resminya. Tetapi dengan mencermati beberapa kali isi sambutan Rektor diberbagai forum menjadi kampus yang familier dengan system online dan gencarnya pelatihan pemanfaat elearning dalam perkuliahan, saya rasa cukup menjadi dorongan kuat. Ya, selain itu saya sendiri suka bergelut dengan dunia online. Cepat atau lambat semua dosen harus familier dengan elearning. Kedepan bukan tidak mungkin pembelajaran akan tetap dijalankan secara online, ya mungkin saja persentasenya bukan lagi 100% namun 70% dan 30% tetap dengan tatap muka.

Menurut saya pemanfaatan elearning ini menjadi penting, salah satunya sebagai sarana pembuktian kita ini bukan masuk kategori generasi kolonial yang GAPTEK. Pada sisi yang lain juga sebagai bentuk dukungan terhadap digitalisasi kampus sebagaimana visi pimpinan tertinggi.

Tigal hal diatas sangat menguras energi, pikiran dan waktu. sekaligus menjadi penyebab tetap aku tahan keinginan untuk menulis diblog. Bukan tidak ingin, justru sangat. Merasa seperti ada yang hilang? Pasti. Adakah kerinduan yang begitu dalam? Tentu. Meskipun ide itu muncul dan keinginan munulis itu ada belum bisa dikatakan setiap hari, namun 4 hari dalam seminggu hal itu selalu hadir.

Tapi semua itu tetap dikendalikan karena keterbatasan fisik. Ya, terang saja. Sistem imun tubuhku sekarang belum kembali pulih seperti dulu. Rasanya mudah sekali capek. Sebelum sakit dalam sehari mampu berfikir diatas 12 jam. Duduk didepan laptop dari pagi kuat sampai jam 2 dini hari. Sekarang rupanya tidak begitu. Saat ini sehari hanya mampu berfikir serius kurang lebih 5-6 jam, itupun tidak mampu seminggu berturut-turut. Pukul 21.00 harus sudah tidur, kalur tidak maka akan sulit tidur sampai pukul 23.-an lebih dan paginya dada terasa sakit dan kepala pusing. Misalkan ada tuntutan 5 hari harus berfikir maka sabtu minggu harus istirahat total.

Kamis, 03 September 2020

URGENSI KESALEHAN SOSIAL DI TENGAH PENYEBARAN COVID-19

 



Sampai saat ini penyebaran Covid-19 masih menunjukkan adanya peningkatan penyebaran yang luar biasa. Hal ini dapat dilihat dari laporan Kementrian Kesehatan RI yang di rilis setiap hari sekitar pukul 16.15 WIB. Data terbaru pada tanggal 2 September 2020 jumlah kasus positif mencapai 180.646 dengan angka kesembuhan 129.971 dan meninggal 7.616.

Data laporan kementerian kesehatan RI tersebut menjadi acuan bagi pemerintah untuk terus melakukan langkah konkrit dalam memutus mata rantai penyebaran. Langkah konkrit ini diambil tidak hanya penyerintah pusat namun sampai kepada pemerintah di tingkat daerah. Langkah konkrit tersebut terlihat dengan adanya konsistensi dalam mensosialisasikan cara – cara memutus mata ratai penyebaran, memberikan sanksi bagi pelanggar dan melakukan Razia.

Ancaman yang ditimbulkan dengan tetap tingginya penyebaran virus tersebut berupa terganggunya stabilitas berbagai sendi kehidupan. Satu orang yang dinyatakan positif saja memiliki dampak yang luas. Apalagi angka yang sedemikian banyak itu. Bukan hanya kesehatan yang akan terganggu namun, pendidikan, ekonomi, sosial dan politik juga akan merasakannya.

