“ilmu iku kudu dadi petunjuk”
Kakak ipar merupakan guru PNS bahasa inggris. Rutinitas harian
mengajar di MTs N Demak. Semua jenjang pendidikan formal yang dilalui berupa
sekolah umum. Selain sekolah formal tidak ada jenjang pendidikan yang di lakoni,
artinya sama sekali tidak pernah menempuh pendidikan Pesantren ataupun Madrasah
Diniyah (sekolah sore).
Semasa usia sekolah, ilmu agama hanya diperoleh dari guru PAI. Sedangkan
sekolah umum hanya mengalokasi 2 jam pelajaran dalam seminggu. Berdasarkan
pengalaman dan hasil diskusi ilmiah memang sulit sekali memaksimalkan proses
pembelajaran dengan waktu yang relative sedikit. Alhasil keterbatasan alokasi
waktu berbanding lurus dengan minimnya capaian kompetensi siswa.
Kakak ipar adalah seorang anak yang di didik dilingkungan keluarga
yang memang tidak agamis. Bapak dan Ibunya adalah seorang guru SD. Rutinitas
pekerjaan sebagai seorang guru PNS di SD menjadi salah satu penyebab keluarganya
jauh dari nilai-nilai agama. Hari demi hari berlalu dengan suasa gersang. Lantunan
ayat-ayat suci Ilahi jarang sekali terdengar, rutinitas sholat tidak terlihat, dan
saat ada acara bancaan saja terdengar bacaan kalimah thoyyibah.
Lingkungan tempat tinggal memang tidak mengindikasikan adanya semangat
keberagamaan yang tinggi. Hanya ada satu Mushola yang menjadi pusat kegiatan
keagamaan. Kegiatan mengaji di Mushola juga tidak dikelola dengan baik. Selain Mushola
juga tidak ada pondok pesantren ataupun Madrasah Diniyah sebagai pusat
pendidikan keagamaan bagi anak-anak.
Pengalaman proses pendidikan tidak efektif yang selama ini telah
dijalani ternyata memberikan pengaruh besar yakni berupa minimnya pengetahuan
dan pengamalan nilai-nilai religius. Hal ini memang bukan hal yang aneh. Sebab,
menurut Ki Hajar Dewantara ada 3 pusat pendidikan yakni sekolah, keluarga dan
lingkungan. Kebetulan dari tiga pusat pendidikan tersebut berjalan seiring
seirama, namun bukan mendukung proses pendidikan tetapi sebaliknya. Memang tidak
mengherankan jika kemudian proses pendidikan tidak berjalan secara efektif. Ketiga
seperti bersepakat untuk tidak memberikan yang terbaik.
Minimnya pengetahuan dan pengalaman dalam bidang agama ternyata
bukan akhir dari kehidupan. Alhamdulillah setelah menikah, si kakak dengan
sabar mendidiknya dalam hal agama. Cara berpakaian, rutinititas keagamaan,
intensitas membaca al-quran, dan pengamalan agama yang lain berubah 180
derajat. Boleh dibilang mendadak sholehah. Dalam kurun waktu yang
singkat kehidupannya berubah. Semula jauh dari nilai-nilai keagamaan berubah menjadi
sangat dekat. Bukan hanya itu, seluruh keluarga bahkan lingkungan juga ikut
berubah menjadi agamis.
Poin besar dari sosok kakak ipar, ia memang nol besar dalam urusan
agama. Namun, mengindikasikan memiliki keteguhan dalam mengamalkan ilmu agama. Akupun
yang pernah mengenyam pendidikan keagamaan tidak hanya formal bahkan pesantren merasa
takjub. Pada satu sisi juga merasa malu.
Usia pernikahan yang sudah berlangsung lama belum juga memiliki
keturunan tidak membuatnya putus asa dalam menjaga keharmonisan keluarga. Do’a dan
usaha yang dilakukan untuk memperoleh momongan yang belum juga terlihat
hasilnya, tetap membuatnya tetap berhusnudzan kepada Allah.
Sampai akhirnya sampailah pada titik tertentu. Banyaknya gaji yang
diperoleh tidak hanya dinikmati sendiri sendiri namun selalu di sedekahkan
kepada orang lain. Sedekah selalu diutamakan kepada orang yang susah, tempat
ibadah, fakir miskin dan anak yatim. Bahkan anggota keluarga yang terhitung
memiliki tingkat ekonomi menengah juga ikut merasakannya.