Sebagai makluk sosial yang memiliki potensi dalam mempercepat penyebaran Covid-19 dituntut untuk mengambil sikap yang tepat. Ketepatan bersikap tentu berbanding lurus dengan terputusnya mata rantai penyebaran. Apabila hal ini dapat terwujud berarti semakin banyak orang yang akan selamat dari efek negative penyebaran Covid-19.

Jangan egois. Pikirkan nasib orang lain. Bisa jadi kita dalam keadaan sehat, perkejaan mapan, dan ekonomi kuat. Saat divonis positif terjangkit Covid-19 dan harus menjalani isolasi, bisa saja tidak berpengaruh besar bagi kehidupan, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, keberlangsungan pendidikan anak-anak dan, lain sebagainya. Bisakah itu berlaku bagi orang lain? Dimana saat ini sedang dalam keadaan sakit kronis yang berpotensi buruk bila terjangkit Covid-19, berstatus sebagai pegawai kontrak, dan ekonomi yang belum mapan. Bagaimana dengan kebutuhan kesehariannya, keberlangsung pendidikan anak-anaknya, dan sebagainya.

Selalu dibutuhkan kepekaan terhadap nasib orang lain. Kurang bijak, misalkan hanya diri kita yang jadi ukuran. Coba lihatlah kanan kiri. Bagaimana kondisi mereka? Jangan sampai kita menyesal, lantaran sikap yang tidak peduli pada orang sekitar berakibat buruk baginya.

Tulungagung, 4 September 2020.

Minggu, 30 Agustus 2020

KUNCI SUKSES HAKIKI

 


Sukses dalam hidup merupakan hal yang dianggap penting oleh sebagian besar orang. Sukses pada umumnya adalah kepemilikan harta melimpah, menjadi pejabat dilingkungan kerja, gelar yang berjejer, dihormati dimana-mana dan lain sebagainya. Benarkah hal tersebut menggambarkan kesuksesan seseorang?

Terlalu remeh temeh saya kira, jika kesuksesan hanya diukur dari semua itu. Ada yang yang lebih tepat untuk dijadikan indikator sukses yaitu menjadi orang yang bernilai.

Nilai adalah sesuatu yang dianggap baik, selalu ingin diketahui, dan diidam-idamkan sebab mampu menarik perhatian serta mampu menyenangkan (Kees Bartern).

Makna secara sederhana, nilai merupakan sesuatu yang dianggap berharga. Artinya nilai itu bukan kita yang menentukan , tetapi orang lain. Sebagaimana pendapat Mardigu Wowiek, “Nilai Anda, bukan Anda yang menentukan, tetapi nilai orang lain yang di sematkan di dalam diri Anda”

Berapa nilai kita? semua terserah lingkungan. YA, SEMUA TERSERZH ORANG LAIN. Kita hanya dapat mengupayakan agar mendapatkan nilai yang tinggi. Keberhasilan mencapai nilai tinggi bisa dikatakan keberhasilan hidup. Siapapun yang memiliki nilai tinggi ia mampu mengukir sejarah hidupnya dan ikut mewarnai sejarah kehidupan orang disekitarnya.

Diri kita ini seperti hanya barang dagangan, jika barang dagangan tidak bernilai maka, tidak akan muncul harga penawaran. Tidak akan ada yang mau membeli meski murah sekalipun atau bahkan diberikan gratis. Orang enggan menerimanya.

Mengapa hal ini tejadi? Munculnya sebuah penghargaan terhadap sesuatu selalu didasarkan pada azas kebermanfaatan. Ya, apa manfaatnya? Misalkan barang tersebut memiliki manfaat besar tentu banyak yang rela berebut mendapatkannya atau bahkan membayar mahal.

Titik fokus disini adalah manfaat.  Manfaat selalu berbanding lurus dengan nilai. Semakin besar manfaat kita, tentu semakin besar nilai kita. Hal ini sejalan dengan hadits rasulullah, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-AuSath, Juz VII, hal. 58). Tidak perlu menunjukkan siapa kita, selama memiliki manfaat bagi orang lain tentu ada harga yang pantas.

Rabu, 26 Agustus 2020

DINAMIKA MENYIAPKAN PROPOSAL STUDI LANJUT

 


Tahun ini mendadak ada keputusan lanjut studi. Ada beberapa hal yang memang menjadi dasar pertimbangan. Misalkan diberi pertanyaan, apakah sudah siap? Tentu jawabnya “belum siap”. Bagi saya kesiapan itu bisa berjalan seiring waktu dan kebutuhan. Kesiapan biasanya terbentu saat ada tuntutan. Hal ini memang kebiasaan yang dapat dikategorikan buruk. Namun, semua butuh proses untuk mereduksi kebiasaan yang tidak baik tersebut.

 Pada saat membuka brosur pendaftaran mahasiswa baru. Salah satu persyaratannya berupa proposal disertasi. Proposal disertasi ini selain sebagai syarat administratif juga akan menjadi bahan ujian.

Ditengah kebingungan dengan berbagai keterbatasan teori dan pengalaman terkait dengan disertasi. Coba saya temui beberapa kawan yang sudah lebih dulu lanjut studi. Maksud dari hal itu agar mendapat petunjuk. Hasilnya, mayoritas kawan menyampaikan proposal tersebut tidak harus ideal. Boleh dikata yang penting ada. Toh, nanti juga akan mengalami perubahan pemikiran seiring dengan bertambahnya wacana keilmuan pasca pembelajaran dikelas.

Mendengar penjelasan tersebut, ternyata belum juga mengobati kegundahan dalam pikiran. Sekali lagi coba saya meminta arahan kawan yang saya rasa beliau ini orang yang ideal hampir dalam segala hal. Teman terakhir menyarankan “sebaiknya memang proposal disusun dengan sebaik-baiknya dan lebih bagus lagi misalnya tema proposal sudah tepat, sangat mungkin bisa dilanjutkan menjadi tema proposal disertasi diakhir studi”. Harapannya seiring bertambahnya wacana keilmuan dan pengalaman tema penelitian tersebut dapat dilengkapi segala sesuatunya menjadi bahan ujian proposal.

Alhamdulillah penjelasan teman terakhir mampu menjawab kegundahan. Meskipun muncul masalah baru terkait dengan masalah penelitian sekelas disertasi.

Demi menutupi kekurangan probadi, mulailah berjalan-jalan di beberapa jurnal terindeks scopus, membaca buku yang berhasil diunduh dari website penyedia buku dan buku cetak dirumah, membaca beberapa disertasi yang ada di repository beberapa perguruan tinggi ternama, mengikuti webinar online afirmasi research mahasiswa doktoral, menyimak beberapa konten ujian tertutup program doktoral dan menyimak konten metodologi penelitian dari beberapa profesor di youtube.

Pasca melakukan semua itu, mulailah menyusun proposal disertasi. Ternyata tidak mudah, beberapa kesulitan masih ditemui. Pikiran dipaksa untuk terus memproduksi ide yang dikemas dalam rangkaian kata dan jari terus mengiringi dengan tarian indahnya diatas keyboard. Belum puas memang, tetapi yang jelas usaha sudah maksimal. Selanjutnya tidak pasrah dengan ketentuan sang penguasa alam.


Tulungagung, 26 Agustus 2020.

 


Selasa, 18 Agustus 2020

Memaknai Pengalaman Sebagai Guru Menuju Sukses

 

Setiap kita adalah orang hebat. Jika masih tidak percaya ingatlah keberhasilanmu diwaktu kecil

Percaya diri merupakan modal dasar menuju keberhasilan. Maka, percaya diri harus dimiliki oleh setiap orang. Ya, bagi orang yang ingin sukses.

Berbekal kepercayaan diri yang mustahil menjadi mungkin, dan yang sulit menjadi mudah. Kemudian pertanyannya seberapa besar rasa percaya diri ada dalam dirinya ? Kepercayaan diri dapat ditumbuhkan dengan mengingat keberhasilan dimasa lalu.