Agustus 2019, ia jatuh sakit terdeteksi kanker rahim. Semua dibuat
kaget dengan berita ini. Harapan memiliki keturunan sirna seketika. Beberapa waktu
kemudian, dokter menyarankan untuk dioperasi. Tanpa berfikir panjang tawaran
tersebut di iyakan. Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Kesehatanpun berangsur-angsur
membaik. Semua terlihat baik-baik saja.
Ternyata tidak sangka pada bulan Agustus 2020. Kondisi kesehatannya
menurun. Menurut hasil pemeriksaan medis, hatinya mengalami pembengkakan.
Kami yang sedang tinggal diluar kota, seketika kaget mendengar
informasi tersebut. Semakin hari, kondisinya semakin memburuk. Banyak hal yang
membuat kami sekeluarga tidak dapat menjenguk. Hanya do’a yang mampu kami
berikan.
Hari minggu, 20 September 2020 tepat pukul 05.00 WIB ada informasi
bahwa beliau meninggal. Seketika badan terasa lemes. Segera kami berkemas-kemas
untuk takziah, berharap masih bisa melihatnya.
Sesampainya dirumah duka. Kondisi sudah terlihat sepi rupanya
jenazah sudah dimakamkan 3 jam sebelumnya. Isak tangispun tak tertahankan.
BUkti kesedihan tidak dapat melihatnya untuk yang terakhir kali..
Subhanallah, kesedihan
inipun cepat berlalu setelah mendengar cerita begitu banyaknya orang yang
mensholati, banyaknya rombongan yang ikut membacakan tahlil, dan satu lagi yang
luar biasa beliau meninggal dalam keadaan tersenyum.
Maha suci Allah, kami merasa senang sekaligus sedih. Senang dengan munculnya
tanda-tanda khusnul khatimah. Sedih karena merasa belum sebaik beliau
dalam menjalankan agama. Merasa kerdil dalam hal rutinitas keagamaan. Masih
banyak ilmu yang belum diamalkan.
Menurut istriku beliau adalah sosok yang luar biasa. Hari-harinya tidak
disibukan pengalaman pengatahuan agama meskipun sedikit. Ilmunya mampu menjadi
cahaya. Sebagaimana dawuh Hadaratus Syekh Romo Yai Ahmad Asrori al-Isaqi, r.a “ilmu
iku kudu dadi petunjuk”
Pada saat masih sehat beliau pernah bercerita kepada istriku “alasannya
banyak bersedekah, berangkat dari sebuah kesadaran tidak memiliki keturunan”. Menurut
beliau “sanguine mati seng ra pernah putus pahalane ono telu : 1. Sedekah 2.
Anak sholeh 3. Ilmu yang bermanfaat”. Beliau Pernyataan itu sesuai dengan
haditsnya rasulullah :
“Jika seseorang
meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu):
sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no.
1631)
Tumbuh kesadaran untuk memperoleh keturunan dan memiliki ilmu yang bermanfaat
itu sulit. Tanpa berfikir panjang pilihan itu yang diambil.
Tidak memiliki keturunan bukanlah akhir segalanya. Realitas
diatas dapat dijadikan obat bagi pasangan yang tidak memiliki keturunan.
Cara pandang yang tidak tepat seperti “le ora nduwe
keturunan, terus ora ono seng ngrumati lek es tuwo” harus segera dirubah. Segera
sadari, rahmat Allah ternyata begitu luas. Masih banyak cerita orang yang tidak
dikarunia keturunan, namun meninggalkan dunia ini dengan tanda-tanda dirihai
Allah. Lagipula tidak ada kepastian hidup didunia sampai tua.
Memiliki anak bukan jaminan, kelak masa tua akan di
rawat dengan baik. Tidak ada kepastian anak membalas pengorbanan orang tua. Banyak
kasus, anak menyengsarakan orang tuanya.
Berhentilah berputus asa dari rahmat Allah. Tugas manusia
adalah berdoa dan berusaha. Urusan pemberian semua otoritas Allah. Selama sudah
mampu menempatkan diri menjadi hamba yang baik, rahmat Allah pasti akan diterima.
Entah cepat atau lambat, sekarang atau besok, di dunia ataupun di akhirat.
Jalan kebahagiaan tidak harus memiliki anak, banyak jalan
lain yang membahagiakan.
Semoga kita semua sadar , anak bukan hiburan tetapi
amanah. Bagi yang tidak memiliki keturunan jangan bersedih, sebab akan selamat
dari pertanggungjawaban tentang anak.
Segera bangkit. Cari amalan lain yang mendatangkan
rahmat Allah.