Banyak keberhasilan yang dicapai setiap orang dimasa kecilnya. Bahkah mungkin tak dapat dihitung dengan jari. Masa Balita saja, berapa banyak keberhasilan yang sudah kita raih?

Berikut pertanyaan sederhana yang mengingatkan akan kesuksesan dimasa lalu.

Adakah yang langsung bisa berlari?

Adakah yang langsung bisa berbicara?

Adakah yang langsung bisa makan dan minum?

Adakah yang langsung bisa memakai baju?

Capaian yang sampai hari ini kita rasakan membutuhkan proses dan perjuangan Panjang. Satu capaian bisa berlari saja butuh proses. Ada yang harus dilalui dengan urutan tahapan-tahapan capaian berikut mulai dari mengerakkan badan kenan dan kiri sampai akhirnya bisa berlari.

Semua kebutuhan yang kita capai hari ini membutuhkan proses. Dalam berproses dibutuhkan semangat, konsistensi, dan keteguhan hati. Secara sederhana dua hal yang dilakukan para pencapai sukses diwaktu balita yaitu belajar dari orang dewasa dan terus mencoba. Kegagalan selalu berbanding lurus dengan upaya mencoba. Benar saya kira apa yang dikatakan oleh Mario Teguh

Semakin sering mencoba semakin sering besar kemungkinan untuk behasil

Hampir semua orang pernah sukses dalam sejarah hidupnya. Hanya saja, sering kali kesuksesan itu dilupakan begitu saja. Seolah-olah ia merasa orang paling tidak berbakat. Ujungnya Kepercayaan diri begitu rendah. Menyerah sebelum perang. Gagal sebelum berusaha.

Seandainya setiap orang mengingat betul keberhasilannya dimasa lalu. Kepercayaan diri akan tumbuh kembali.

Tulungagung, 19 Agustus 2020

Minggu, 09 Agustus 2020

Urgensi Rekonstruksi Media Dakwah Moderasi Beragama di Media Sosial


Era dirupsi media online menempati posisi penting bagi kehidupan. Indikasinya dapat diketahui dari besarnya jumlah penduduk sebagi user dunia maya. Indonesia juga menjadi negara pengguna internet dalam kategori besar.

Berdasarkan penelitian platform manajemen media sosial Hoot Suite dan agensi marketing sosial We Are Social berjudul "Global Digital Reports 2020", pada akhir bulan januari 2020 sebanyak 64% atau 175,4 juta penduduk negara Indonesia merupakan pengguna Internet. Sedangkan saat ini jumlah penduduk Indonesia adalah 272,1 juta jiwa. Jumlah ini merupakan jumlah yang besar. Maknanya jumlah pengguna internet tahun 2020 mengalami peningkatan sebanyak 17% dari tahun 2019 atau sekitar 25 juta pengguna.

Masih berdasarkan hasil riset yang sama menunjukkan Indonesia menempati rangking 10 besar pecandu internet. Indonesia telah menempati urutan kedelapan sebagai pengguna internet. Sebetulnya hal ini mengalami penurunan, sebab pada tahun lalu Indonesia telah menempati urutan ke lima.

Berkaitan dengan penggunaan media sosial Indonesia telah mengalami peningkatan 8,1 % atau sekitar 1,2 juta. Artinya saat ini Indoensia telah mengalami penetrasi penggunaan media sosial 59 % dari total penduduk yang ada. Realitas yang juga mencengangkan rata-rata waktu yang digunakan menikmati media sosial dalam sehari mencapai 3 jam 26 menit setiap hari. Angka ini telah melampaui angka rata-rata global yang hanya mencapai 2 jam 24 menit per hari.

Youtube merupakan media social yang banyak di akses oleh penduduk Indonesia. Indonesia menempati urutan pertama dalam penggunaan youtube dengan capaian angka 88%. Wastapp menempati urutan kedua yaitu 84%. Sebesar 82% merupakan pengguna facebook. Sedangkan Instagram berada pada urutan terakhir yakni sebesar 79 %.

Para penikmat media social memiliki sebaran umur yang hampir merata. Media social banyak dinikmati bagi mereka mulai dari usia 16 sampai dengan 64 tahun.

Paparan data diatas dapat dijadikan sebagai dasar dalam pemanfaatan media sosial sebagai sarana dakwah moderasi beragama. Ketepatan dalam memaknai data dan mengambil peluang yang tersirat akan memberikan pengaruh besar dalam mencapai keberhasilan menciptakan kehidupan yang berdampingan dalam perbedaan.

Saat ini media social banyak dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis untuk menyebarkan ideologinya. Kelompok mendapatkan simpati yang begitu besar di youtube. Konten yang mereka upload di youtube mendapatkan apresiasi positif sampai jutaan dari netizen. Padahal yang kita tahu konten yang berasal dari kelompok ini jauh dari prinsip dasar moderasi beragama. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan paradigma netizen. Dimana sebagai besar netizen ini merupakan  generasi milenial.

Berangkat dari fenomena diatas diperlukan respon positif dari kelompok yang berpaham Islam wasathiyah yang kreatif dan tanggap. Sebagai upaya menjaga keseimbangan informasi yang dibutuhkan.

Saat ini memang sudah menunjukkan geliat yang bagus dengan adanya peran santri gayeng di Youtube. Santri gayeng mengupload pengajian Gus Baha dengan tetap menyesuaikan dengan isu yang berkembang. Hasilnya menunjukkan ada gejala positif dengan ratusan ribu netizen yang memberikan penghargaam positif. Memang sudah saatnya informasi pengetahuan keagamaan yang moderat ini dimunculkan lebih banyak lagi. Dunia internet ini ibarat pasar bebas siapapun yang berhasil menyediakan lebih banyak informasi dan sering dinikmati maka itu yang akan sering muncul.

Sebetulnya bisa dengan mudah informasi moderat ini mampu menguasai media social. Saat dilihat dari sisi jumlah negara ini mayoritas masih suka dengan ulama-ulama yang jelas rekam jejaknya, bukan yang dikemas sedemikian rupa dan merupakan tokoh dengan proses instan. Indikasi ini terlihat dengan website www.nu.or.id merupakan salah satu website milik NU yang mendapatkan respon jutaan pengguna internet. Besarnya jumlah peminat ulama yang moderat ini merupakan peluang besar. Hanya saja kedepan dibutuhkan keseriusan, konsistensi, ketepatan menangkap perkembangan isu dan pemanfaatan jaringan.

Sudah saatnya para pendakwah yang moderat ini bergeser ke media social. Pergeseran media dalam berdakwah ini sebagai sebuah respon kecenderungan umat. Saat ini memang banyak sekali pemeluk umat Islam baru. Pemeluk islam baru ini merupakan kelompok yang memiliki kecenderungan membutuhkan informasi yang instan dan simple. Mereka lebih suka mengakses informasi atas solusi yang dihadapinya sekarang. Informasi yang paling mereka sukai yang berbentuk praktis menjawab masalah dengan sajian yang sederhana.

Harapannya dengan terwujudnya konten yang berisi prinsip-prinsip moderat dalam beragama di media social, para penikmat media social dikalangan generasi milenial mendapatkan materi pengayaan. Generasi ini masih sangat membutuhkan bimbingan berupa informasi. Semakin banyak konten yang moderat disediakan dimedia social akan semakin besar pengaruh positif bagi paradigma keberagamaan. Generasi ini cenderung menjadikan media social ini sebagai kiblat dan referensi dalam pemahaman keberamaan.

Tulungagung, 12 Agustus 2020.

Selasa, 04 Agustus 2020

URGENSI SENI BERTENGKAR SUAMI DAN ISTRI


Pernikahan merupakan penyatuan suci antara dua insan. Pernikahan dilakukan antara perempuan dan laki-laki.

Secara kebahasaan, nikah bermakna “berkumpul”. Sedangkan menurut istilah syariat, definisi nikah dapat kita simak dalam penjelasan Syekh Zakariya Al-Anshari dalam kitab Fathul Wahab

Artinya, “Kitab Nikah. Nikah secara bahasa bermakna ‘berkumpul’ atau ‘bersetubuh’, dan secara syara’ bermakna akad yang menyimpan makna diperbolehkannya bersetubuh dengan menggunakan lafadz nikah atau sejenisnya,” (Lihat Syekh Zakaria Al-Anshari, Fathul Wahab, Beirut, Darul Fikr, 1994, juz II, halaman 38).

Dalam Islam pernikahan ini memiliki bergabai macam hukum. Hukum pernikahan selalu bersifat kasuistik. Hal ini sejalan dengan pendapat Sa‘id Mushtafa Al-Khin dan Musthafa al-Bugha, Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syâfi’i, “Hukum nikah secara syara’. Nikah memiliki hukum yang berbeda-beda, tidak hanya satu. Hal ini mengikuti kondisi seseorang (secara kasuistik),” (Lihat Sa‘id Musthafa Al-Khin dan Musthafa Al-Bugha, Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syâfi’i, Surabaya, Al-Fithrah, 2000, juz IV, halaman 17).

Dari keterangan tersebut diatas dapat dipahami hukum nikah memang tidak dapat digeneralisasi. Hukum nikah selalu memiliki sifat kekhususan. Perbedaan kondisi antara satu orang dan yang lain selalu berimplikasi pada hukum yang nikah baginya.

Menurut, Sa‘id Musthafa Al-Khin dan Musthafa Al-Bugha menjelaskan berbagai hukum pernikahan. Pertama, sunah. Hukum sunah sebagaimana yang telah disabdakan oleh baginda rasul dalam haditnya. Sunah ini menjadi hukum asal nikah. Kapan orang dihukumi sunah dalam menikah? Pada saat seseorang memang sudah mampu untuk melaksanakan pernikahan.

Kedua, Sunah ditinggalkan. Hukum ini berlaku bagi seseorang yang menginginkan pernikahan namun terbatas dari sisi harta. Orang seperti ini dikhawatirkan akan mengalami kesulitan dalam menafkahi istrinya. Seseorang yang dalam kondisi seperti ini sebaiknya menyibukkan diri untuk mencari kekayaan, beribadah dan berpuasa.

Ketiga, Makruh. Hal ini berlaku bagi seseorang yang tidak ingin menikah. Penyebab tidak ada keinginan bisa bermacam-macam seperti karena penyakit, trauma dengan lawan jenis atau yang lain. Disamping itu juga tidak memiliki kelebihan harta unutk menafkahi calon istrinya.

Keempat, Lebih Utama Jika Tidak Menikah. Hukum keempat ini melekat pada seseorang yang sebenarnya memiliki kemampuan menafkahi calon keluarga, namun dalam kondisi tidak menikah. Alasan tidak butuh menikah karena memang sedang kondisi perang dan lain-lain.

Kelima, Lebih Utama jika Menikah. Keutamaan menikah ini berlaku bagi orang yang telah memiliki kemampuan dari sisi harta, tidak sibuk dalam ibadah atau menuntut ilmu. (Muhammad Ibnu Sahroji, 2017.)

Proses yang mengawali pernikahan ini berbeda-beda. Ada yang yang menemukan jodohnya sendiri namun ada juga yang dijodohkan oleh orang tua.

Apapun proses yang mengawali dalam pernikahan selalu saja akan ada dinamika dalam proses penyatuan psikologis. Pernikahan yang dengan menemukan jodohnya sendiri tidak ada jaminan kondisi rumah tangga akan cepat harmonis. Sebaliknya pernikahan yang diawali proses perjodohan bukan berarti hubungan tidak cepat harmonis.

Poin penting dalam proses menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga adalah saling menyadari psikologi masing-masing pasangan. Awal pasangan mengarungi bahtera rumah tangga hampir pasti mengalami dinamika yang luar biasa. Pertengkaran hampir tak pernah bisa di hindarkan. Dan mungkin saja pertengkaran itu selalu ada sampai salahsatunya menghadap Allah.

Pertengkaran bukan merupakan hal yang tabu dalam jalinan rumah tangga. Adanya sebuah pertengkaran menunjukkan keluarga tersebut dalam kondisi dinamis. Artinya terjadinya sebuah pertengkaran bukan berarti keretakan hubungan sudah terjadi atau sebagai pertanda hubungan akan segera berakhir. Asalkan kedua insan yaitu suami dan istri mampu mengelolanya dengan baik.

Sekali lagi bahwa pertengkaran ini sebuah kelaziman, maka yang terpenting adalah bagaimana keduanya dapat berkreasi. Sehingga menemukan satu formula yang bisa juga disebut dengan “SENI BERTENGKAR”.

Dengan menemukan formula baru dalam dimanika kehidupan keluarga yang disebut dengan seni bertengkar. Masing-masing pihak akan mampu memahami perbedaan psikologis keduanya. Dengan mehami perbedaan tentu tidak lagi menuntut seperti apa yang dipikirkan. Biasanya sebuah pertentangan ini terjadi karena keinginannya tidak dapat dipenuhi oleh pasangannya.

Psikologis perempuan ini memang berbeda dengan laki-laki. Sering saya katakan bahwa laki-laki ini “TIDAK BERPERASAAN”. Namun perempuan “TIDAK MEMILIKI OTAK”. Ini bukan sebuah justifikasi ekstrem yang ingin saya tunjukkan. Tetapi sebuah gambaran bahwa kedua jenis kelamin ini memiliki perbedaan yang luar biasa. Hal ini saya kira sejalan dengan alasan mendasar pemersatuan antara keduanya.

Misalkan kedua jenis kelamin ini sama dari berbagai sisi, terutama psikologisnya. Untuk apa mereka diciptakan berpasang-pasangan? Sebagaimana forman Allah surat Ar Rum ayat 21.

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Ayat diatas menyatakan sebagai tanda kekuasaan Allah, manusia diciptakan berpasang-pasangan agar merasa tentram. Untuk memperoleh rasa tentram ini salah satunya dengan memahami sebuah perbedaan yang diciptakan Allah sebagai tanda kekuasan-Nya.

Tertarikkah misalkan ciptakan sama? Saya rasa tidak. Kecuali memang orang yang sudah memiliki kelainan sehingga tertarik dengan sesama jenis.

Bayangkan misalkan arus listrik ini dibuat positif tanpa adanya tentu lampu tidak menyala. Maka dibuatkan positif dan negative sehingga ada arus yang mengalir dan lampu dapat menyala terang.

Seorang laki-laki memang kurang memiliki kepekaandan perempuan juga jangan selalu terbawa perasaan. Laki-laki memiliki kecenderungan berfikis logis. Selama sesuatu itu masuk akal maka akan mudah di terima. Sedangkan akal sendiri sering berfikir sebab-akibat. Berbeda halnya dengan perempuan. Perasaanya sangat kuat. Gelaja kehidupan yang begitu lembut yang tak mampu tak masuk akal mampu ditangkapnya. Akibatnya perempuan ini sering terbawa perasaan atau baperan.

Sebagai penutup mari bertengkarlah dengan indah sampai menjadi sebuah seni. Dengan seni bertengkar keluarga yang sakinah, mawadah dan warrahmah akan terwujud. Aamiin